Browse By

Short Story #210: Bersama-sama

“Lama-lama aku ga ngerti Andry.” Vania berkomentar sambil duduk di sofa.

“Maksudnya?” Melisa bertanya.

Vania memandang roommate-nya sekilas, lalu menarik bantal hingga menutup kepalanya sambil tiduran.

“Something bad happened?” Melisa bertanya lagi. Penasaran.

“Justru itu. Aku ga tau apa yang terjadi.” Vania memberitahu dari balik bantal.

Melisa pindah mendekati Vania. Ia duduk di dekat pinggangnya.

“Jangan bilang kalo feeling kamu ilang gitu aja.” Melisa menebak.

Vania membuka bantalnya. Ia melihat ke arah Melisa. Heran.

“Kenapa kamu ngomong gitu?”

Melisa tersenyum sekilas. “Wajar kok kalo perasaan bisa ilang gitu aja dalam sebuah hubungan.”

“Maksudnya?” giliran Vania yang penasaran.

“Hubungan itu kan perjalanannya naik turun. Mau gimanapun, pasti ada masanya kamu suka banget sama dia, kepengen banget sama dia, atau sebaliknya. Tapi ada juga masanya ga ada feeling apa-apa sama sekali.” Melisa memberitahu. “It happens.”

“Kalo sama-sama ngerasa ga pengen lanjutin hubungan lagi, gimana?”

Melisa dia sejenak.

“Kamu ngerasa seperti itu?”

“Mungkin.” jawab Vania singkat.

“Kalo dia?”

Vania mendengus. “Entahlah. Dia kaya’nya masih ngebet banget sama aku.”

“Hubungan itu bukan soal kamu mau sama dia, atau dia mau sama kamu. hubungan itu soal apakah kalian mau apa engga jalanin bersama-sama.”

One thought on “Short Story #210: Bersama-sama”

  1. Ceritaeka says:

    Tapi itu aku juga berlaku buat banyak hal bukan cuma cinta 😀 Kalau beli sesuatu kadang aku nanya, apakah kita berjodoh dan bisa langgeng jalan bersama? Contohnya sih beli rumah atau mobil 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: