Browse By

Short Story #102: Bersama

“Aku ga ngerti kenapa jadinya harus begini…” Rudi menggumam.

“Mungkin udah takdir..” jawab Tasya yang berdiri di sampingnya. Sama-sama menatap langit sore keemasan dari atap salah satu gedung tinggi.

“Tapi manusia pun masih bisa ikhtiar supaya hasil dari takdir jadi lebih baik, kan?” tanya Rudi.

“Mungkin.” jawab Tasya singkat.

“Trus, kenapa meski aku udah berusaha sekeras mungkin, hubungan kita ga bisa bertahan?” tanya Rudi lagi.

Kali ini, Tasya diam. Ia memalingkan wajahnya ke langit yang kian berubah keemasan.

“Apa mungkin seharusnya aku berusaha biasa-biasa aja?” Rudi bertanya lagi tanpa menunggu jawaban Tasya.

“Mungkin, akunya yang ga berusaha keras sepertimu. Mungkin, aku terlalu lemah.” respon Tasya pada akhirnya.

“Maksudmu?”

“Kita ini berbeda, Rud..”

“Bukankah kita saling mencintai? Setidaknya, itulah hal yang sama di antara kita.” kata Rudi.

Tasya menarik napas panjang.

“Kita ini kaya’ dua sisi rel kereta lho Rud. Ga bakal ketemu. Kamu di sebelah kanan, aku di kiri. Atau sebaliknya. Dan, ada jarak yang selalu membatasi kita..” ucap Tasya.

Rudi menarik napas.

“Tapi kalopun kita rel kereta, seharusnya kita selalu bersama, ke arah yang sama.” respon Rudi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: