Browse By

Short Story #192: The One

“You’d be better stop checking on dates.” Helen menyarankan saat ia melihat teman sekamarnya, Ria sedang menandai kalender meja.

Ria tak merespon, sementara Helen menutup lemari kulkas dan mengeluarkan segelas susu dingin.

“Kamu homesick berat ya?” Helen bertanya.

“Semacam begitu.” Ria memberitahu.

“Atau jangan-jangan kangen sama yang di sana?” Helen menebak.

Kali ini Ria kembali tak merespon.

“Apa kamu tau kalo dia juga nungguin kamu? Nandain kalender seperti yang kamu lakuin sekarang?” Helen bertanya setelah meneguk susunya.

Ria lagi-lagi tak merespon.

“Ga pake teknologi buat saling kontak?” Helen bertanya lagi.

“Ceritanya panjang.” Ria akhirnya memberitahu. “Satu hal yang pasti, aku masih punya perasaan buat dia.”

“After all these years?” Helen keheranan, nada suaranya sedikit meninggi.

“Beberapa hal mungkin jadi kenangan, tapi tidak perasaan.”

“Pantes ada begitu banyak pria yang datang, kamu abaikan. Kamu biarkan. Kamu lepaskan.” Helen berkomentar.

Dahi Ria mengernyit. Helen sepertinya menyadari hal tersebut.

“Thomas? Anto? Heru?” Helen memberitahu beberapa nama. “Belum lagi mereka yang kamu kenal di kampus, atau di kantor sekarang.”

“What are you trying to tell, Helen?” Ria bertanya.

“If you can not be with the one you love, love the one you are with.” Helen memberitahu.

2 thoughts on “Short Story #192: The One”

  1. Ceritaeka says:

    Hahaha nggak sepakat sama si Helen. Kalau emang orang yang dicintai nggak bareng ya meilih nggak bareng sama siapapun 😀

  2. Billy Koesoemadinata says:

    @Eka setiap orang punya pilihan kok. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: