Browse By

Short Story #222: Penerimaan

“Harusnya kalian udah ga seperti ini lagi.” Jenny berkomentar saat Alya mendekatinya. “Udah terlalu lama.”

“Maksudmu?” Alya langsung merespon sambil merebahkan badannya di kursi pinggir kolam.

“Iya. Harusnya kalian udah ga pacaran.”

“Aku ga mau putus dari dia. Aku udah terlalu sayang sama dia.”

“Ya maksudku juga begitu. Kalo kamu udah terlalu sayang, harusnya udah nikah.” Jenny berkomentar lagi.

Alya menarik napas, lalu menempelkan lengannya ke mata. Membiarkan badannya tersinari matahari sementara matanya terhalang dari silau.

“Aku serius.” Jenny memberitahu sambil menarik tangan Alya.

Alya menatap Jenny dengan tampang sebal. Ia lalu duduk berhadap-hadapan dengan Jenny yang sedari tadi duduk di kursi pinggir kolam.

“Hubunganku dengannya, bukan urusanmu.” Alya memberitahu dengan nada ketus.

“Dia belom pernah ngepropose?” Jenny menebak.

Alya memutar bola matanya. “Itu dia masalahnya.. sudah beberapa kali.”

“Dan kamu selalu menjawab tidak?”

Alya diam sejenak. “Aku tidak menjawab. Aku hanya bilang minta waktu, dan setelahnya ya… kita berjalan lagi seperti biasa.”

“Tapi kamu sendiri sebenernya mau ga sih sama dia?” Jenny penasaran. “Maksudku, pernah ga sih terbersit di pikiranmu kalo kamu kelak bakal ngabisin hidup sama dia?”

“Ya… pernah sih.”

“Kamu seneng kan kalo lagi sama dia?”

“Iya.”

“Trus, kenapa ga mau jawab?”

Alya diam lagi. “Seluruh kegembiraan dan keinginanku untuk menjawab IYA terhadap lamaran dia, menguap seketika setelah dia menyelesaikan kalimatnya.”

Jenny mengangkat sebelah alisnya.

“Aku takut kelak setelah menjawab IYA, ternyata banyak banget perbedaan di antara kita.” Alya berkilah. “Aku takut semua yang selama ini terlihat, sebenarnya menyimpan sesuatu yang tersembunyi, dan justru lebih sering terlihat bedanya, ga cocoknya setelah aku jawab IYA.”

“Itu kan inti dari sebuah hubungan. Mengetahui seseorang yang jadi pasangan kita dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yang tersembunyi, maupun tidak. Yang cocok, maupun yang beda.” Jenny memberitahu.

“Tapi aku ga bisa kalo terlalu banyak bedanya.” Alya merespon. “Aku juga takut, dia ngeliat yang beda dari aku, ngeliat aku yang lain, dan kemudian dia nyesel, ujung-ujungnya dia yang justru nolak aku di saat aku mungkin udah kadung cinta mati sama dia.”

“Kamu sebenarnya takut terhadap perbedaan yang bakal terjadi, atau takut terhadap penolakan?”

Alya diam.

“Hubungan itu ga melulu soal kesamaan, kemiripan, persetujuan. Hubungan, apalagi yang serius dan bertahan lama, adalah soal kompromi akan perbedaan, kerjasama, penerimaan, dan kesempatan.” Jenny memberitahu. “Nah, kamu udah siap belum untuk kompromi akan perbedaan, kerjasama, penerimaan, dan kesempatan?”

Alya diam. Ia bingung hendak menjawab apa.

3 thoughts on “Short Story #222: Penerimaan”

  1. christin says:

    jadi bingung juga harus menjawab apa…

  2. Billy Koesoemadinata says:

    @Christin udah sering ditanya begitu ya?

  3. christin says:

    iya bil.. tapi biasanya aku jawabnya gak gitu, soalnya kan *ilang sinyal*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: