Browse By

Rekayasa Sosial

Bukan, ini bukan social-engineering itu – meski secara terjemahan langsung bisa dikaitkan. Rekayasa = engineering, dan sosial = social. Maksud dari tulisan yang saya ambil sebagai judul ini adalah (sedikit) perubahan yang saya putuskan.

Di salah satu postingan yang saya buat di blog sebelah (yang sedang diistirahatkan untuk sementara ini, terutama dari peredaran google), saya pernah memuat kalo saya lulus meraih gelar sarjana teknik. Kemudian juga pernah disebut kalo saya hendak melanjutkan sekolah lagi ke tingkat magister. Dari petunjuk judul postingan dan juga dasar sarjana teknik, maka pasti bisa ditebak (dengan mudah?) kalo saya melanjutkan ke bidang sosial.

Lebih lanjut postingan ini akan saya simulasikan dalam bentuk tanya jawab — karena sedikitnya pasti ada yang bertanya-tanya bukan? sok pede

Ga sayang sama ke-insinyur-annya?

Sayang.

Ga pengen jadi Magister Teknik / Master of Engineering? Kan bidang rekayasa lebih mudah memberikan kontribusi ke masyarakat.

Kepengen, sih jadi Magister Teknik atau Master of Engineering itu. Bahkan masih kepengen. Tapi kontribusi ke masyarakat ga selalu harus lewat bidang rekayasa — lagipula, “lebih mudah” di pertanyaan itu kayanya perspektif aja karena hasilnya lebih terlihat ketimbang non-rekayasa. Ciyus.

Bukannya pengen jadi (punya gelar profesi) insinyur?

Iya, betul kok. Masih pengen. Tapi kalo ga salah baca, gelar profesi insinyur bisa diraih di bidang yang masih terkait rekayasa/keteknikan. Optimalisasi – salah satu pembelajaran di Teknik Industri (sesuai gelar ST), bisa diterapkan dan diambil contoh kasusnya dari bidang yang di luar rekayasa/keteknikan, meskipun pemecahannya harus tetap memperhatikan kaidah teknik. Juga perihal manajemen proyek, yang secara istilah dekat dengan Teknik Sipil, tapi pada penerapannya bisa diterapkan juga di bidang komunikasi atau eksperimen sosial.

Bukannya jauh ya kaitan antara rekayasa dan sosial?

Betul. Ga salah. Bahkan di awal-awal kuliah magister ini saya harus melalui fase matrikulasi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tahapan studi. Fase matrikulasi juga berfungsi untuk memberikan landasan yang sama antara lulusan non-sebidang dengan yang sebidang – termasuk yang sama-sama rumpun sosial. Tapi pada prakteknya semuanya saling terkait. Banget.

Pindah jalur ke sosial karena tuntutan pekerjaan?

Ya dan tidak. Singkat cerita, dulu pas penentuan IPA-IPS masuk kelas 3 SMA (betulan, bukan XII ya) juga udah terbersit mau pilih kelas IPS atau bahkan Bahasa. Pun ketika mau pilih program studi pas ujian masuk kuliah. Meski kemudian kuliah di rekayasa dan bekerja di bidang sosial, sebagian ilmunya tetap kepake kok.

Good luck, then.

Terima kasih.

Sumber gambar.

Disclaimer: Saya sedang mencoba untuk mengubah cara saya membuat update postingan (ngeblog) start 2018 ini. Mudah-mudahan konsisten!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: