Short Story #340: Jangan Minta Kemudahan

“Kenapa sih lo? Udah kaya’ kebelet pengen boker tapi kamar mandi lagi penuh.” Yoga mengomentari Bagas yang sedari tadi terlihat gelisah.

“Deg-degan gue.” Bagas menjawab singkat.

“Sidang besok?” Yoga bertanya lagi sambil kemudian duduk di depan Bagas lalu meminum minumannya.

“Iya.” Bagas menjawab singkat lagi.

Yoga melihat sejenak Bagas yang masih gelisah meski tak memegang bahan untuk sidangnya.

“Kalo lo udah yakin sama yang lo pelajarin, selow aja lah ngadepin sidangnya.”

“Kalo udah kelar mah, gampang ngomongnya.” Bagas berkomentar. “Udah ah, gue mau jalan-jalan keluar aja. Kirain duduk di sini bisa tenang, tapi sama aja kaya’ di kamar. Stres gue!”

Yoga lalu memperhatikan Bagas ke pintu keluar. Lalu diam. Sejenak ia kembali lagi ke ruang tengah, dan duduk lagi.

“Lah…”

“Diem aja deh lo.”

“Ya abis…”

“Lo kaya’ ga stres aja sebelom lo sidang kemaren..” Bagas sebal.

“Ya emang engga. Kan gue bedoa.” Yoga memberitahu.

“Gue juga udah bedoa kali. Bedoa supaya besok dimudahin. Tapi jadinya malah gue deg-degan gini.” Bagas merespon.

“Ya bedoanya jangan gitu. Harusnya jangan bedoa buat minta kemudahan, tapi bedoa minta kekuatan buat dapet ngadepin apapun yang bakal terjadi.”

Short Story #339: Attention

Sari baru saja sampai ke kantornya. Tapi ia sudah terlihat lelah. Bukan karena perjalanan menuju kantornya, tapi hal lainnya…

“Malam panjang?” Ayu, teman sekantornya menebak.

“Ya gitu lah.” Sari menjawab singkat.

“Kalo kamu capek, konsultasi hari ini bisa aku handle semua.”

“Trus aku makan gaji buta, gitu?”

“Yee.. co-owner makan gaji buta itu wajar kali.” Ayu memberitahu.

“Jadi itu yang selama ini kamu lakukan?”

Ayu langsung menjawab dengan tertawa. Sari juga. Lepas sejenak sepertinya beban yang ada di dalam dirinya.

“Tapi aku serius, lho. Kamu serahin aja semua jadwal konsultasi hari ini ke aku kalo emang kamu butuh istirahat.”

“I’m okay.” Sari menjawab. “It’s not the first time.”

“Justru karena bukan pertama kalinya.” Ayu langsung merespon. “I’m worried.”

Lalu Sari diam. Ayu mendekat. Memegang pundak Sari.

“Kenapa kamu milih buat begini?” Ayu bertanya.

“Udah pernah aku kasitau dan kita bahas juga kenapa aku milih dia, ya.” Sari langsung menjawab. “I’m not sorry for that.”

Sari lalu pergi mengambil minum di dispenser di ruangan mereka. Ayu kembali mendekati.

“Maksudku… kenapa kamu milih untuk terus berusaha? Padahal kamu tau sendiri ada begitu banyak pilihan lain yang bisa jadi lebih baik untuk kamu ambil.” Ayu kembali bertanya.

“Kalo aku bilang karena cinta, kamu percaya?”

Ayu diam sejenak sebelum menjawab. Ia tahu cinta dapat membuat orang buta dan lupa diri. Tapi ia juga tahu cinta adalah obat dan motivasi terbaik.

“Entah..”

Sari tersenyum sejenak. “Pengalaman konselingmu harus ditambah jenis kasusnya kayanya, ya supaya lebih ngerti tentang afeksi.”

“Contohnya?”

“Ayu.. those who needed love the most, would seek attention by ways you would least expected.”

Short Story #338: Fragmen

“Udah ada keputusannya?” Santi bertanya sambil menatap Ferdi, lelaki yang telah menjadi pasangannya selama beberapa tahun terakhir.

“Belum.”

“Butuh berapa lama lagi?”

“Ga tau.”

“Kamu biasanya cepat ambil keputusan.” Santi berkomentar.

“Tapi ga yang melibatkan perasaan.” Ferdi memberikan alasan.

Santi diam. Sebenarnya ia sudah jengah. Sudah gemas. Ingin agar Ferdi segera mengambil keputusan, atau dia yang akan mengambil keputusan. Tapi ia tidak berada di posisi yang kuat untuk itu. Setidaknya, saat ini, setelah apa yang terjadi.

“Aku ga maksa ya untuk apapun keputusanmu.” Santi menegaskan lagi kalimat yang telah ia ucapkan beberapa hari yang lalu. Saat ia mengaku.

“Aku tau.” Ferdi memberitahu. “Tapi kamu maksa supaya aku cepat ambil keputusan.”

“Karena makin lama dibiarkan, makin besar potensi luka yang timbul.” Santi memancing.

Ferdi mendengus. Ia tidak terpancing.

“Kalo kamu emang udah ga ada niatan lagi, mungkin harusnya kamu yang ambil keputusan.”

“Maunya sih gitu.” Santi langsung merespon. “Tapi aku ga mau dicap ingkar janji lagi.”

Nafas Ferdi sedikit memburu. Ia kesal karena teringat lagi saat Santi mengaku. Saat ia tahu bahwa Santi mengingkari janjinya.

“Buatku, yang terbaik itu adalah adalah yang kita tau kita bisa menjalaninya.” Santi menasihati. “Sesederhana mengikuti kata hati.”

“Buatku, itu ga sederhana.”

“Kenapa bisa?”

“Kan kamu bilang, ‘Ikuti kata hati.’ Tapi gimana bisa ngikutin kata hati kalo hatimu terpecah luluh lantak jadi jutaan fragmen? Bagian hati mana yang harus aku ikuti?” Ferdi merespon.

 

NB: terinspirasi dari salah satu twit oleh @tikabanget.

Short Story #337: Ada Waktu

Malam itu sudah 2 kali Christine mencoba menelepon Siti, teman dekatnya sejak SMA lalu. Tapi, 2 kali itu juga hanya terdengar nada sambung berakhir dengan sambungan putus. Bukan, bukan ditutup atau di-reject, tetapi pemberitahuan bahwa si penerima tak juga mengangkat.

Christine khawatir. Ia merasa bersalah karena seharian itu Siti sampai 5 kali meneleponnya, tapi tak sekalipun bisa ia angkat berlama-lama. Sekalinya ia angkat dan bicara, ia hanya bisa memberitahukan bahwa ia sedang sibuk. Pun juga dengan pesan yang ia kirim bahwa ia sibuk, tanpa ada balasan dari Siti.

Ketika akhirnya ia memutuskan untuk membelokkan perjalanan pulangnya justru ke arah rumah Siti, teleponnya berbunyi. Siti meneleponnya.

“Hei..” Christine langsung menyapa.

“Hai. Udah ga sibuk?” Siti bertanya. Christine merasa bersalah sekaligus tidak enak karena Siti menanyakan kesibukannya itu.

“Udah engga. Aku otw ke rumah kamu.” Christine memberitahu.

“Oh ya? Ga usah aja ya. Aku udah gapapa.” Siti memberitahu.

Merasa ada yang janggal, Christine lalu menepikan kendaraannya di sebuah slot parkir pinggir jalan.

“Gapapa, aku udah setengah jalan.”

“Ke rumahmu juga udah setengah jalan lagi kalo gitu, kan.”

Christine diam. Tak biasanya Siti menolaknya. Mungkin ia sakit hati. Mungkin ia sebal. Tapi…

“Aku minta maaf kalo kamu tersinggung karena aku ga sempet angkat telepon tadi. Ada apa sih sebenernya?”

“Ga ada apa-apa. Aku cuma pengen ngobrol aja. Bentar. Buat ngalihin beberapa hal di pikiranku.”

“Nanti juga kamu bisa ngobrol sama aku begitu aku sampe.” Christine memberitahu. “Atau bisa sekarang. Aku udah nepi dulu.”

“Ga usah. Makasih.” Siti memberitahu. “Aku udah berhasil ga mikirin lagi hal-hal yang tadinya mau aku obrolin sama kamu, kok.”

Christine tak menjawab. Diam. Ia benar-benar merasa bersalah. Tapi…

“I’m okay. I’m not going to end my life.” Siti memberitahu. Seakan bisa membaca pikiran Christine. “Well at least, not tonight.”

“Kenapa kamu mikir gitu?”

“Biar kamu tau aja, aku ga se-desperate itu. Meski kadang aku juga perlu orang buat dengerin aku di saat yang aku mau.”

Christine hendak menjawab bahwa “orang” yang dimaksud Siti adalah dirinya, tapi ia langsung mengenyahkan pikiran itu karena ia sadar hari ini ia sudah membuktikan ia tidak bisa menjadi orang itu.

“I’m sorry.”

“Stop it. Aku ga nyalahin kamu.” Siti memberitahu.

“Tapi aku merasa bersalah..”

Lalu hening. Siti tak merespon sementara Christine seakan kehabisan kalimat.

“Gini aja deh, pastiin lain kali kamu ada waktu, ya.” Siti memberitahu.

“Aku ga bisa janji.”

 

“Oke. Gapapa. Sama halnya aku juga ga bisa janji lain kali aku bakal nyari kamu buat ngobrolin hal-hal seperti ini.”

“Kenapa gitu?” Christine sedikit tersinggung meski ia tahu bahwa itu adil.

“Karena esensi terpenting dari mendengarkan adalah menyediakan waktu untuk mendengarkan.” Siti memberitahu. “Karena kadang yang diperlukan hanyalah didengarkan, bukan direspon, apalagi ditemani. Dan, mendengarkan itu harus segera. Ga bisa nanti-nanti.”