Browse By

Short Story #22: Pengantin yang Tertukar

Rina menghela napasnya. Ia sudah kehabisan cara lagi untuk meyakinkan Maya agar mau menghentikan niatannya.

“Loe bener-bener ga bisa gue berentiin, ya May..” Rina berkata pelan.

“Iya. Ga ada yang bisa nyetop gue dari apa yang bakal gue lakuin sekarang,” jawab Maya.

“Tapi kan nanti bakal jadi kehebohan May.. emang loe bakal kuat ngadepinnya?” Rina bertanya lagi.

“Ga peduli. Ini demi kebahagiaan Heru, kok!” Maya menjawab ketus.

“Tapi bukannya kalo nanti loe ga jadi ngelakuin, Heru tetep bahagia?”

“Iya, tapi dia ga bakal tau yang sebenernya… ini bukan soal kenyataan lagi Rin, tapi kebenaran!” jawab Maya yakin.

Rina akhirnya diam. Ia kehabisan kata-kata. Selain itu, memang sudah tabiat Maya yang sulit untuk dihentikan begitu memiliki sebuah niatan. Apapun konsekuensinya.

“Hadirin dimohon berdiri..” sebuah suara terdengar dari pengeras suara ruangan. Dan, kemudian sepasang pengantin memasuki ruangan. Dari wajah keduanya terpancar raut kebahagiaan bercampur dengan kegugupan.

“May…” Rina mengusap pundak Maya dengan berharap agar Maya melunak, dan mengikhlaskan. Tapi balasannya hanyalah, diam. Bahkan dalam hati Maya, makin tercipta niatan kuat.

Pengantin yang berjalan memasuki ruangan sudah berhenti di depan ruangan. Mereka kemudian duduk di kursi yang tersedia dan berhadapan dengan penghulu.

“Hadirin dipersilakan duduk kembali..” sahut suara dari pengeras suara.

Rina sudah duduk ketika ia menyadari bahwa Maya di sampingnya tetap berdiri. Ia langsung mendengar sedikit bisik-bisik dari sekitarnya. Kurang lebih, ia dapat mendengar keheranan mereka tentang Maya yang masih berdiri.

“May…” Rina berbisik sambil mencoba menarik Maya agar duduk. Tapi Maya menepiskan tangan Rina.

Dari kejauhan, Rina melihat penghulu mulai sibuk melongok-longok ke arah Maya. Begitu juga beberapa orang yang berdiri di samping pengantin.

“Ya, ada apa?” tanya penghulu tanpa menggunakan pengeras suara.

Maya bergeser ke ruang kosong di tengah-tengah barisan kursi. Dan tepat saat itu pengantin pria menoleh ke arahnya. Tiba-tiba saja, mukanya tercengang. Ia pun menoleh bolak-balik pada pengantin wanita di sampingnya, dan juga Maya.

“SAYA KEBERATAN DENGAN ACARA HARI INI!” Maya berteriak lantang. Seisi ruangan langsung terdengar terkejut.

Pengantin pria memegang pundak pengantin wanita, dan mereka sama-sama membalikkan badan. Wajah pengantin wanita terperangah, sementara pengantin pria langsung berdiri dengan tatapan bingung.

“Kamu siapa, sih? Kok berani-beraninya ganggu acara saya?!” teriak pengantin pria.

Maya bukannya menjawab, ia justru berlari menuju pengantin pria tanpa berpikir panjang. Hadangan beberapa orang ia lewati dengan penuh usaha.

Saat Maya sudah sedikit lagi tiba di dekat pengantin pria, pengantin wanita tiba-tiba berdiri dan menghalanginya. Seketika itu pula Maya seakan berhadapan dengan cermin.

“Mas Heru, aku ini Maya, Mas! Calon istrimu yang sebenarnya! Akulah yang seharusnya jadi penganti wanitamu!” Maya berteriak sambil mencoba mendorong pengantin wanita. “Bukan wanita ini yang kamu lamar di tengah-tengah kebun teh Puncak bulan Desember lalu!”

Seisi ruangan langsung riuh. Walau begitu, Heru terdiam. Lidahnya kelu.

Pengantin wanita masih coba menghadang Maya. Dandanannya sedikit terhapus karena ia bergulat dengan Maya yang masih mencoba mendekati Heru.

“Heru, kamu percaya pengantinmu atau wanita ini, sih?” pengantin wanita itu sedikit berteriak di tengah-tengah usahanya menghadang Maya.

“Mas Heru! Tolong percayai aku! Aku ga mau jadi pengantin yang tertukar! Jangan sampe juga kaya’ sinetron Putri yang Tertukar!” Maya berteriak lagi.

Heru kemudian bergerak. Ia mendekati Maya dan pengantin wanitanya yang kini tak lagi bergulat, namun saling mengunci.

“Wanita yang aku lamar, tentunya tahu kalo aku suka nonton Putri yang Tertukar…” sahut Heru pelan sambil menjauhkan kedua wanita yang berada di hadapannya.

Sambil menormalkan napas, Maya berdiri dan menunggu. Begitu juga pengantin wanita.

Heru kemudian menggenggam tangan pengantin wanita di hadapan Maya. Seketika hati Maya terasa sakit.

“Terima kasih, tapi kamu bukan wanita yang aku lamar walau wajahmu mirip,” sahut Heru sambil kemudian melepaskan genggamannya.

Seketika itu, rasa sakit di hati Maya langsung berganti menjadi kegembiraan yang meluap. Ia langsung memeluk Heru yang balas memeluknya.

2 thoughts on “Short Story #22: Pengantin yang Tertukar”

  1. Yahya Kurniawan says:

    Kamu berbakat bikin sinetron Bill. Aku gak mudeng sama jalan ceritanya.

  2. Billy Koesoemadinata says:

    @oomyahya aih,, makasih ooomm.. *anggep komen itu pujian* :lol:*emang lagi garing sih tapi* 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: