Browse By

Short story #14: Kita Kan Sepupu!

“Gue suka sama loe, Ve. Bener-bener suka yang bikin deg-degan gitu.” Tedi tiba-tiba berbisik di tengah kesunyian perpustakaan yang senyap.

Sontak saja, Vera yang mendengar ucapan Tedi langsung melihat dengan ekspresi terkejut. Tak ada angin, hujan, ataupun guntur, tiba-tiba saja Tedi yang sedari tadi membaca buku di sampingnya menyatakan suka padanya. Ia pun sampai lupa pada buku yang tengah dibaca.

“Gue serius lho ini Ve. Ga boong.” Tedi mencoba meyakinkan.

Vera masih diam seribu bahasa, bingung hendak menjawab apa. Sementara itu, Tedi masih menunggu dalam diam.

“Kok loe bisa suka sama gue, Ted? Kita kan temenan.” Vera akhirnya menjawab dengan berbisik.

“Justru itu, Ve. Karena temenan, gue jadi tau banyak hal tentang loe. Dan, kebanyakan kok ya ngeklik gitu.” jawab Tedi.

Vera menutup bukunya, dan kini menghadapkan badannya ke Tedi.

“Apa karena kita udah temenan lama?” Vera bertanya lagi. Sengaja, hendak mengalihkan jawaban yang diharapkan oleh Tedi.

Tanpa mengeluarkan suara, Tedi mengangguk.

“Err… Ted, gue bukannya ga suka sama loe ya.. Tapi…” Vera berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “Tapi…”

Tedi menunggu penuh harap sementara Vera menggigiti bibir bawahnya.

“Loe sama gue ‘kan, masih sodara. Kita kan sepupu.” Vera akhirnya bisa menyelesaikan kalimatnya.

Serta-merta Tedi langsung merasa seperti disambar petir di siang hari. Ia terkejut tak percaya, sambil mencoba untuk menyangkal yang baru saja ia dengar.

“Ga mungkin Ve. Rumah loe di mana, gue di mana. Bokap-nyokap loe, sama bokap-nyokap gue juga ga punya nama belakang yang sama. Iya, ‘kan?” Tedi bertanya terburu-buru.

Vera menggigiti bibir bawahnya lagi. Ia bimbang hendak menjelaskan dari mana.

“Kakek loe namanya Sucipto ‘kan? Dan, nenek loe namanya Kartini?” Vera bertanya balik.

Tedi tersentak. Walau heran bagaimana Vera bisa mengetahui nama kakek-neneknya, Tedi mencoba untuk berpikir bahwa ia bisa jadi kelupaan pernah menyebutnya.

“Kakek gue namanya Wisnu, dan nenek gue namanya Sutari. Nenek gue kakak kandung kakek loe, Ted.” ujar Vera. “Gue ga tau lengkapnya gimana, tapi kakek loe dan nenek gue udah lama ga pernah ketemu sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dan, gue tau loe sama gue masih sepupu, gara-garanya waktu acara keluarga besar gue beberapa bulan yang lalu. Di sana, nenek gue cerita soal adik kandungnya, yang punya anak cowok, dan juga cucu cowok, tapi ga pernah ditengokin. Begitu juga sebaliknya.

“Begitu gue tanya siapa nama anaknya adik dari nenek gue itu, ternyata namanya Heru, bokap loe ‘kan? Dan, cucunya namanya Tedi, yaitu loe.” Vera mengakhiri penjelasannya.

Tedi terdiam. Ia tak menyangka jika gadis sekaligus teman lamanya masih memiliki kekerabatan keluarga.

“Emang sih, hubungan kekeluargaan dan sepupu kita lumayan jauh. Tapi, realita bahwa kita masih sodara, bikin gue ga nyaman aja kalo kita lebih dari sekedar temen.” Vera menambahkan.

Tidak ingin kehilangan muka dan wibawa di depan Vera, Tedi akhirnya tersenyum meski hatinya hancur berkeping-keping.

“Pantes, kok ya banyak hal di antara kita ngeklik banget. Ternyata, masih ada bawaan keluarga yak..” ucap Tedi sambil tersenyum miris.

3 thoughts on “Short story #14: Kita Kan Sepupu!”

  1. wong konsel says:

    wah manis banget kisahnya

  2. neng ocha says:

    aiiihhh! makzleeebb…

  3. Billy Koesoemadinata says:

    @konsel terima kasih..@ocha hahahaha.. pernah ngerasa ga cha? 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: