Browse By

Short Story #234: Alone

Entah apa yang ada di dalam pikirannya ketika Risa hendak mengambil gelas kopinya, namun justru menumpahkannya. Setelah menyadari tumpahan kopi langsung tersebar ke meja, ia buru-buru menyelamatkan kertas-kertas kalkir yang memberinya penghidupan.

Sambil mengumpat pelan, ia berdiri, mengamankan kertas-kertas kalkir, dan mulai mengeluarkan tisu untuk menyeka tumpahan kopi di meja.

Saat itulah, seorang pria menghampirinya.

“Aku bisa melakukannya sendiri, terima kasih.” Risa memberitahu dengan sopan tanpa melihat siapa pria yang membantunya menyeka kopi.

“As always.” pria itu berkomentar sambil meneruskan membantu menyeka kopi.

Sempat terdiam sejenak, Risa lalu mendongak untuk melihat sumber suara yang familiar tersebut.

“Hendra!” Risa memekik pelan.

“Hai.” Hendra balas menyapa.

Risa menyodorkan tangannya untuk bersalaman yang disambut Hendra. Lalu, setelah memastikan tak ada lagi tumpahan kopi di meja ataupun di kursi, keduanya duduk berhadapan.

“Kamu lagi di sini?” Risa bertanya.

“Iya, lagi off duty.”

“Sampe kapan?”

“Belom tau. Kalo liat jadwal sih, sampe sebulan lagi.”

“Wih.. lama juga. Beda ya kalo udah naik level, off duty aja bisa lama banget.” Risa berkomentar.

“Iya, beda sama waktu masih jadi level kroco dulu ya..” Hendra merespon. “Kamu masih suka gambar?”

“Ya.. kalo yang kamu maksud ‘masih suka gambar’ dengan kertas-kertas ini yang bisa ngehasilin duit, maka jawabannya IYA dengan huruf kapital.” Risa menjawab.

“Makin lancar dong.”

“Apanya?”

“Ya itu.. ngegambarnya, maupun juga orderan project-nya.”

“Ya.. Alhamdulillah. Cukup buat bikin aku ga perlu kerja kantoran, bisa nyalurin apa yang ada di otak aku, dan yang paling penting.. aku suka ngerjainnya.” Risa memberitahu.

“Kapan-kapan, aku boleh dong minta tolong project.” Hendra meminta.

“Boleh banget.” jawab Risa. “Rumah? Apartemen? Atau apa?”

“Rumah. Di sini.”

“Oke. Kabarin aja besok-besok. Masih ada nomerku kan?”

“Tunggu. Aku cek dulu.” Hendra mengeluarkan ponselnya, lalu mengecek nama Risa. “Yep, masih ada. Nomermu masih sama seperti yang kamu kasih dulu itu, ‘kan?”

“Kalo aku ganti nomer telepon, nanti klien-klienku yang dulu-dulu, susah kalo mau rekomen aku ke temen-temennya.”

“Ah, agreed. Business matters.” Hendra menyetujui sambil kemudian minum kopinya yang masih utuh.

“Kebetulan banget ya kita bisa ketemuan lagi setelah sekian lama.” Risa berkomentar. “By the way, sekadar penasaran, aku punya satu pertanyaan yang biasanya aku kasih ke mereka yang minta aku bantuin di project-nya.”

“Oh ya? Apa itu?”

“Umm… Apa sih goal dari project yang mau dibuat itu? Dalam hal ini, apa goal dari project rumahmu itu?”

Hendra diam sejenak. Ia memandang langit-langit café sejenak sebelum menjawab. “Aku pengen sebuah tempat buat menyendiri. Tempat buat aku sendiri, jadi aku yang bukan sehari-hari orang lain liat. Sebuah tempat yang… let say, bisa jadi tempat ekspresi aku sendiri.”

“Sendiri? Ga ada nyonya?” celetuk Risa sambil tersenyum kecil.

“Ya.. kamu boleh jadi nyonya-nya kalo kamu mau.” Hendra tak disangka langsung merespon.

Risa lalu tertawa kecil sambil dalam hatinya menyesal melontarkan celetukan tersebut. Yah, mungkin Hendra bukan tipe cowok yang aku pacarin selama ini, tapi…

“Tempatnya bakal jadi karakter kamu banget kaya’nya.”

“Maksudnya?”

“Ya.. sejauh yang aku tahu, kamu kan emang suka begitu. Terlepas dari sifatmu yang mudah blend in ke komunitas, you are also liked to be alone either you want it, or you just need it.” Risa menilai.

Hendra mendengus. “Sometimes, when I say I want to be alone, I actually meant I want you to find me.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: