Browse By

Short Story 239: Aman

“Gimana Jepang? Asik kan jalan-jalan di sini?” Ita bertanya pada Topan, sepupunya yang datang berkunjung ke Tokyo sambil liburan. Mereka tengah berjalan santai sore di Yoyogi setelah menjelajah Shibuya.

“Well, buat jalan-jalan oke. Tapi kalo buat kerja, kalo gue dibayar minimal 4x dari biaya hidup di sini, baru gue mau.” Topan memberitahu.

“Kenapa?”

“Kaya’nya kerja di sini melelahkan banget, ya. Jam kerjanya panjang, dan mereka cenderung sungkan sama yang senior. Mirip orang Jawa.” Topan berkomentar.

“Ah, perasaan lo doang kali.” Ita bereaksi. “Gue belom pernah nemu yang sungkan-sungkan begitu.”

“Mungkin karena lo masih kuliah kali, bukannya kerja.” Topan memberithau. “Dan itu keliatan banget pas gue naik subway bareng-bareng mereka di jam-jam sibuk.”

“Hmm.. bisa jadi ya.” Ita merespon. “Ya.. tapi seenggaknya kalo stay di sini ga perlu khawatir soal kejahatan. Segala macem otomatis, banyak kamera pengawas, dan lain-lain.”

“Yeah, right.” Reaksi Topan seakan meremehkan.

“Lho kenapa?” Ita penasaran. “Jelas kan mau pulang jam berapapun ya aman-aman aja. Buktinya kaya’ beberapa malam yang lalu itu, lo pulang jam berapa tuh? Jam 12? Tenang kan? Aman, ‘kan?”

“Well, mungkin maksud lo aman dari hal-hal jahat yang bisa dilakukan orang lain kan? Ga perlu takut sama orang lain gitu, ‘kan?”

“Iya. Emang ga aman gitu?”

“Bukannya ga aman.” Topan memberitahu. “Justru karena saking amannya, gue malah takutnya sama yang bukan orang.”

2 thoughts on “Short Story 239: Aman”

  1. Zulham Efendi says:

    topan kalau yang besar bisa menimbulkan kerusakan yang hebat,sudah saya sering nonton di acara tv

  2. zulhaq says:

    jangankan kerja di jepang sih, kerja di perusahaan jepang yang beberapa pimpinannya ada orang jepang aja kerja tuh full time dalam arti yang sebenarnya.

    Gak ada cerita bisa rumpi sana rumpi sini sama temen kerja kek kita kita pada umummnya. ((((KITAAAA))))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: