Browse By

Short Story #147: Hangat

“Masih 1 jam lagi menuju pagi.” Ajeng bergumam.

“Iya. Bentar lagi.” Vincent menjawab tanpa mengalihkan pandangannya langit yang masih gelap.

“1 jam yang rasanya lama..” Ajeng menambahkan.

“Lama kalo kamu nungguin banget.” Vincent menjawab lagi.

“Iya, dan ternyata udara jelang pagi dingin banget ya di lantai 10 ini..” ucap Ajeng.

Vincent sesaat menoleh ke arah Ajeng yang tengah memandang ke kondisi di bawah balkon apartemennya. Tak lama, ia pun berdiri dari kursinya, masuk ke dalam apartemen, dan kembali dengan sebuah sweater wol miliknya.

“Kamu harusnya ga nemenin aku.. Tidur aja gitu..” Vincent memberitahu sambil menempelkan sweater wolnya ke punggung Ajeng agar hangat.

“Iya, aku tahu.” jawab Ajeng singkat sambil memegang sweater Vincent, dan menyandarkan tangannya ke pinggiran balkon. “Tapi ya, kadang aku penasaran aja, kok kamu bisa kerasan di balkon.. kadang dari tengah malam sampe pagi.”

“Kok kamu tahu?” tanya Vincent setelah ia duduk kembali di kursinya.

“Aku ga selalu tidur sepanjang malam kali.. ada kalanya aku bangun dan meraba seprai kosong di sampingku.” Ajeng berujar. “Dan, seprai tersebut selalu kosong di jam-jam yang sama.. hampir setiap kali aku ada di sini.”

Vincent mendengus.

“Kamu ga kedinginan, ya berada di sini di jam-jam seperti ini?” tanya Ajeng.

“Dingin, sih…” jawab Vincent. “Tapi ya, aku abaikan.”

“Kok bisa?” tanya Ajeng lagi. “Aku aja meski udah ditempelin sweater kamu, masih berasa dingin dikit-dikit..”

“Keheningan ini yang bikin aku bisa mengabaikan rasa dingin itu.”

“Jadi, dengan adanya aku nemenin kamu di balkon ini, kamu ga bisa mengabaikan rasa dingin itu, dong..”

“Justru sebaliknya.” Vincent memberitahu

Ajeng mengangkat sebelah alisnya.

“Kehadiranmu justru membuat suasana balkon ini lebih nyaman. Lebih hangat untukku.” Vincent memberitahu sambil berdiri dan langsung memeluk Ajeng.

3 thoughts on “Short Story #147: Hangat”

  1. Ceritaeka says:

    Setelah 5 tahun itu Vincent harus dice paru2 basah gak dia 😀

  2. Ivan Prakasa says:

    Me too… :))
    seperti vincent… memandang langit dari atas balkon somehow itu membuat nyaman… Kadang bisa juga melepas kesedihan 🙂
    Apalagi kalo bulan purnama… wah feel great banget…
    Enak ya vincent ada yg nemenin bertengger di balkon… huhuhu

  3. Billy Koesoemadinata says:

    @Eka iya juga ya, harus dicek tuh.. nanti kalo ketemu saya kasitau

    @Ivan jadi, kamu selama ini seperti Vincent? cari dong siapa yang bisa nemenin.. di Jepang kan banyak.. 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: