Browse By

Short Story #185: Ga Muluk-Muluk

“Akhirnya dia pergi juga.” Maya membuka percakapan sore itu. Kedua teman dekatnya, Rini dan Donna sudah siap mendengarkan cerita dan siapa yang dimaksud. Sementara Patrice, juga siap mendengarkan tapi tidak seantusias Rini dan Donna.

“Maksud loe, Adam?” tanya Rini.

Maya mengangkat alisnya sambil menelan minumannya.

“Sama Yuri?” Donna memastikan.

“Ya sama siapa lagi, lah? Masa’ iya sama gue?” Maya menjawab.

“Loe dapet info dari mana? Dari Yuri langsung?” Rini bertanya lagi.

“Nope. Gue dapet infonya justru dari Adam.” Maya memberitahu. “Yuri belom sempet ngobrol lagi sama gue. Guenya juga belom sempet nanya langsung ke dia. Jadi ya, begitulah.”

Rini dan Donna langsung saling berpandangan dari kursi masing-masing. Pandangan mereka mencerminkan kode yang hanya bisa dimengerti mereka berdua. Tapi…

“Kalo cowok sih, bisa langsung digaet begitu dia pisah sama ceweknya.” Patrice berkomentar.

Rini dan Donna langsung menoleh ke arah Patrice yang masih duduk santai di salah satu ujung meja café yang ditempati mereka berempat.

“Gue sih ga bakal deketin lah. Masanya dia menarik buat gue udah lewat.” Maya merespon.

“Tapi menurut gue dia justru tambah menarik seiring usianya yang makin matang.” Donna berkomentar yang langsung disetujui dengan anggukan Rini.

“Mungkin itu yang ga diliat sama Yuri.” Patrice berkomentar lagi.

“Apa maksud loe?” Rini penasaran.

Patrice mengangkat bahunya lagi. “Mungkin, Yuri terlalu banyak demand sama dia. Terlalu banyak request yang sebenarnya sudah dipenuhi oleh Adam, tapi Yuri tetep mikirnya it’s just not enough. Mungkin…”

Keempat sahabat itu diam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“I could be Yuri on my own version. Maybe that’s why I haven’t had any long and serious relationship.” Maya merespon dengan nada santai.

“Pantes ga pernah lebih dari setahun, dan rata-rata cuman sebatas jalan bareng aja.” Donna berkomentar.

“Soal batasan, no further comments. Tapi soal durasi, bener.” Maya menjawab sambil menyeringai.

“Trus loe gimana, Pat? Kok loe bisa adem-ayem aja sama laki loe selama ini? Bukannya kalo merit muda justru bakal lebih banyak munculin masalah karena ego yang sama-sama tinggi dan cenderung pengen menang?” Rini bertanya. “Dan.. ini sudah lebih dari sepuluh tahun, ‘kan?”

“Apalagi… loe dan dia sama-sama punya kesibukan dan juga aktivitas masing-masing, ‘kan?” Donna menambahkan.

“Please tell me the answer isn’t because you’re having kids with him.” Maya meminta.

Patrice tersenyum. Ia menyesap kopinya terlebih dulu sebelum menjawab. “Gue sih ga muluk-muluk, asal dia ga main tangan, ga main cewek, dan ga main duit, he should be good.  Because of that, I have faith on him.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: