Browse By

Short Story #104: Pegangan

“Al.. Kaya’nya kita ga bisa lanjutin hubungan ini, deh..” Widya
mencoba tenang walau suara bergetar.

Ali yang duduk di kursi depannya seketika menyimpan sendok dan
garpunya. Ia lantas menoleh ke jendela. Melihat ke tengah hujan yang
melanda. Lalu mendengus.

“Jangan bilang karena orangtua kamu lagi deh..” kata Ali datar.

Widya tak menjawab meski dalam hatinya ia mengiyakan ucapan Ali.

“Emang aku kurang apalagi ya buat mereka?” Ali bertanya tanpa
memalingkan mukanya dari jendela.

“Aku ga tau..” jawab Widya. “Tapi yang pasti mereka pengen aku ga
lanjutin berhubungan sama kamu..”

Ali tersenyum kecil lalu kemudian menoleh ke arah Widya yang sedari
tadi memerhatikannya.

“Alasannya?”

Widya menarik napas. “Mereka ga ngasih alasan, Al.. Mereka cuma ngasih
pilihan..”

“Oh ya?” sergah Ali sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Iya.” jawab Widya.

Lalu hening menyeruak di antara Ali dan Widya.

“Kamu ga tanya apa pilihan yang dikasih mereka ke aku?” tanya Widya.

“Buat apa… Toh kamu udah milih mereka..” jawab Ali datar.

Widya diam. Ia sebenarnya ingin agar Ali bertanya. Tapi… Kejadian
ini sudah berulang sekian kali. Lagi.

“Aku pengen milih kamu, Al.. Tapi.. aku ga bisa kalo ga ada mereka,
Al.. Mereka kan orangtuaku..” Widya memberitahu. “Kalo ga ada mereka,
aku pegangan sama siapa kalo ada apa-apa?”

Ali mendengus. Lalu tertawa kecil.

“Tanganku..” jawab Ali. “Kalo kamu milih aku, kamu bisa pegang
tanganku sambil kita jalani ini bareng-bareng..”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: