Browse By

Short Story #127: Terbaik

“Kamu jadi?” Tamara bertanya Toni saat ia membuka pintu apartemen dan mendapati Toni sedang membereskan perlengkapannya.

“Aku ga bilang engga, ‘kan?” jawab Toni sambil menoleh sejenak, namun tidak menghentikan aktivitasnya.

“Oh.. aku pikir tadi udah ngerti maksud aku apa.” celetuk Tamara sambil menutup pintu, lalu melempar kunci dan duduk di sofa.

Toni berhenti sebentar sambil melihat ke arah Tamara.

“Aku ga ngerti maksud kamu.” ucap Toni sambil kembali melanjutkan membereskan perlengkapannya.

“Ya.. gapapa sih kalo emang ga ngerti. Emang kamu ga pernah ngertiin aku.” kata Tamara santai.

“Hah?!” Toni mendadak berhenti dan melihat tajam ke arah Tamara.

“Iya, ga pernah, ‘kan?”

Toni menarik napas. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Selalu aja seperti ini. Keulang-ulang lagi.” ucap Toni dengan nada sedikit meninggi.

“Karena emang itu fakta.” respon Tamara cepat.

“Fakta apanya?” Toni mulai hilang kesabaran. “Fakta kalo kamu selalu nuduh aku ga pernah ngertiin kamu? Fakta kalo kamu ga pernah support aku atas semua pilihan yang aku buat?”

“Bukan!” Tamara tiba-tiba berteriak sambil duduk tegak. “Fakta kalo kamu ga pernah mau dengerin aku!”

Toni menarik napas. Tatapannya masih tajam ke arah Tamara dari arahnya berdiri.

“Aku selalu dengerin kamu. Tapi sebaliknya?”

“Maksud kamu apa?!” ucap Tamara sambil berdiri dan kini berhadapan sama tinggi dengan Toni.

Toni menarik napas lagi.

“Kamu selalu minta aku buat dukung kamu, selalu ngerti apa mau kamu. Tapi sebaliknya?!” Toni berteriak. “Kenapa?!”

“Karena aku mau yang terbaik!” jawab Tamara segera.

“Terbaik buat siapa? Buat kamu?!” Toni cepat merespon.

“IYA! GA BOLEH?!” Tamara berteriak.

Toni mendengus. Ia menarik napas dalam lalu membuangnya.

“Boleh. Ga ada larangan.” jawab Toni mencoba dengan suara datar. “Tapi jangan salah kalo kemudian aku juga nyari yang terbaik buat aku.”

Tamara terkesiap mendengar ucapan Toni.

“I’ll leave all of my keys. Good bye.” ucap Toni sambil mengangkat semua perlengkapan dan membawanya keluar pintu apartemen.

One thought on “Short Story #127: Terbaik”

  1. knia_hesperos says:

    Sebaiknya mencari yg terbaik untuk keduanya #oops

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: