Browse By

Short Story #133: Seumur Hidup

“Pah..” Vina memanggil Teguh, ayahnya di suatu pagi yang hening. Ayahnya yang tengah membaca koran di teras menoleh sebentar kepadanya.

“Kenapa, nak?” tanya Teguh. “Sini.. duduk di samping Papah..”

Tanpa perlu berlama-lama, Teguh dapat menebak jika Vina hendak berbagi cerita dengannya. Sudah bisa ia lihat dari raut muka Vina, meski dalam sekali toleh saja.

“Aku… aku bingung.” Vina mulai bercerita setelah duduk di kursi di samping Teguh.

“Bingung kenapa?” tanya Teguh sambil meletakkan korannya di meja kecil.

Vina menarik napas. “Aku… aku bingung apakah keputusanku buat nikah sama Rustam itu tepat..”

Teguh terlihat tenang. Ia memerhatikan Vina benar-benar dilanda kegundahan. Selain tatapan yang penuh pertanyaan, Vina menggigiti bibir bawahnya.

“Pernikahan itu pilihan.” Teguh mulai menjawab. “Bukan pilihan siapa orang yang akan menjadi pasangan kita, tapi pilihan kapan dan bagaimana kita akan menjalaninya.”

“Maksud Papah?” Vina bertanya kembali.

Teguh tersenyum sejenak sebelum melanjutkan. “Kesiapan, dan tanggung jawab. Itulah yang memberikanmu pilihan kapan dan bagaimana kamu akan menjalani pernikahan.”

Vina diam mendengarkan. Perlahan-lahan, beban berat di kepalanya seakan terangkat.

“Tapi, gimana kita tahu kalo pilihan yang kita buat itu benar?” tanya Vina lagi.

“Kita ga tau… kecuali kita menjalaninya sendiri.” Teguh menjawab diplomatis. “Menikah itu sebuah ikatan, Nak. Ikatan antara dua manusia yang saling menyayangi yang dilimpahi anugerah Tuhan. Tapi ikatan itu sendiri adalah ikatan yang membebaskan. Yang memberikan masing-masing kesempatan untuk mengekspresikan cintanya.”

“Gimana caranya supaya bisa mengekspresikan cinta itu, Pah?”

“Mudah. Dengan lebih mengenali pasanganmu.”

Lalu hening sejenak. Teguh membiarkan Vina meresapi kata-katanya.

“Aku ragu apakah aku sudah cukup mengenali Rustam, Pah..” ucap Vina. “Maksudku.. meskipun sudah lebih dari dua tahun aku dan dia berpacaran, kemudian dia melamarku dan aku mengiyakannya, tapi masih terbersit ketakutan kalo aku ga mengenali dia.. Aku merasa aku harus lebih mengenali dia, tapi aku ga tau gimana…”

Teguh tersenyum kecil. Ia memegang bahu anaknya.

“Jangan takut, Nak.. Jangan risau.. Kamu akan punya waktu seumur hidupmu untuk lebih mengenali pasanganmu.” ucap Teguh. “Bahkan, kamu akan punya waktu seumur hidup untuk saling mencintai dan menyayanginya.”

5 thoughts on “Short Story #133: Seumur Hidup”

  1. msdani says:

    wah dalam sekali maknanya om, sampai2 saya ulang beberapa kali jawaban-jawaban dari pak teguh itu hehe, intinya agar rasa percaya diri dan kemantapan dalam memilih selalu kita dapatkan kan bos 😀

  2. Oom Yahya says:

    Boro2 seumur hidup, lha kalau baru 1/2 tahun nikah ternyata ketahuan kalau salah gimana?

    Hehehe :mrgreen:

  3. Ivan Prakasa says:

    Kata2nya bijak banget… I like this post…
    Btw salam kenal om Billy *kunjungan perdana 😀

  4. Billy Koesoemadinata says:

    @msdani: ya.. begitulah. 🙂

    @oom yahya: yeee.. kok malah demotivasi sih?

    @ivan prakasa: terima kasih! semoga besok-besok berkunjung lagi.. 🙂

  5. adidas2002 says:

    Aku suka kata2nya…keren…
    » “Jangan takut, Nak.. Jangan risau.. Kamu akan punya waktu seumur hidupmu untuk lebih mengenali pasanganmu.” ucap Teguh. “Bahkan, kamu akan punya waktu seumur hidup untuk saling mencintai dan menyayanginya.”

    Klo pilihan kita salah…ya kita masi bs memperbaikinya…klo g, masi ada pilihan yg lain…ha3

    Atleast Keren bro…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: