Browse By

Short Story #230: Letting Go

“Mendingan kamu relain aja deh.” Frans memberitahu Sofia yang sudah beberapa hari masih enggan untuk bersuara. “Dia ga pantes kamu tangisin gini.”

Sofia menoleh sejenak ke Frans, lalu kembali melihat ke arah jendela kamarnya yang tertutup. Walau begitu, sinar mentari menerobos kisi-kisi penutup jendela sehingga menciptakan garis-garis cahaya.

“Jangan sampe hidup kamu sia-sia buat nangisin orang yang belum tentu peduli sama kamu.” Frans kembali memberi saran.

Sofia sedikit menggerakkan tubuhnya dengan enggan. Ia masih enggan menghadap Frans yang setiap hari selalu mengunjunginya di dalam kamarnya yang temaram karena lampu selalu ia matikan.

Frans mengusap pundak Sofia pelan-pelan. Hatinya hancur mendapati Sofia dalam kondisi seperti ini sejak beberapa hari terakhir. Tepatnya, sejak Sofia mengetahui bahwa lelaki yang telah memacarinya selama beberapa tahun, akhirnya menikah dengan orang lain tanpa informasi apapun sebelumnya. Tanpa pemberitahuan atau ajakan putus.

“Kamu perlu inget kalo masih banyak orang yang perhatian sama kamu. Sayang sama kamu.” Frans kembali berusaha memberi semangat. “Termasuk aku.”

“Aku tahu.” Sofia akhirnya menjawab. Suaranya parau.

“Kalo gitu, kenapa kamu masih begini?” Frans bertanya lagi.

Sofia diam kembali. Ia kembali bergerak, kali ini mendekati jendela. Membelakangi Frans.

Beberapa menit larut dalam hening. Frans hanya bisa memandangi Sofia dari belakang, tanpa berani untuk mendekati dan menyentuhnya kembali.

“Mulai besok, kaya’nya aku ga bisa ke sini lagi, nemuin kamu.” Frans memberitahu sambil bersiap untuk pergi.

“Kenapa?” Sofia bertanya lagi dengan suara parau dan masih tak mau menghadap Frans.

“Karena aku punya prinsip, dan aku mau jalanin prinsip itu.” Frans memberitahu sambil mendekati pintu kamar Sofia dan membukanya. “I’m going to find my own happiness.”

Sofia diam.

“Sometimes letting something go will give you everything. Because sometimes, the best way is to let it go, and happiness will come.” Sambil melangkah keluar kamar, Frans menghela napas. “And I’m letting you go.”

Sofia memejamkan matanya saat kemudian pintu kamarnya terdengar menutup.

2 thoughts on “Short Story #230: Letting Go”

  1. Tika says:

    Sometimes letting something go will give you everything (you need at that moment, because how can one moves on if one is still tied up to something?)

  2. Hanif Mahaldi says:

    harus ada yg kita relakan, ya walau merelakan kadang lebih pahit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: