Belajar dari Singapore

Pernah lagi buru-buru mau ke suatu tempat dengan berjalan kaki, tapi terhambat saat di eskalator? Atau, pernah lagi anteng-antengnya bawa kendaraan dan tiba-tiba harus mengerem mendadak karena ada yang nyelonong nyeberang? Atau ini, pernah mau turun dari kereta (dalam kondisi yang tidak berjejalan), tapi ga bisa keluar dan justru makin kedorong masuk kereta walaupun sudah berhenti di stasiun tujuan? Well, kalo di Singapore kaya’nya kejadian itu hampir jarang terjadi.

2 hari di minggu yang lalu saya ke Singapore. Bukan atas tujuan pribadi, tapi karena office duty – walau kemudian saya dapatkan beberapa jam bebas untuk menikmati (lagi) Singapore secara pribadi. Dan, lagi-lagi saya belajar tentang perilaku yang hampir jarang saya temui di Indonesia.

Seperti saya sebutkan di awal postingan, terhambat di eskalator sepertinya sudah jadi hal yang lazim di Indonesia. Mau itu di tempat umum, mau itu di mal, di tangga statis sekalipun, sepertinya akan dengan mudah terhambat. Kenapa? Penyebabnya banyak, jadi tak perlu saya jelaskan satu-persatu ya.. Yang pasti sih, kalo di Singapore hampir jarang saya terhambat saat menggunakan eskalator, tangga, atau bahkan di rel berjalan. Sebabnya, perilaku mereka yang “sadar diri” saat menggunakan eskalator atau rel berjalan.

Seperti kendaraan di jalan raya, apabila kita hendak diam atau berjalan perlahan maka haruslah di jalur sebelah kiri. Sementara apabila hendak menyusul atau lebih cepat, maka mengambil jalur sebelah kanan. Begitupun yang terjadi di eskalator ataupun rel berjalan. Para pengguna yang cenderung diam dan menunggu sampai di atas eskalator atau rel berjalan, haruslah berada di sebelah kiri. Sementara sebelah kanan harus “dikosongkan” untuk mereka yang hendak berjalan lebih dulu. Apabila kemudian ada yang diam di sebelah kanan, para pengguna/pejalan kaki di belakangnya pun tak segan untuk “menegur” secara halus. “Excuse Me..” atau “Step a side, please..” pun akan terucap.

Hal lain saya temukan saat sedang menggunakan subway MRT di Singapore. Tak ada namanya berebut naik dan turun dalam satu jalur. Semuanya tertib, turun MRT lewat mana, dan naik MRT lewat mana. Bahkan, di beberapa kesempatan saya menemukan para pengguna MRT mendahulukan para penumpang yang turun dari MRT, baru kemudian mereka naik. Itupun tidak berebut. Meski begitu, hasil pengamatan itu saat menggunakan subway tersebut di jam-jam sibuk (jam berangkat dan pulang kantor yang lazimnya pada jam 7-8 pagi dan atau jam 5-6 sore).

Oiya, bisa jadi tertibnya naik dan turun dari subway MRT karena ada petunjuk yang jelas di bagian bawah setiap peron. Naik lewat bagian mana, dan turun lewat bagian mana. Belum lagi, ada semacam “pengaman” di setiap peron agar tidak ada orang yang jatuh/turun ke dalam rel dan tertabrak subway MRT.

Ada juga tertib tidak merokok di sembarang tempat, tidak membuang sampah di sembarang tempat, hingga tidak menyetop kendaraan di sembarang tempat. Oiya, para pengemudi kendaraan mobil pun cenderung mengutamakan pejalan kaki yang akan menyeberang – tentunya saat menyeberang di zebra cross, dan bukan nyeberang sembarangan.

Apapun, perilaku yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan ini akan menjadi pembeda bagi mereka yang tinggal di Singapore dan bukan. Atau kasarnya, pembeda bagi mereka yang benar-benar bisa membaca dan patuh terhadap aturan, dan yang tidak. :mrgreen:

Alangkah senangnya hati saya, apabila kemudian penduduk Indonesia bisa belajar dari hal-hal tersebut dan menerapkannya di dalam negeri ini. Alangkah senangnya, apabila kemudian para penduduk lebih tertib. Bukan tak mungkin perilaku tersebut akan membuat para penduduk menjadi lebih toleran dan sedikit sekali pelanggaran yang harus terjadi. Ga salah kok kalo harus belajar dari negara lain, apalagi belajar dari Singapore yang notabene tetangga dan masih “bersaudara”. 🙂

Kapan ya, bisa ke Singapore lagi…?

12 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *