Browse By

Short Story #224: Hurt

Sofia membuka pintu apartemen perlahan, lalu masuk. Ia berusaha tak menghasilkan suara sedikitpun, tapi percuma karena pria yang tinggal di apartemen yang ia masuki sudah berada di dapur sejak tadi.

“Malam yang seru, ya?” Imam bertanya sambil meneguk minumannya.

Sofia terkejut sambil masih menghadap pintu yang sudah menutup. Ia berbalik dan mendapati Imam di dapur.

“Kamu masih bangun?” Sofia bertanya. Mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Tiap malem juga aku kebangun jam segini.” Imam memberitahu sambil menyimpan gelasnya di meja dapur, lalu menuju kulkas.

“Oh…” Sofia berkomentar. “Kalo gitu jangan lama-lama kebangun. Nanti kamu susah bangun pagi dan pergi ke kantor karena kurang tidur.”

Sofia lalu lanjut berjalan menuju kamarnya, namun kemudian berhenti karena perkataan Imam.

“Begitu aja?”

Sofia membalikkan badannya. “Apa lagi maumu?”

“Aku kan tanya, begitu aja?”

“Maumu apa dengan bertanya begitu?”

“Kamu tinggal jawab, aku kan bertanya.” Imam bersikukuh, nada suaranya ia usahakan tetap tenang.

Sofia menghela napas. “Iya. Begitu saja.”

Imam tak menjawab. Ia hanya melihat Sofia yang berjarak beberapa langkah di depannya.

“Ada lagi? Aku capek.”

“Pasti capek lah kalo tiap malem hangout mulu sampe dini hari begini.” Imam berkomentar.

“Apa urusanmu?” nada suara Sofia meninggi.

“Semua urusanmu ya urusanku! Sejak ijab kabul!” balas Imam dengan nada suara yang sama-sama meninggi. “SEMUANYA!”

Giliran Sofia diam.

“You know I’m sorry for what has happened.” Sofia memberitahu. “I never try to do anything to hurt you.”

“I know you didn’t try it.” Imam mendengus. “But you did make me hurt.”

2 thoughts on “Short Story #224: Hurt”

  1. Ceritaeka says:

    Oooh udah married. Kenapa si Imam nggak diajak hang out bareng sampe subuh aja? 😀 *sesat* Hihihi

    1. Billy Koesoemadinata says:

      iya, kenapa ya? *sama-sama mikir*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: