Browse By

Short Story #161: Nice Lunch

“It was a nice lunch.” sebuah jendela pesan online muncul di layar laptop Brama. Lani, tertera di nama pengirimnya.

“Yes. It was.” Brama mengetik untuk menjawab sambil mulai menutup jendela aplikasi lain di laptopnya.

“Maybe we should do it more often.” pesan dari Lani kembali terbaca.

“Yeah, maybe…” jawab Brama lagi.

“Kamu dapet referensi dari mana sih tempat makan itu?”

“Dari beberapa orang yang aku kenal. Googling juga.”

“Untung kemaren dapet meja ya, soalnya penuh banget.” Lani kembali mengirim pesan.

“Iya.” jawab Brama singkat. Tentu saja dapat meja, kan aku udah reservasi duluan.

“Selain tempatnya yang bagus, makanannya enak juga.”

“Memang.” Brama menyetujui.

Lalu sepi. Lani belum kembali mengirimkan pesan. Brama menunggu, dan berpikir.

Sesaat ketika ia melihat penanda bahwa Lani sedang mengetik pesan di jendela aplikasinya, Brama mulai mengetik duluan. Berharap ia yang akan duluan mengirim pesan.

“Tapi buat aku, lunch kita itu jadi enak, karena ada kamu.” Brama mengirim pesan. Sementara di jendela pesan singkat, penanda bahwa Lani sedang mengetik pesan seketika menghilang.

5 menit. 10 menit. 15 menit Brama menunggu balasan pesan. Dan, ketika ia menggerakkan kursor mouse untuk menutup jendela pesan, sebuah balasan muncul dari Lani.

“Thanks. Tapi lain kali pastiin kita cuman bedua aja ya, ga ada istrimu atau suamiku.”

3 thoughts on “Short Story #161: Nice Lunch”

  1. Ajeng Lembayung says:

    Oke.. Endingnya ngagetin.. Berharap jadi akhir yang romantis gimana gitu, ternyata. :))

  2. Ivan Prakasa says:

    Endingnya ga enak banget… Ini bukan kisah dari seorang @bramadr kan?! xD *smoga yg punya akun ga liat komen ini

  3. Indah Juli says:

    ngikik baca endingnya 🙂 ngebayangin itu dalam dunia nyata, pasti nelannya susah.
    Keren, suka dengan cerita ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: