Browse By

Short Story #155: Move On

“Udahlah, Wi.. ga usah diinget-inget lagi. Let it go, and move on.” Lena memberi saran pada Dewi yang lagi-lagi didapatkan dengan menatap jendela dengan tatapan kosong.

“Aku ga nginget-nginget lagi kok.. aku cuma kepikiran aja.” Dewi berkelit sambil tak melepaskan pandangannya.

“Ya ga ada bedanya itu sih.” Lena mendudukkan dirinya di sofa sebelah Dewi. “He’s out of your world.”

“Mungkin iya.. but I may be still in his world.”

“Ngarep amat sih..” Lena merespon dengan ketus.

“Aku ga ngarep, aku cuma penasaran.” Dewi membela diri.

“Penasaran sampe kapan? Sampe mati? Sampe dia ngeduda?” nada suara Lena sedikit meninggi. “Masih banyak lelaki lain yang lebih baik daripada dia. Move on, darl…”

Dewi hanya menjawab dengan dengusan. Sementara Lena menghela napas. Memikirkan cara lain untuk menyadarkan sahabatnya itu, bahwa sudah saatnya hidup kembali berjalan.

“Move on itu ga musti langsung ketemu atau ngedate sama cowok lain lho.. langkah pertama bisa dimulai dengan cara ga mikirin dia lagi…” Lena kembali memberi saran.

“Gimana caranya aku ga mikirin dia, kalo di setiap sudut yang aku liat, selalu ada kenangan tentang dia?”

“Kalo gitu, pikirin dia sebagai kenangan. Sebagai masa lalu.” jawab Lena. “Inget lho, kamu tuh hidup di jaman sekarang, dan kelak masa depan. Bukan di masa lalu.”

Dewi akhirnya menoleh ke arah Lena yang sedari tadi menatapnya.

“How do I know that I’m moving on forward?” tanya Dewi.

“Easy… you don’t step back.”

4 thoughts on “Short Story #155: Move On”

  1. Indah Juli says:

    Cerita ini masih ada hubungan sama postingan di blog yang satunya ya:)

  2. fairyteeth says:

    “How do I know that I’m moving on forward?” | “Easy… you don’t step back.”

    I’ll try… 🙂

  3. Ivan Prakasa says:

    terkadang move on memang sulit…. huhuhu… >.< *kemudian curcol

  4. oelpha says:

    nge-date sama cowo lain juga belum tentu move on loh.. #lah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: