Browse By

Short Story #179: Malaikat

“Apa yang kamu tau soal Daniel?” Yuri bertanya ke Kevin di sela-sela makan siang bersama.

Kevin diam sejenak, ia menyimpan sendok dan garpunya. “Dia ga tidur, tapi dia juga ga ngerasa ngantuk ataupun capek.”

“Wah, insomnia akut?” Yuri menyela.

Kevin menggeleng. “Dia emang selalu kebangun gitu.”

“Trus?”

“Tempat favoritnya dia, di tempat tinggi. Di lantai paling tinggi dari sebuah bangunan kalo bisa.”

“Dia pernah kerja jadi pekerja konstruksi bangunan tinggi, ya?” Yuri lagi-lagi menyela.

Kevin kembali menggeleng. “Di ketinggian, dia ngerasa damai sekaligus bisa ngeliat semuanya dengan lebih jelas.”

“Wah, mata elang?”

Kevin tersenyum tanpa menjawab.

“Trus, apalagi yang kamu tau?”

“Kenapa kamu pengen tau lebih banyak?” Kevin balik bertanya.

Yuri diam sambil memperlihatkan senyum simpul. “I think, he’s the one.”

“The one?”

“Iya, mister right guy.” Yuri memberitahu, sambil kemudian pipinya menjadi kemerahan.

Kevin tersenyum lagi. “Kamu jatuh cinta sama dia? Begitu?”

Yuri salah tingkah. Ia tersenyum, lalu kemudian mengalihkan pandangannya dari Kevin.

“Dia juga ngerasa hal yang sama.” Kevin memberitahu.

“Kok kamu tau?”

“Dia yang bilang sendiri.”

“Kapan?” Yuri penasaran.

“Ya… beberapa waktu yang lalu, lah.”

“Trus, apalagi yang dia bilang?”

Kevin menarik napasnya sejenak. “Banyak. Salah satunya, dia rela ngelepas segala yang dia punya sekarang, cuman buat bisa bersama kamu.”

“Oh ya?”

Kevin mengangguk. Ia lalu melanjutkan makan siangnya sementara Yuri menyedot es sodanya.

“Eh, aku penasaran deh. Emang dia orang kaya’ ya?” Yuri bertanya lagi.

“Engga. Kenapa kamu nanya gitu?”

“Ya abis, kamu bilang kalo dia rela ngelepas segala yang dia punya sekarang, cuman buat bisa bersama aku.”

“Oh itu..” Kevin merespon datar.

Yuri menunggu sementara Kevin kembali menyuap makan siangnya.

“Eh, aku penasaran nih.. apa sih hal paling berharga yang dia punya sampe rela dia lepas cuman buat aku?” Yuri bertanya lagi.

Kevin melihat sejenak ke arah rekan sekantornya itu. Mencari kesungguhan. Mencari ketulusan.

“Keabadian.” jawab Kevin singkat.

Dahi Yuri langsung berkerut. “Apa?”

“Iya, keabadian. Kamu ga salah denger, kok.”

Yuri diam. Bingung.

“Da-dari mana kamu bisa tau?”

“Karena dulu aku juga seperti dia.. sebelum aku ketemu istriku sekarang.” Kevin memberitahu.

 

NB: Terinspirasi dari salah satu adegan “City of Angels”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: