Short Story #361: Tak Bisa

“Keputusanmu ini sudah bulat?” Ben bertanya lagi untuk memastikan.

“Perlu kubilang berapa kali lagi supaya kamu yakin?” Ida balik bertanya.

“Ya.. untuk memastikan saja.” Ben menekankan. “Terutama soal hal-hal yang akan terjadi berikutnya.”

“Aku sudah tahu. Dan aku sudah siap.”

“Oke.” Ben menenggak minumannya. Mendadak ruang apartemennya terasa lebih hangat.

“Kamu kok sepertinya meragukanku? Kenapa?”

“Ga kenapa-kenapa.”

“Benarkah?”

“Iya. Emang kenapa?” Ben balik bertanya.

“Gesture tubuhmu berbeda dengan saat pertama kali aku-..”

“Kondisinya berbeda.” Ben memotong.

“Apanya yang berbeda? Aku di sini. Kamu juga di sini. Kita sama-sama di sini. Dulu dan sekarang.”

“Bukan perihal fisik.”

“Tapi bukankah kamu menyukai aktivitas fisik yang kita lakukan?” Ida memancing.

Ben kehabisan kata-kata. Ia kembali menenggak minumannya. Kepalanya sedikit terasa ringan. Sesuai dengan tujuannya. Sejenak kemudian ia sudah merebahkan kepalanya ke sandaran sofa.

“Aku pergi kalo kamu ga yakin. Tapi pilihanku sudah jelas dan pasti.” Ida merasa diabaikan.

“Tunggu.” Ben langsung menahan tangan Ida agar tak pergi.

“Aku ga ngerti dengan perubahan sikapmu ini.”

“Aku bukannya berubah sikap. Aku hanya memastikan. Seperti yang kubilang tadi.”

“Memastikan apa?”

“Memastikan bahwa aku juga menginginkan hal yang sama denganmu.” Ben memberitahu dengan mimik serius.

Ida diam. Entah kenapa ia merasa tertohok dan menyesal. Kenapa begini?

Masih memegang tangan Ida, Ben mengubah posisi duduknya.

“Karena beberapa orang bukannya tak bisa mencintai, mereka hanya tak bisa menunjukkan cintanya. Sementara aku sepertinya kebalikannya…” kata-kata Ben seakan-akan tahu pertanyaan dalam hati Ida. “..aku bisa menunjukkan cintaku, tapi aku tak bisa mencintaimu, seperti suamimu.”

Short Story #360: Stand Up

“Besok kamu ga perlu dateng lagi.” Pipit berdiri memberitahu Magda yang baru saja duduk di meja kerjanya.

Muka Magda terkejut. Ia tak menyangka jika niatan masuk kerja di pagi hari itu akan menemui kondisi seperti itu.

“Clean up your desk.”

“Aku dipecat?”

“If you say so.” Pipit beranjak dan menuju mejanya lagi.

Magda masih diam sejenak di kursinya untuk mencerna informasi dari diskusi yang baru ia lakukan. Lalu, ia teringat sesuatu dan langsung ke meja kerja Pipit yang terletak tak jauh dalam ruangan kerja mereka.

“Kukira kemarin kita udah clear.” Magda berkomentar.

“Memang.” Pipit memberitahu sambil menatap muka Magda. “Tapi kamu tetap ga perlu kerja lagi di sini. Denganku.”

“Ga masuk akal sesuatu yang udah clear justru jadi berakhir pait begini.”

“Aku ga pernah bilang ini bakal happy ending, ‘kan?”

“Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya mecat aku gitu aja, ‘kan?” nada suara Magda meninggi.

“Bisa begitu. Dan aku bisa mecat kamu gitu aja. Agreement kita di awal seperti itu. Tertulis juga di kontrak yang kamu pegang.” Pipit menjawab dengan suara kalem. “Semua hak kamu selama ini sudah dipenuhi, dan akan dipenuhi. Silakan diurus ke sekretariat.”

Magda mengepalkan tangannya. Ia kesal sejadi-jadinya. Tapi kemudian ia sadar bahwa yang terjadi sekarang harusnya tetap dalam ranah profesional. Sama seperti yang terjadi sehari sebelumnya.

Perlahan-lahan, Magda sadar bahwa sepertinya ia terlalu terbawa perasaan.

Sebentar kemudian, Magda menuju mejanya. Ia lalu membereskan barang-barang miliknya, memasukannya ke dalam tas punggung yang selalu ia kenakan, lalu bersiap keluar.

“Sekarang aku sadar kalo politik itu cuma soal kepentingan.” Magda berkomentar.

Pipit hanya melihat tanpa komentar.

“Emang mudah ya stand up ke yang berbeda pilihan seperti lawan-lawan kita. Juga lebih mudah menerima kalo mereka stand up melawan kita.” Magda melanjutkan, “But it’s much harder to stand up to your friends. Hard to do, and also hard to accept.”