Browse By

Short Story #223: Sensitif

“Aku penasaran apa sebenernya yang kamu liat dari dia.” celetuk Krisna di tengah perjalanan menuju Shinjuku menggunakan subway jalur Oedo.

“Maksudmu Aditya?” Wulan yang duduk di sampingnya bertanya.

“Ya siapa lagi, toh?” Krisna melirik sebentar ke arah Wulan, lalu kembali ke buku yang tengah dibacanya. “Kecuali ada orang lain yang nembak kamu setelah kejadian di Shibuya itu.”

“Ya… karena dia baik.” Wulan memberitahu. Kembali memandang ke kursi seberang di gerbongnya.

“Itu aja?”

“Ya, itu sudah mewakili semuanya.” Wulan memberitahu.

“Oh.”

“Kamu cemburu?” Wulan balik bertanya.

“Kenapa kamu tanya begitu?” Krisna menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

“Sikapmu menunjukkan begitu.” Wulan memberitahu. Masih menatap ke depan.

“Emangnya keliatan?” Krisna bertanya lagi. Mencoba dengan nada datar.

“Wanita itu sensitif, Krisna. Wanita itu bisa ngerasain hal-hal di sekitar mereka hanya dengan sekali melihat atau merasa.” Wulan memberitahu.

Krisna menghela napas.

“Oke. Kamu menang.” Krisna memberitahu.

“Apanya yang menang?”

“Iya. Aku emang cemburu.” Krisna memberitahu. “Apalagi kamu bilang kalo wanita itu sensitif.”

“Nah kan.”

“Tapi aku ada satu hal yang penasaran sih..” Krisna menutup bukunya, dan memasukannya ke dalam tas ranselnya, lalu berdiri di depan Wulan yang masih duduk.

“Apa itu?”

Krisna diam sejenak. Ia melihat ke arah Wulan sejenak sambil sudut matanya melihat ke arah luar jendela. Kereta melambat. Sebentar lagi tiba di Shinjuku.

“Kalo kamu emang sensitif, kenapa selama ini kamu seakan ga pernah tau kalo aku sebenernya sayang kamu lebih dari apapun? Bahkan lebih dari Aditya?” Krisna bertanya, dan sebelum Wulan berhasil menjawabnya, ia sudah keluar dari pintu gerbong ke tengah-tengah jutaan orang yang sibuk lalu lalang di stasiun Shinjuku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: