Browse By

Short Story #20: Aku Mencintaimu, Selamat Tinggal

“Temui aku di tempat biasa, setengah jam lagi.” Begitu isi pesan singkat yang diterima oleh Maya dari Indra, mantan pacarnya.

Walau enggan untuk bertemu, tapi Maya tetap berangkat dari rumahnya di hari Minggu itu. Ke sebuah café di pinggiran sungai yang membelah kota. Dengan pemandangan jembatan, yang jika malam hari terlihat romantis.

Sekitar sepuluh menit dari waktu yang ditentukan, Maya sudah tiba di café yang dulu menjadi tempat biasa ia bertemu dengan Indra. Sudah begitu banyak cerita yang terjadi di café tersebut antara dia dan Indra. Pacaran, jadian, marahan, baikan, bahkan, pertama kali bertemu Indra pun, di café tersebut!

Tanpa terasa, mata Maya berkaca-kaca. Ia sudah cukup lama tak hadir ke café tersebut. Kurang lebih, sejak sebulan yang lalu. Sejak ia tak berhubungan lagi dengan Indra.

“Eh, mbak Maya. Apa kabar, mbak? Udah lama kaya’nya ga keliatan.” Sapa barista bernama Jimbo yang menggawangi pesanan café itu sekaligus bertindak sebagai owner.

“Hai Jim. Aku lagi sibuk aja, sih belakangan ini jadi belom sempet ke sini lagi.” Jawab Maya sambil mengambil kursi dekat meja bar. Sore itu, café itu cukup sepi. Bahkan bisa dibilang terlalu sepi.

Jimbo tersenyum. “Pesanan biasa?”

“Boleh.” Jawab Maya.

“Segelas double espresso panas, segera hadir.” Jawab Jimbo sambil berputar memunggungi Maya untuk memberi perintah pada anak buahnya.

Maya tolah-toleh. Ia mencari Indra. Belum datang nampaknya.

“Mas Indra belum dateng, Mbak. Janjian, ya?” tanya Jimbo yang tiba-tiba sudah berbalik menghadap Maya lagi.

“Kurang lebih begitu.” Jawab Maya singkat.

“O.. anyway, walau mbak Maya jarang ke sini, tapi kemaren-kemaren mas Indra cukup sering ke sini. Yah, setiap dua-tiga hari sekali, setiap jam-jam segini. Setengah limaan gitu.” Jimbo memberitahu walau Maya tak bertanya.

“Oh gitu.”

Lima menit kemudian, segelas double espresso panas sudah disediakan Jimbo di hadapan Maya.

“Kalo butuh gula, atau mungkin mau tambahin madu, krim, susu, dan lain-lain, sebut aja.” Jimbo menawarkan.

“Thanks, Jim.” Jawab Maya sambil tersenyum, melihat arlojinya, dan meneguk espressonya.

Sore itu sinar matahari cukup terang, dan tentu akan menghadirkan penampilan matahari tenggelam yang cukup menarik dari jembatan.

Maya mengeluarkan ponsel. Ia mengirimkan pesan singkat ke Indra.

“On time, kan? Kalo ga, batas waktunya sepuluh menit. Setelah itu, aku tinggal.” Dan, pesan itu pun terkirim ke ponsel Indra. Laporan di ponsel Maya pun menyatakan pesan singkat itu berhasil diterima oleh nomer Indra.

“Kalo mataharinya bagus gini, pasti nanti sunset seru banget. Apalagi ada latar jembatan di sebelah kirinya.” Jimbo berkata sendiri sambil menerawang ke jendela luar café.

“Iya.” Maya menjawab tanpa terlalu peduli.

“Eh, tapi kok itu ada orang di pinggiran jembatan? Mau ngapain, ya? Masa’ bungee jumping?” Indro bergumam.

“Bisa jadi, Jim. Orang edan kurang kerjaan kebanyakan duit kan makin banyak.” Jawab Maya sambil menyesap kopi double espressonya.

Ponsel Maya tiba-tiba berbunyi. Indra menelepon.

“Halo?”

“Hai May, udah sampe?” Indra bertanya dengan suara ringan.

“Udah. Kamu udah baca sms aku, ‘kan?” Maya bertanya balik.

“Udah. Bentar lagi juga kamu ngeliat aku, kok.” Jawab Indra.

“Ah, masa?”

“Iya, makanya liat ke jendela dong. Kamu bakal liat aku ada di luar.”

Maya segera turun dari kursinya sambil menuju jendela. Ia celingak-celinguk ke arah jalanan depan café mencari Indra, tapi tak juga terlihat.

“Kamu di sebelah mana? Kok ga keliatan?” tanya Maya.

“Liat ke atas, May. Aku lagi di jembatan.” Jawab Indra perlahan.

Dan, Maya melihat ke arah pria yang sedang berada di tepian jembatan. Tanpa perlu waktu lama, ia mengenali sosok tersebut.

“INDRA! KAMU MAU NGAPAIN DI SITU?!” Maya berteriak melalui telepon.

“Aku mencintaimu, May. Selamat tinggal.” Indra menjawab.

Dan, pria di pinggir jembatan itu pun menjatuhkan dirinya ke sungai di bawahnya. Ia terlihat bebas, lepas. Hingga tubuhnya menghempas permukaan air dengan keras.

Ponsel Maya pun terlepas dari tangannya, lalu terjatuh ke lantai café hingga pecah berantakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: