Short Story #349: Alasan

Yoga merapikan pecahan-pecahan kaca yang berserakan di lantai. Sesekali ia menghela napas, tapi hanya itu. Tak ada perkataan yang ia ucapkan meski ia ingin.

Saat ia tengah memasukkan bagian kecil pecahan-pecahan kaca tersebut ke sebuah kantung kertas, Devi terlihat menarik kopernya menuju pintu depan. Beberapa langkah dari posisi Yoga.

“I’m leaving.” Devi memberitahu.

Yoga tak menjawab meski ia ingin sekali. Ia memutuskan untuk fokus membereskan pecahan kaca. Beberapa gulungan kertas besar ia masukkan ke dalam kantung kertas tadi agar tidak menyulitkan petugas kebersihan sehingga terkena kaca.

“Kamu denger ga?” nada suara Devi meninggi.

“Aku dengar.” Yoga memberitahu. Ia mencoba tenang sambil mengikat sampah pecahan kaca tadi lalu berdiri. Menatap Devi.

“Aku ga tau bakal balik lagi apa engga.”

“Ya.”

Meski sudah beberapa kali mereka bertengkar, tapi Devi masih saja sulit untuk menerima jika Yoga bisa setenang itu.

“Kalo aku ga balik lagi, kita udahan.”

“Kamu ngasitau atau nanya?” Yoga bertanya.

“Aku ngasitau.”

Yoga diam sejenak. Coba memikirkan perkataan selanjutnya. Coba memikirkan apa reaksi Devi berikutnya.

“Diam artinya setuju.”

“Ga bisa gitu. Aku diam karena mikir.” Yoga memberitahu.

“Kelamaan.” Devi bersiap untuk membuka pintu.

“Tunggu!” Yoga berteriak.

Devi diam. Pintu sudah setengah terbuka. Devi sudah setengah beranjak keluar.

“Tunggu apalagi?” Devi bertanya.

“Aku ga mau jadi alasan kamu untuk marah lagi.”

Devi diam. Mendengarkan. Menunggu.

“Kamu mau marah, ya silakan. Tapi jangan melulu beralasan karena aku yang salah.”

“Jadi menurutmu aku salah?”

“Bukan begitu.” Yoga memberitahu. “Marah, kesal, sebal, itu hak dan boleh. Tapi jangan selalu mencari-cari alasan untuk itu dari aku.”

Devi diam kembali.

“Asal kamu tahu, aku tahu kamu juga ga suka kan kalo aku marah-marah. Tapi aku kalopun begitu, aku kasitau kamu kenapanya, kira-kira berapa lamanya, dan apa yang baiknya kamu lakukan.”

“Tapi aku bukan kamu.” Devi memberitahu.

“Aku tahu itu.” Yoga langsung menjawab. “Makanya, kalo kamu marah-marah, ya aku diam. Karena segala yang aku lakukan, selalu bisa kamu jadiin alasan untuk lebih marah. Untuk lebih ngomel. Untuk teriak-teriak.”

Mendengar kalimat terakhir Yoga, Devi terhenyak.

“Kalo emang aku salah, ya bilang aku salah. Objektif. Jangan hanya karena ga sesuai sama maunya kamu. Karena itu subjektif.”

Devi menutup pintu. Lalu menatap Yoga.

“I’m not going to say sorry, since I’m not feeling sorry.” Devi memberitahu dengan suara parau.

“Ga harus.” Yoga memberitahu. “Dengan kamu sadar bahwa aku ga mau selalu dijadiin alasan kamu untuk marah-marah, itu udah cukup.”

“Ga bisa…” Devi berbisik.

“Kenapa?”

“Karena kamu juga jadi alasan aku supaya bisa jadi lebih baik.”

Short Story #348: Stick Back

“Kalo aku bisa milih, aku juga ga bakal mau pergi.” Julia memberitahu.

“Maksudmu, kamu ga punya pilihan?” Indra menanyakan hal yang sama, seperti beberapa tahun yang lalu.

“Kamu yakin mau ngulangin ini lagi?” Julia balik bertanya.

“Ya karena kamu ngomong gitu, aku jadi pengen inget lagi.” Indra memberitahu. “Karena sebenarnya, aku sudah lupa.”

“Termasuk melupakanku?”

Indra diam sejenak sebelum menjawab. Ia melihat cantiknya paras Julia yang seakan tak lekang oleh waktu.

“Iya.”

Julia langsung menarik napas. Ia tak menduga Indra akan bilang begitu. Setidaknya, tidak ia duga saat ia memutuskan untuk mendatangi kedai kopi yang dimilliki oleh Indra itu.

“Harusnya aku ga usah datang ke sini.” Julia mulai membereskan barang-barangnya. “Aku bodoh sekali karena mikir masih ada yang harus diselesaikan di antara kita.”

“Memang ada kok yang belum selesai.” Indra langsung menjawab.

Julia langsung berhenti. Ia kembali melihat ke arah Indra. “Sungguh?”

“Iya, tapi mungkin ga seperti yang kamu harapkan.”

Julia bimbang. Ia ingin mendengar apa yang Indra maksudkan, tapi ia takut ia tidak siap. Ia takut, apa yang Indra utarakan tak seperti harapannya.

“Kamu mau dengar?”

“Mungkin sebaiknya tidak.” Julia berkata sambil meretsleting tasnya. “Kali ini kuanggap semua di antara kita sudah selesai. We’re done.”

Julia lalu berdiri, dan ketika berjalan melewati kursi Indra, ia tertahan. Pergelangan tangan kanannya ditahan oleh Indra yang sedang menatapnya.

“Aku mohon maaf kalo ternyata kamu justru patah hati.” Indra memberitahu. “But one thing for sure, one day, someone is going to hug you so tight, that all of your broken pieces will stick back together.”

Short Story #347: Catch Up

“Ga pernah aku ngerasa sesendiri ini…” Renata menggumam.

“HeY, what are you talking about? I’m always here.” Kusno langsung merespon dengan memeluk lebih erat.

Renata menoleh ke Kusno yang berada di sampingnya. “Maksudku bukan kamu…”

“Trus, ada cowok lain dalam hidupmu?” Kusno bertanya. Memastikan.

“You know you’re the one only.”

Kusno tersenyum. Lalu membelai rambut Renata.

“Ini soal yang kemarin itu?” Kusno akhirnya bertanya lagi.

“Tepatnya, beberapa bulan yang lalu itu.”

“Still no follow-ups?”

“Gimana bisa ada follow-up kalo obrolan terakhirnya ya begitu itu.”

Kusno menghela napas. “Beberapa orang emang suka gitu sih, milih buat ga lagi  jadi bagian hidup kita.”

“Tapi aku pengen mereka jadi bagian hidupku. Hidup kita.” Renata memberitahu. “Tapi kenapa harus gitu, sih?”

“Well.. dua hal yang pasti tentang orang lain di hidup kita. Kita ga bisa milih, dan kita ga bisa maksa.” Kusno memberitahu.

“Ucapanmu terdengar religius banget.”

“Ya… gitu lah.”

Giliran Renata menghela napas. Lalu menarik tangan Kusno agar memeluknya lebih erat. Kusno pun makin mendekatkan kepalanya ke kepala Renata.

“Life goes on. Dengan atau tanpa beberapa orang, kamu tetap harus ngelanjutin hidup.” Kusno berbisik.

“Tapi gimana kalo aku sayang banget dan berharap mereka terus ada dalam hidupku?” Renata kembali bertanya.

“So don’t worry. Kalo emang udah takdirnya, they’ll catch up.”

Short Story #346: Bikin Happy

“Udahan ya nangisnya.” Harsa membujuk Lindri yang masih sesenggukan. “Nanti berkurang cantiknya.”

“Jadi jelek, gitu?” Lindri menjawab sambil masih sesenggukan.

“Ya engga. Berkurang aja cantiknya daripada biasanya.” Harsa langsung merespon.

“Kalo mau bilang aku jelek, ya jujur aja deh. Ga usah sok-sok ngehibur segala.” Lindri membentak.

Harsa sejenak kaget, tapi kemudian justru terkekeh.

“Yaudah, terserah kamu deh mau nangis sampe kapan. Yang pasti kalo nangis terus, bakal capek lho. Mending tenaganya dipake buat yang lain. Yang lebih berguna. Yang lebih pasti. Yang lebih baik.”

“Seperti?”

“Ya.. hal-hal yang bikin kamu happy, misalnya.”

“Iya, seperti apa?” Lindri mulai tertarik, tapi tissue masih di tangannya untuk sesekali menyeka linangan air matanya.

“Jalan-jalan? Belanja? Makan?”

“Kamu tuh ya, garingnya ga abis-abis.” Lindri menjawab. “Jelas-jelas aku ga suka itu semua, gimana bisa happy?”

“Ehehe.. kamu kaya’ baru kenal aku aja. Emang gini bukan?” Harsa membela diri.

Lindri sebal dan hendak memukul lengan Harsa, tapi belum sempat terjadi Harsa sudah bersiap dan menghindar.

“Katanya pengen aku happy, masa’ aku mau mukul karena sebel kamu justru menghindar?”

Harsa tak menjawab. Kemudian pasrah lengan kirinya ditonjok beberapa kali oleh Lindri.

“Udah?” Harsa bertanya sambil jaga image, meski dalam dada ia menahan sakit.

“Udah.” Lindri memberitahu. “Makasih, ya.”

“Anytime..”

“Mukulnya?”

“Lho, bantu bikin happy-nya!” Harsa langsung mengoreksi.

“Ya kirain…”

 

Short Story #345: Sedikit Cerita

“Bener ‘kan yang gue bilang kemaren.” Sarah berkomentar sambil menyimpan tasnya di atas meja kubikelnya.

Jane dan Jeremy yang menjadi teman dekat kubikelnya, serempak menoleh.

“Yang mana?” Jeremy bertanya.

“Itu lho, yang kemaren sore.” Sarah menjawab. “Pagi ini gue liat sendiri tuh ternyata si anak baru itu emang udah tekdung!”

“Lo liat di mana, nek?” Jane antusias.

“Gue tadi sampe langsung ke rest room cewek kan, trus si anak baru itu keliatannya lagi cuci muka. Gue perhatiin, mukanya pucet. Kaya’ abis muntah-muntah gitu.” Sarah memberitahu sambil duduk dan mendekati Jane.

“Ah, lo tau dari mana kalo abis muntah-muntah pasti mukanya pucet?” Jeremy bertanya. “Lagipula, emang udah pasti kalo muntah-muntah itu pasti karena tekdung?”

Sarah dan Jane melihat Jeremy dengan tatapan sinis.

“Lah, gue beneran nanya ini..” Jeremy berkilah.

“Selepas dia keluar, gue ga sengaja nih ngeliat testpack stripnya dua di tempat sampah.” Sarah memperlihatkan testpack sudah dipakai dalam kertas plastik bening.

“Buset, lo sampe segitunya…” Jane berkomentar.

“Emang udah pasti punya dia? Kali-kali aja punya orang lain yang emang belom dibersiin dari semalem sama CS.” Jeremy menyambung.

“Udah deh, Jem. Diem aja deh lo. Ga asik!” Sarah sebal.

“Lah, yang ga asik kaya’nya elo sih, Sar.” Jeremy membalas.

“Kenapa jadi Sarah yang ga asik?” Jane tambah bertanya. Ia semula setuju dengan Sarah bahwa Jeremy “ga asik”.

“Gini ya nek,” Jeremy ambil posisi, “Lo mendingan jangan langsung nuduh begini-begitu, dosa tau ngegosipin orang itu. Bisa jadi fitnah malah. Apalagi lo cuma tau sedikit cerita dari yang lo liat aja kan, atau didenger dari orang lain dan bukan dari subjeknya langsung. Kalo ga tau cerita lengkapnya tuh bisa bikin misleading, kaya’ gini ini nih. Lagipula kalopun dia tekdung, ya bukan urusan lo juga. Bisa jadi dia di luar emang udah merit atau dia punya pertimbangan sendiri kenapa begitu.”

“Tapi ‘kan-” Sarah tak meneruskan kalimatnya karena Jeremy menunjukkan tanda STOP dengan tangannya.

“Kalo ini diterusin, gue mau request ah sama pabos buat pindah kubikel. Mendingan gue dibilang ga asik sama orang ga asik beneran karena ngegosipin orang. Dari gosip, ujung-ujungnya nuduh, atau malah fitnah. Gue ga mau jadi bagian dari itu.”