Browse By

Short Story #244: Maaf

“Gimana mudiknya?” Joanna bertanya setiba di kantor ke Frans, teman sekantornya.

“As always, macet.” Frans menjawab tanpa memindahkan pandangan dari layar laptopnya.

“Ya kalo ga macet bukan mudik namanya.” Joanna merespon sambil kemudian duduk dan membuka laptopnya di mejanya, yang terletak di sebelah meja Frans.

“Ya gitu deh.”

“Trus?”

“Trus apa?”

“Trus, kumpul keluarganya seru?” Joanna menunggu Frans bercerita hingga menghadap ke arahnya.

“Well.. tipikal kumpul keluarga, lah.” Frans menjawab datar.

“Dapet ‘the kapan’ questions?”

“Udah jelas.”

Joanna diam sejenak. Menunggu Frans untuk bercerita lebih lanjut. Setidaknya, menunggu Frans untuk menoleh ke arahnya. Tapi…

“Eh, mohon maaf lahir batin ya. Kali-kali gue ada salah selama ini.” Joanna menyodorkan tangannya hendak bersalaman.

Frans berhenti menatap laptopnya, lalu menoleh sejenak ke arah Joanna dan lalu mengubah posisi duduknya.

“Oke.” jawabnya sederhana sambil bersalaman dengan Joanna, lalu selesai.

“Lho?”

Frans menoleh sesaat seperti kebingungan.

“Lo ga maaf-maafan juga?”

“Well… gue yakin lo udah pasti maafin gue kan. Jadi ya…”

“Frans!” Joanna gemas sambil mencubit teman sekantornya itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: