Browse By

Short Story #211: It’s Not About Never Losing

“Jangan bilang kalo kamu ragu.” Ferdinand menerka bahasa tubuh Amalia yang gelisah sedari tadi.

Amalia terdiam. Ia menatap Ferdinand di depannya lalu kembali menatap gelas kopinya yang mulai kosong. Belasan menit ia terdiam sejak Ferdinand datang. Padahal, ia sendiri yang mengajak Ferdinand untuk bertemu karena ia ingin mendiskusikan sesuatu.

“Aku ga tau.” Amalia akhirnya membuka suara.

Ferdinand menghela napas. Ia menyandarkan badannya ke kursi café yang keras.

“Take your time. Ga usah buru-buru.” Ferdinand memberitahu.

“Tapi waktunya semakin mendekat, Fer.” Amalia lekas merespon.

“Aku tau.” Ferdinand menjawab. “Tapi semuanya bisa diatur. Serahkan saja padaku.”

“Kenapa?”

“Karena aku percaya kamu butuh waktu buat lebih yakin. Karena aku percaya kamu pasti bakal ambil keputusan terbaik, yang ga akan bikin kamu nyesel selamanya.” Ferdinand memberitahu dengan bijak.

“Dari mana kamu tahu aku ga bakal nyesel?” Amalia bertanya.

Ferdinand mendengus. “My heart says so.”

Amalia terdiam. Ferdinand melihat ke salah satu jari manis di tangan Amalia yang tengah tersimpan di atas meja, lalu tersenyum kecil.

“Aku takut suatu saat nanti… aku mati rasa. Perasaanku ilang gitu aja.” Amalia beralasan.

Ferdinand diam sejenak. Wajahnya tenang. Teduh.

“Marriage is not always about never losing your feeling, it’s also about embracing it back each time you feel that you’ve lost it.” Ferdinand memberitahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: