Browse By

Short Story #167: Seperti Janji

“Is he meeting her again?” tanya Asti sambil menaruh segelas teh hangat.

“Aku ga tau. Aku juga ga berusaha buat tau.” Laras menjawab sambil tetap mendekap lututnya, dan menghadap jendela.

Asti meneguk segelas teh hangatnya. “Why don’t you leave him?”

“I can’t.”

“Kenapa? Karena kamu takut ga bisa survive?”

Laras menghela napas. Lalu membalikkan tubuhnya, menghadap Asti yang sudah duduk di sofa menghadapnya.

“Aku bisa survive, aku justru takut dia yang ga bisa survive.” jawab Laras membingungkan.

“Apa maksudmu?”

Laras menghela napas lagi. Kali ini lututnya ia turunkan dari bangku samping jendela, membiarkan kakinya menjuntai ke atas langit marmer dingin di apartemen Asti.

“Di balik sikapnya yang begitu mempesona sebagai seorang yang tangguh, dia adalah pria yang tak bisa menjalani hidupnya sendiri.” Laras memberitahu.

“Itu alasanmu dulu menikahinya? Untuk membuatnya lebih bisa menjalani hidupnya?” tanya Asti.

Laras tak menjawab.

“Lalu setelah kau membuatnya lebih bisa menjalani hidupnya, memberinya putri yang cantik, dia mengkhianatimu, dan kau masih memikirkannya? Takut jika ia tak bisa menjalani hidupnya sendirian?” Asti bertanya lagi.

“Ga sesederhana itu.” Laras merespon.

“Trus gimana? Gimana hubunganmu dengan pria yang katanya mencintaimu, bersedia berkorban untukmu dan anakmu, tapi justru lebih sering menghabiskan waktunya bersama wanita lain itu?” nada suara Asti meninggi.

Laras kembali tak menjawab. Ia menatap gelas teh di meja.

“If you can’t leave him, it might be better for you to let him go.” Asti memberi saran lagi, sambil berusaha menenangkan dirinya.

“I can’t do that either.” Laras kembali merespon.

Mata Asti membelalak mendengar jawaban temannya sejak kuliah tersebut.

“Aku lebih sakit melepasnya, kemudian suatu hari nanti melihatnya bersama wanita itu.” Laras menambahkan. “Jika penderitaan adalah tahapan selanjutnya yang harus dialami, maka akan dialami oleh kami berdua, bersama-sama, walau dengan cara dan kedalaman rasa yang berbeda. Sama seperti janji kami berdua dulu, di hari pertama perubahan status kami, mengalami semuanya bersama-sama, dalam suka dan duka.”

3 thoughts on “Short Story #167: Seperti Janji”

  1. putri says:

    For better or worse, till death do us part..

    *malah nyanyi

  2. boyin says:

    dah lama gak kemari…mas billy nyerpen yah…hee…btw larasnya itu punya sifat yang namanya altruisme…

    1. Billy Koesoemadinata says:

      halo mas boyin! iya e, sudah lama ga bersua kita.. :mrgreen:

      *langsung googling soal altruisme*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: