Browse By

Short Story #137: Pintar dan Pemikir

“Udah, ga usah dipikirin…” Doni memberitahu sambil menepuk pundak Arya, salah satu sobatnya yang tengah duduk menunggu bersama Bobby di kursi café.

Arya dan Bobby menatap sejenak kawan lamanya tersebut hingga kemudian Doni duduk di kursi di depannya.

“Ah, loe bisa aja, Don…” ucap Arya.

“Lho, tapi bener kan loe lagi mikirin sesuatu?” tanya Doni sambil kemudian menyesap kopinya.

“Tau dari mana?” Bobby bertanya penasaran.

“Rambut.”

Dahi Arya langsung berkerut. “Maksud loe?”

Doni tersenyum kecil sambil mencondongkan badannya ke arah Arya. “Iya, rambut. Rambut loe itu.”

Dahi Arya masih berkerut. Sementara itu Bobby diam mendengarkan dengan rasa penasaran.

“Rambut loe itu bisa berbicara lho. Dan, dari tipe rambut loe itu, ketauan kalo loe lagi mikirin sesuatu. Karena itu tipe rambut seorang pemikir.” Doni menjelaskan.

Arya masih tak mengerti. Bobby diam-diam mengangguk dengan menebak-nebak.

“Rambut menipis atau rada botak di puncak kepala sampe agak ke belakang itu lho…” Doni melanjutkan.

“Halah, sok tau loe..” Arya tersenyum kecut sambil mengelus-elus puncak kepalanya agak ke belakang yang memang mulai botak.

“Tapi bener, ‘kan? Jangankan sebelom gue dateng, gue bilang soal loe ketebak lagi mikir sesuatu dari rambut aja loe pikirin, ‘kan?” Doni bertanya sambil bergurau.

“Halah.. nebak doang itu.” ucap Arya yang langsung disetujui Bobby dengan anggukan.

“Tapi emang keliatan jelas, kok.”

“Trus, kalo botak macam loe itu, gimana?” Bobby bertanya.

Doni mengangkat dahinya. Matanya sedikit dilebarkan. “Maksud loe botak di arah depan gini?”

“Iya, kalo itu menjelaskan apa?” Arya pun ikut bertanya.

“Oh, ini.” jawab Doni segera. “Ini sih, tipe rambut orang yang pintar.”

Dahi Arya dan Bobby berkerut secara berbarengan.

“Masih ga percaya? Perlu gue unjukin lagi nilai-nilai kuliah dulu?” ucap Doni.

Arya tersenyum kecut. “Iya dah.. gue percaya.”

“Oh gitu.. trus kalo botak macam gue gimana? Plontos gini? Pasti pemikir sekaligus pintar, ‘kan?” Bobby bertanya kembali. Kali ini dengan penuh semangat.

Doni tersenyum simpul setelah menyesap kopinya kembali.“Oh, bukan..”

“Lah, trus apa?” Arya ikutan bertanya sementara Bobby menunggu jawaban.

“Itu sih, tipe rambut orang yang mikir kalo dia pintar.” jawab Doni santai.

2 thoughts on “Short Story #137: Pintar dan Pemikir”

  1. Ceritaeka says:

    Ngok! 😀 hahahhaha
    *elus-elus rambut*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: