Browse By

Short Story #149: Keinginan Dunia

“Aku masih ga ngerti kenapa kamu harus ngebuang kesempatan itu, begitu aja.” Vany berkomentar kepada Rizki, rekan kerja yang kubikelnya bersebelahan dengan miliknya.

Rizki berhenti menatap layarnya, lalu melihat ke arah Vany. “Ya, kamu ga harus ngerti, sih.”

Vany menarik napas. Cangkir kopinya ia simpan di atas pembatas kubikelnya. Ia lalu berdiri menyandar sambil masih tetap melihat ke Rizki. “For all of these times, you’ve been telling me about your dreams. And now, when the chance has come, you’ve decided to put it away?”

Rizki memutar kursinya hingga menghadap ke arah Vany. Ia tersenyum kecil.

“Kadang, kamu harus ngelepas sesuatu untuk ngedapetin sesuatu.” Rizki merespon.

“Maksudmu?”

Rizki tak langsung menjawab. Ia menegakkan duduknya sementara Vany memegang kembali cangkir kopinya dan bergerak masuk ke dalam kubikel Rizki.

“Aku ngelepas kesempatan buat transfer ke kantor di Eropa kemaren itu, karena ada sesuatu yang lagi aku pengen dapetin di sini, sekarang.” Rizki memberitahu.

“Pindah kerja?” Vany langsung menebak.

“Bah.. bukan lah.” jawab Rizki yang langsung disambung tawa kecil. “It’s more than that.”

“Wah, kamu ditawarin jadi bos di sini?”

Rizki tertawa kembali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku maksud ‘di sini’ bukan berarti di kantor, Van.. melainkan di Indonesia.” Rizki memberitahu. “Dan bukan selalu soal kerjaan, lho.”

“Lalu apa? Kamu mau nikah?” tebak Vany.

Rizki hanya menjawab dengan senyuman sambil meregangkan badannya, hingga badannya kembali bersandar ke kursi.

“Nikah atau apapun itu, kan harusnya ga ganggu proses transfer kamu ke Eropa.. Lagipula, nanti kan istrimu bisa diajak buat tinggal di sana.” Vany berkomentar. “Aku aja pasti lebih mentingin transfer ke Eropa deh.. Kapan lagi punya kesempatan buat tinggal dan kerja di sana? It’s more than anything that I want in the world right now…”

“Nah… itu bedanya aku dan kamu.” Rizki segera merespon.

“Maksudmu?”

“Bagi dunia, kamu hanya seseorang dengan keinginan yang besar. Tapi bagi seseorang dengan sebuah keinginan, mungkin kamu adalah dunianya.” Rizki memberitahu.

4 thoughts on “Short Story #149: Keinginan Dunia”

  1. nox says:

    sangat suka kalimat terakhirnya 🙂

  2. icit says:

    oooo gitu
    *manggut manggut*

  3. Ceritaeka says:

    Kenapa gak ditembak aja siiiy?
    Itu kodenya halus bener diujung cerita 😀 hihihihi

  4. icit says:

    billy selalu memberikan ending gantung ka, gak bakal dikasih sama dia tembak2an gitu. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: