Browse By

Short Story #118: Setelah Pintu Tertutup

“Relax. I’m okay.” Michael memberitahu Rina yang berdiri di ambang pintu apartemennya, dari balik pintu yang setengah terbuka.

“Tapi bolehin gue masuk dong, Mick. Gue kan temen loe..” Rina sedikit memaksa.

“Lain kali aja, ya Rin.” Michael memberitahu sambil menahan agar Rina tak bisa membuka pintu dan masuk ke dalam apartemennya.

“Kenapa?”

“Ya.. karena gue lagi ga pengen aja.” jawab Michael.

“Ga biasanya loe begini.. Beberapa bulan yang lalu sebelom kejadian pagi ini, loe welcome banget kalo gue dateng ke sini.” Rina memberikan alasan.

Michael menarik napas. “Iya, tapi itu bukan hari ini. Bukan sekarang. Terlepas dari ada kaitannya sama kejadian tadi pagi apa engga.”

“Tapi…”

“I’m okay. Got it?” Michael berkata dengan tegas.

Rina diam. Ia menatap sobatnya sejak SMA tersebut dalam diam dan pandangan berharap. Berharap, sobatnya tersebut benar-benar baik-baik saja seperti yang dikatakannya.

“Kalo ada apa-apa…”

“You’ll be the first one who knows.” Michael menyelesaikan kalimat Rina.

Rina mencoba tersenyum. Berharap Michael akan ikut tersenyum.

Usahanya tak sia-sia. Karena Michael pun tersenyum. Walau sesaat. Walau kecil. Walau sementara.

“After all these time, loe tetep cowok paling tenang yang pernah gue kenal.” Rina memberitahu sambil mengusap wajah Michael.

Kali ini, Michael tersenyum tanpa harus dipancing.

“Thanks.” jawab Michael singkat.

Lalu, hening sesaat.

“Kalo gitu, gue cabs aja deh. I got a blind date to attend.” ucap Rina sambil membenarkan kerah jaketnya dan bersiap pergi.

“Blind date? Seriusan?” Michael tiba-tiba penasaran. “Bukan gaya loe banget kaya’nya..”

“Well, it’s my privilege to do whatever I want as a single, right?” jawab Rina sambil beranjak, namun kemudian berhenti sesaat sambil menoleh, “Soon, it shall be your privilege too..”

Michael kembali tersenyum sambil memperhatikan kepergian Rina dari lorong apartemennya. Tak lama, wajahnya kembali datar. Ia pun masuk ke dalam apartemennya.

Setelah pintu tertutup, sejenak, Michael hanya berdiri bersandar ke pintu apartemen sambil menatap beberapa barang di apartemennya yang mulai dibungkus dan ditutupi oleh kain. Lalu, nafasnya beranjak berat. Matanya terasa panas.

“Andai saja..” ucap Michael sambil membalikkan sebuah figura yang berisikan fotonya mengenakan tuxedo terbaiknya, dan diapit seorang wanita mengenakan gaun putih panjang yang membawa buket bunga.

2 thoughts on “Short Story #118: Setelah Pintu Tertutup”

  1. Sabai says:

    Jadi eps berikutnya Michael udah jd single? 🙂

    1. Billy Koesoemadinata says:

      eng.. kalo nanti Michael jadi bahan cerita lagi ya.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: