Browse By

Nama

Nama adalah doa dan pengharapan orangtua terhadap anaknya.

Katanya gitu. Iya, begitu. Sebagai lelaki yang sudah menjadi orangtua, saya mengamini perkataan tersebut. Tapi, sehubungan sejak sebelum jadi orangtua saya suka nulis, muncullah pemikiran lain, sbb:

Nama yang diberikan pada tokoh atau karakter di cerita fiksi itu termasuk doa dan pengharapan juga kah? Kalo iya, yang jadi orangtua-nya siapa? Penulis, atau karakter lain yang diciptakan (jika ada) sebagai orangtua di dalam ceritanya itu?

Kusut? Jelas. Udah pasti. Beberapa kenalan dekat saya — atau yang (pernah) sering interaksi dengan saya bilang saya sering overthinking, yang pada akhirnya tentu bisa memunculkan pemikiran itu. Tapi secara logika, bener kan? — terlepas dari penting/ga penting :mrgreen:

Pemikiran itu timbul karena saya — yang memang gemar menulis cerita fiksi, seringkali kesulitan untuk menentukan nama dari tokoh atau karakter yang berada dalam cerita fiksi saya. Idealnya, saya menentukan nama berdasar karakternya, misal Elang untuk lelaki yang berkarakter gagah, siap untuk melanglangbuana. Contoh lain misal Siti untuk perempuan yang memiliki prinsip tersendiri dan dipegang teguh.

Tapi seringkali memang penentuan nama tidaklah ideal, sih. Alhasil saya seringkali membuat karakter dengan sebutan warna, misal Biru, Merah, Kuning, Hitam, dan lain-lain. Setelah berjalan beberapa halaman dan cerita mulai dikembangkan, barulah dipilih nama yang kira-kira sesuai. Masih dengan landasan idealisme itu. Sayangnya, sehubungan saya belakangan (atau malah udah selalu? 😛 ) lebih sering nulis cerita pendek, alhasil ga begitu lagi. Seringkali malah comot nama aja yang keingetan duluan untuk sebuah karakter atau tokoh di dalam cerita.

Buyar sudah prinsip doa dan pengharapan. 😆

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: