Browse By

Short Story #162: Bahagia Itu…

“Berapa jam lagi?” Tasya bertanya Wahyu, lelaki di sebelahnya.

“Masih lama.” jawab Wahyu tanpa melihat Tasya.

“Iya, tapi aku mau tahu berapa lama lagi persisnya.” Tasya menekankan sambil masih tetap melihat ke arah Wahyu. “Jawab sajalah pertanyaanku.”

“6 jam lagi kurang lebih.” Wahyu kembali menjawab sambil melihat ke arah arlojinya.

“Oh. Harusnya cukup ya buat ke 3-4 tempat lagi.” Tasya langsung merespon, sambil kemudian melihat lagi ke arah horizon laut lepas dari balkon apartemen di pesisir kota, dari lantai 5.

“Mungkin. Mudah-mudahan ga kena macet.”

“Gapapa, seenggaknya kita usaha dulu.”

“Kenapa sih kamu lakuin ini? Kenapa kamu bukannya istirahat atau siap-siap gitu..” Wahyu berkomentar. “Aku kira, kita ke sini karena kamu mau istirahat.”

“Kenapa kamu nanya begitu?” Tasya mengangkat alisnya.

“Karena harusnya kamu begitu.”

“Engga juga.”

“Kenapa?” Wahyu balik bertanya.

“Karena aku pengen pastiin kalo aku bahagia.” jawab Tasya singkat.

Lalu hening, Wahyu berusaha mencerna kalimat jawaban Tasya tapi ia tak bisa.

“Kenapa kamu pengen pastiin begitu?”

“Karena aku perlu tahu, bahwa sepanjang hidupku,  aku sempat ngerasain seneng. Ngerasain bahagia. Ngerasain semua kepengen aku terpenuhi.” Tasya menjelaskan.

“Hus! Jangan ngomong begitu. Kamu ngomong seakan-akan kita ga akan bertemu lagi.” Wahyu langsung merespon.

“Tapi kemungkinan itu memang ada, ‘kan?”

“Memang sih.” jawab Wahyu pelan.

Tasya menarik napas sementara Wahyu memalingkan mukanya dari pandangan Tasya. Berharap Tasya tak melihat kepedihan yang tersirat di wajahnya.

“Apalagi dengan kondisi fisik aku yang begini..” Tasya menambahkan.

“Tapi, kalo kondisi fisik kamu lebih baik, bukannya lebih banyak kebahagiaan yang bisa kamu dapet?” Wahyu merespon.

“Belum tentu.” Tasya menjawab segera.

“Kenapa?”

“Karena kebahagiaan itu awalnya dirasakan di hati, dan ga mutlak dari kondisi fisik.” jawab Tasya. “Kalo hati kita merasakan bahagia, bukan ga mungkin pikiran di otak kita juga merasakan bahagia, yang kemudian ngasih energi positif. Bukan ga mungkin juga kondisi fisik kita jadi lebih baik…”

“…Dan semuanya karena merasakan kebahagiaan di dalam hati?”

“Seenggaknya menurutku.”

“Tapi kan, setelah nanti, masih banyak kesempatan untuk kamu lebih bahagia. Bukan seperti sekarang…” Wahyu berkomentar.

“Bukan dalam kondisi sekarat maksudmu?” Tasya bereaksi cepat.

“Aku ga bilang begitu.”

“Mungkin kamu ga bilang begitu, tapi… aku lebih baik sekarat dan mengetahui bahwa aku bahagia, daripada bisa hidup lebih lama tanpa merasakan kebahagiaan dan menyesali telah menghilangkan semua kesempatan yang bisa aku raih untuk bahagia.” Tasya menjelaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: