Browse By

Short Story #176: Sudah Saatnya

“Sudah saatnya…” Herman berkata pada dirinya sendiri setelah selesai menutup kardus terakhir di kamarnya.

Sambil berdiri dan menatap keluar jendela, Herman menyeka keringat yang membasahi dahinya. Ia lalu melihat seorang pria tengah menarik koper untuk kemudian dimasukkan ke dalam bagasi mobil.

“Ga ada yang ketinggalan?” seorang wanita muncul dari ambang pintu kamar Herman.

“Ga ada. Mudah-mudahan, sih..” Herman berbalik sambil menjawab.

Wanita itu diam. Matanya setengah berkaca-kaca. Bibirnya hendak mengucap banyak kata-kata, tapi seperti ditahan.

“Lebaran aku pulang kok, Bu…” Herman memberitahu.

“Tapi lebaran masih lama, Nak. Masih taun depan.” ibunya Herman merespon. Pipinya basah juga oleh aliran air mata haru.

“Ibu…” Herman bergerak mendekat, memeluk ibunya.

Adegan ibu-anak yang berpelukan itu kemudian berhenti ketika terdengar panggilan dari luar. Terdengar ke kamar Herman melalui jendela. Panggilan memanggil namanya.

“Ayahmu menunggu.” ibunya Herman memberitahu.

“Iya.” Herman melepaskan pelukan ke ibunya. “Sebenernya, aku pergi kuliah gini, Ayah seneng ya, Bu?”

“Maksudmu?” ibunya Herman bertanya balik.

“Iya, kaya’nya dari tahu aku bakal kuliah beda kota, Ayah kaya’nya seneng gitu. Seneng karena aku keluar dari rumah. Seneng karena ga bakal ada lagi yang bantah kata-katanya dia.”

Ibunya Herman menepuk pundak anaknya. “Kamu ga seharusnya ngomong gitu, Nak.”

“Abis, dia ngeburu-buru aku melulu. Mana ngeburu-burunya kadang pake marah-marah pula.” Herman curhat.

Ibunya Herman tersenyum kecil. “Ayahmu memang begitu. Cerewet dan rewel dia.”

“Tapi kan ga seharusnya juga cerewet banget.. aku udah gede gitu lho, udah mau kuliah. Udah gede.” Herman protes.

“Dari pertama kali dia tahu kalo Ibu hamil kamu, dia udah mulai nunjukin kecerewetan dia, Nak.” ibunya Herman memberitahu. “Banyaaaaaakkk banget hal-hal yang semula dia cuek, jadi kemudian perhatian banget. Bikin aturan ini-itu.”

“Masa’, sih?”

“Iya. Begitu.” ibunya Herman menambahkan. “Tapi kemudian, seiring waktu selama Ibu mengandung kamu, Ibu mulai ngerti kenapa dia cerewet. Kenapa Ayahmu paling bawel soal kapan ibu harus makan, minum vitamin, cek ke dokter, dan masih banyak lagi.”

“Emangnya kenapa?”

“Ya karena itu artinya dia sayang sama ibu. Itu juga artinya dia sayang sama kamu, Nak. Dia pengen Ibu dan kamu dalam kondisi sehat dan selamat.”

Herman terdiam mendengar kalimat terakhir ibunya.

“Di balik cerewet, rewel, dan bawelnya Ayahmu itu.. dia adalah orang yang penuh perhatian, penyayang, dan paling penting adalah bertanggungjawab.” ibunya Herman menambahkan.

“Tapi kok Ayah belakangan suka marah-marah sih, Bu?” Herman bertanya lagi.

Ibunya Herman tersenyum. “Ayahmu menyembunyikan kesedihannya karena harus melihatmu pergi, Nak. Dia bukannya ga suka kamu kuliah beda kota, dia cuman ga rela kalo harus jauh-jauhan sama kamu. Dia ga suka kalo dia ga bisa dekat sama kamu, ga bisa siap-siaga dan selalu ada kalo kamu suatu-waktu butuh, Nak.”

Herman terdiam. Sekilas-sekilas, kenangan masa kecil mulai terlintas di benaknya, dan ayahnya… selalu ada di dalam semua kenangannya.

“Bagian tersulit dari menjadi orangtua adalah… saat harus melepas anak pergi. Membiarkan anak untuk menjadi dewasa.” ibunya Herman memberitahu. “Sementara itu, Ibu dan Ayah memiliki cara yang berbeda untuk mengekspresikannya.”

Nama Herman kembali terdengar dipanggil dari luar rumah dari luar jendela. Tapi, bukan lagi teriakan yang Herman dengar, melainkan panggilan dari orang yang selalu ada untuknya.

9 thoughts on “Short Story #176: Sudah Saatnya”

  1. Rere @atemalem says:

    Terus, aku nangis aja dong..
    :'((

  2. Billy Koesoemadinata says:

    once, we will face it.

  3. Swastika Nohara says:

    Anak gue pas hari pertama masuk play group aja bikin gue sedih, apalagi ntar klo dia kuliah di luar kota ya… *merenung

  4. Billy Koesoemadinata says:

    kak tika.. Cissy aja belom masuk playgroup tapi dia udah bisa segala macem sendiri, saya berasa sedih.. 🙁

  5. Indra Yustiawan Yosodihardjo says:

    Mungkin ini ya yang dirasakan ibu sewaktu ngelepas aku ngekost di Semarang pas kuliah dulu. :'(

  6. ibnu ch says:

    Jadi ingat waktu pertama kali mau melanjutkan sekolah di kota , Ibu tak habis habisnya menyeka air mata yang tak kunjung habis… Nice Story.. Eh Salam Kenal sebelumnya Mas Bily. . .

  7. Billy Koesoemadinata says:

    @Indra iya, bisa jadi. :’)

  8. fairyteeth says:

    Pantes bapakku kayak gak rela pas aku bilang mau pindah ke bandung selepas sekolah nanti ya 😐

  9. Ivan Prakasa says:

    Aku trenyuh bacanya… 🙁
    entah harus ngomong apah… >.<

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: