Browse By

Short Story #231: Teman Perjalanan

“Next stop: Europe!” Vanya berseru sambil mengepalkan tangannya setelah selesai membaca sebuah email di komputernya.

“Udah dapet visanya?” Gandhi, rekan kerjanya bertanya.

“Yoi. Baru aja dapet notifikasi kalo visa Schengen gue udah approved.”

“Wih.. mantap lah.” Gandhi kembali berkomentar sambil duduk dan menyimpan cangkir kopinya di meja kubikelnya. “Jangan lupa oleh-oleh ya.”

“Tambler? Bisa diatur. Pastiin aja semua kerjaan gue lo handle sepanjang gue jalan.”

“Lah…”

“Kan semua harus ada imbal baliknya, tauuuu…” Vanya memonyongkan bibirnya sambil memegang pinggang.

“Gue bayarin aja deh tamblernya.” Gandhi langsung berdiri di depan Vanya, lalu mengeluarkan dompetnya.

“Dih, serius amat sih lo.” Vanya justru berbalik duduk lagi di kursinya meninggalkan Gandhi yang merasa kecele.

Gandhi kemudian berjalan mendekati kursi Vanya, lalu memegangnya dari belakang.

“Ga bosen lo jalan-jalan sendiri mulu?”

Vanya langsung memutar kursinya dan melihat ke arah Gandhi yang berdiri depannya. “Maksud lo?”

“Penasaran aja.. lo selama ini jalan-jalan sendiri mulu, emang ga pernah ada yang mau nemenin atau emang lo yang milih buat jalan-jalan sendiri?”

“Kenapa lo nanya gitu?” Vanya justru bertanya balik. Lagi.

Gandhi menarik napas. “Yaudah, anggep aja gue ga nanya pertanyaan yang tadi.” Ia kemudian balik menuju kursinya.

Gandhi sudah tahu jika Vanya menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, berarti ia tak ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Apalagi, jika sampai dua kali.

Hening beberapa saat, Gandhi kembali melakukan aktivitas pekerjaannya. Diam-diam, Vanya melihat ke arahnya dari posisinya tadi.

“Gue ga pernah nolak buat ditemenin sih.. Cuman ya, selama ini ga pernah ada yang nawarin diri buat nemenin gue jalan-jalan.” Vanya sedikit bergumam lalu berbalik ke mejanya. Walau begitu, Gandhi terdiam dan mendengar semua kata-katanya dengan jelas.

Gandhi menarik laci mejanya lalu mengeluarkan paspor serta beberapa berkas dari dalamnya. Ia kemudian meraih semua barang tersebut, lalu berjalan mendekati Vanya dari arah belakang.

“Pastiin visa lo masa berlakunya panjang ya.” Gandhi menaruh berkas-berkas tersebut di meja Vanya, di samping tangannya sehingga bisa terlihat dengan jelas.

“Lah, ini kapan lo beli dan ngurusnya?” Vanya penasaran.

“Udah. Lo ga perlu tau deh. Yang perlu lo tau adalah, siapa yang bakal ngurusin kerjaan kita selama kita ga ada.” Gandhi kembali ke kursinya.

Vanya kembali memutar kursinya. Menatap punggung Gandhi tak percaya.

“Apa sih yang bikin lo ngelakuin ini?”

Dari belakang, terlihat Gandhi kembali menghela napas.

“Kadang lo harus berhenti coba ngedapetin sendiri hal-hal di depan mata yang pengen lo tuju sepanjang perjalanan lo. Soalnya, bisa jadi ada dan banyak hal-hal atau orang-orang di samping lo, yang udah siap buat lo rangkul dan mau jadi temen terbaik lo sepanjang perjalanan itu.”

One thought on “Short Story #231: Teman Perjalanan”

  1. Patricia says:

    Suka deh pesan terakhirnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: