Browse By

Short Story #186: I Was Perfectly Happy Being Single

“Are you really serious with those things that you’ve said?” Ricky bertanya tak percaya di ambang pintu apartemennya sembari menatap wanita yang berada di depannya.

“Aku serius. Apa perlu aku ulang dua kali dengan nada lebih kenceng?” Lita bertanya balik sambil mengambil napas siap untuk mengulang ucapannya beberapa menit lalu setelah Ricky membuka pintu.

“Oke.. oke.. cukup.” Ricky segera menyela. Ia lalu memegang lengan Lita dan menariknya ke dalam apartemennya. “Masuk sini.”

Lita membuka jaketnya, lalu menggantungnya di lengan sambil masih berdiri dan melihat Ricky menutup dan mengunci pintu apartemen.

“Beneran, nih?” Ricky bertanya lagi setelah berbalik menghadap Lita.

“Kalo aku ga serius, ngapain juga aku bela-belain nyetir sendiri nyeberang Jakarta di Jumat malam yang hujan gini?” Lita menantang balik.

“You could’ve made some call.” Ricky menarik lengan Lita lagi, kali ini hingga terduduk di kursi dapur kecil yang terletak tak jauh dari pintu depan.

“Aku takut kalo lewat telepon, kamu ga nganggep aku serius.” Lita memberitahu.

Ricky berhenti sebentar saat ia membuka kulkas dan menoleh ke arah Lita. Sejenak kemudian, ia berbalik lagi menghadap kulkas dan mengeluarkan sebotol kecil air mineral.

“Aneh..” Ricky berkomentar sambil menyiapkan air mineral ke gelas, dan mendorongnya ke arah Lita.

“Aneh karena ada cewek yang minta kamu nikahin?”

“Bukan. Bukan gi-.”

“Oh, jadi kamu udah biasa kalo ada cewek yang minta dinikahin?” Lita menyela dengan pertanyaan penuh selidik.

“Ya.. bukan gitu juga.” Ricky memberitahu segera. “Kalo soal cewek yang minta dinikahin sih, baru sekarang. Ya kamu ini.”

“Trus, apanya yang aneh?” giliran Lita yang terus memberondong pertanyaan. Botol air mineral masih utuh di meja, belum sempat ia sentuh.

Ricky mengubah posisi berdiri di meja dapur yang membatasinya dengan Lita. Ia mengangkat sebelah alisnya, lalu menyunggingkan sebelah bibirnya.

“Aku penasaran aja, apa yang bikin pikiran kamu berubah?” Ricky penasaran. “As far as I know, terakhir kali kita bicara soal ini, kamu bilang kalo kamu belum mau. Kamu masih pengen punya waktu buat kamu sendiri.”

“Iya, aku tau.”

“Kamu juga bilang kalo kamu lagi seneng-senengnya dengan keadaan begini. Kamu lagi happy jadi single yang bebas ke mana aja, kapan aja, ngelakuin apa aja yang kamu mau. Dengan teman-teman yang ada di sekitar kamu, termasuk aku…” Ricky menambahkan. “…yang sebenernya udah nyimpen rasa suka sejak lama, udah aku ungkapin pula sembari ngajak kamu ke jenjang yang lebih serius, tapi kamu mentahin dengan alasan-alasan tadi..”

Lita menarik napas sembari menatap Ricky yang balik menatapnya. Di sana, ia temukan keteguhan dan kesabaran seperti yang pernah ia temukan ketika pertama kali Ricky memberitahunya tentang perasaannya.

“Ricky.. I was once the person as you’ve said. I was perfectly happy being single…” Lita memberitahu. “…until I see happy couple.”

5 thoughts on “Short Story #186: I Was Perfectly Happy Being Single”

  1. Ceritaeka says:

    Bil, kalau kata atau kalimat asing, dibuat dalam italics dunk 😀

  2. Swastika says:

    Horeeee…. mantap kali produktivitasnya Billy ini, dari twit bisa jadi cerpen!

  3. saifulmuhajir says:

    Aimak! Jadi ceritanya iri gitu. Cepet juga.
    *ditoyor

  4. venus says:

    asli kagum sama produktivitas menulismu, bil. hehehe

  5. Billy Koesoemadinata says:

    @Eka ehehe.. sengaja. setiap penulis memiliki haknya sendiri untuk menuliskan apa yang diinginkannya. *kata guru bahasa Indonesia pas SMA dulu*

    @kak tika ya, begitulah. kebanyakan cerpen di sini diawali dari sebuah twit sederhana. 🙂

    @ipul coba itu dijelasin berapa lama yang dimaksud cepetnya? #dibahas

    @simbok venus iyaaa.. makasih mbok. :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: