Browse By

Short Story #203: Tak Ada Hal Baru

“Besok dateng?” Rasyid bertanya sesaat setelah memasuki dapur. Sebuah lembaran kertas terdapat di tangannya.

“Dateng ke mana?” Linda bertanya balik. Ia baru saja selesai meminum segelas susu.

“Ke sini.” Rasyid menyodorkan lembaran kertas yang tadi ia pegang, kepada Linda.

“Wah..” Linda berkomentar singkat. “Dia masih ingat aja sama kita.”

“Aku juga ga nyangka.” Rasyid merespon. “Tapi mungkin dia lebih ingat sama kamu.”

Linda menatap Rasyid yang sedang balik menatapnya.

“Aku udah ga ingat-ingat lagi, Id. Aku udah lupa.” Linda memberitahu. Kertas tadi masih di tangannya.

“Aku tahu. Aku tahu.” Rasyid berkomentar.

Linda kembali melihat kertas di tangannya.

“Jadi, besok dateng?” Rasyid kembali menanyakan hal yang sama.

“Ga tau. Kaya’nya engga.”

“Kenapa?”

“Aku ga mau nanti pas ketemu dia justru bikin hal-hal lama keinget lagi.” jawab Linda. “Liat undangan ini aja aku keinget beberapa hal.”

“Oh.”

“Emang kenapa?”

Rasyid menarik napas sebelum menjawab. “Kadang, kamu perlu menghadapi masa lalu kamu ketika ia hadir kembali. Untuk memastikan aja.”

“Memastikan apa?”

“Memastikan bahwa tak ada hal baru yang ia berikan. Karena dia sudah jadi masa lalu. Waktunya untuk menghiasi hidupmu sudah lewat.”

Linda menatap Rasyid lekat-lekat.

“Sepintar apapun kamu melupakannya, sesekali masa lalu akan menghampirimu untuk sekadar memberitahu bahwa dia eksis, pernah terjadi dan menjadi bagian hidupmu.” Rasyid menambahkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: