Browse By

Short Story #207: Akhir yang Sempurna

“Kalo bisa balik ke masa lalu, kamu mau ngapain?” Citra bertanya pada lelaki yang tengah menggengam tangannya.

“Aku pengen perbaikin awal mula kita kenalan.” jawab Rangga sambil menatap Citra.

“Kenapa?” Citra bertanya kembali, ingin tahu.

Rangga menarik napas. “Rasanya, dulu kita kenalan ga cukup baik. Kenalan kok ya saling saingan dan musuhan.”

“Ya, namanya juga anak muda.” celetuk Citra sambil menaruh kepalanya di bahu Rangga. Angin laut sore meniupkan selendangnya.

“Iya, hormon yang lagi bergejolak berpengaruh juga kali ya.” Rangga menambahkan sambil kembali menatap cakrawala senja.

“Bisa jadi.”

Sepasang kekasih itu kemudian diam sambil menikmati waktu-waktu kebersamaan sore hari.

“Beneran pengen?” Citra kembali bertanya.

“Ya.. ga kepengen banget sih. Tapi kalo emang bisa, itu kaya’nya yang paling pertama aku lakuin.” Rangga memberitahu. “Kenapa?”

“Ya gapapa. Soalnya menurutku sih, mungkin itu yang justru bikin kita jadian sekarang.”

“Maksudmu?” giliran Rangga yang penasaran.

Citra menarik kepalanya, ia kini saling bertatap dengan Rangga.

“Ya.. kalo kita dulu ga musuhan, mungkin saat ini kita ga bakal jadian. Mungkin jalan cerita kita bakal beda.”

“Iya juga sih.” Rangga berkomentar. “Tapi kalo dari awal sampe akhir bagus kan, asik gitu kaya’nya buat jadi bahan cerita ke anak-cucu.”

Citra tersenyum. “Yang paling penting itu bukan sebaik atau sebagus apa kita memulai sesuatu, tapi sesempurna apa sih akhir yang bisa kita lakuin.”

4 thoughts on “Short Story #207: Akhir yang Sempurna”

  1. Tina Latief says:

    Mana dong mas kelanjutannya..
    apa yang terjadi kemudian?

    1. Billy Koesoemadinata says:

      kelanjutannya itu.. eng.. itu….

  2. chemud says:

    Tumben simple banget mas :’|

  3. greenfaj says:

    apa pun nama hubungannya, sebenarnya poin paling menarik ada di proses menjalaninya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: