Short Story #336: Sunyi

TOK! TOK! Pintu apartemen Alvin diketuk dari luar.

Alvin yang sedari tadi hanya diam tanpa suara di kursi santai menghadap balkon, berdiri dengaan enggan lalu menghampiri pintu. Membukanya.

“Hei..” Jessica menyapa.

“Tumben ke sini ga bilang-bilang dulu?” Alvin bertanya tanpa beranjak dari pintu yang setengah terbuka.

“Lagi di sekitaran aja. Sekalian aja mampir.” Jessica berkilah.

Alvin tak langsung percaya. Ia menyimak penampilan Jessica dari atas sampai bawah.

“Oke, aku bohong.” Jessica langsung menambahkan. “Aku emang sengaja mau ke sini.”

“Ngapain?”

“Ngecek aja.”

“Ngecek apa? Aku?”

“Emangnya ada orang lain yang tinggal di sini selain kamu?” Jessica balik bertanya.

“Kalo aku jawab ada, gimana?” Alvin menjawab dengan nada sedikit sinis. Perasaannya campur aduk antara senang dan sebal.

“Well.. good for you.” Jessica menjawab. “Aku pergi dulu kalo gitu.”

Tepat di saat Jessica hendak berbalik, Alvin berhasil memegang pergelangan tangannya. Menahannya untuk pergi.

“Ga ada siapa-siapa selain aku.” Alvin memberitahu sambil membuka lebar pintu. Tapi, Jessica hanya melihat dari luar pintu dan tidak masuk.

“Kamu bohong pun, aku bakal percaya.” Jessica memberitahu.

“Kamu ga mau masuk?”

“Seperti kubilang tadi, aku cuma mau ngecek.”

Perlahan, Alvin melepaskan pegangannya. Tapi, ia masih membuka lebar pintunya. Bahkan, sudah bergeser ke ambang pintu, memberikan ruang bagi Jessica jika ia hendak masuk.

“Kenapa sih kamu mau repot-repot ngecekin aku? Keluarga aku sendiri pun ga ada yang peduli. Bahkan, mereka percaya kalo aku bakal baik-baik aja. Sama seperti di hari itu.”

Giliran Jessica yang mengambil tangan Alvin, lalu menggenggamnya. Hangat, itu yang Alvin rasakan. Ia ingin sekali menarik tangan Jessica agar masuk ke apartemennya, tapi…

“That’s what friends are for…”

“Iya, tapi kenapa?”

“Karena kesedihan terdalam adalah yang diungkapkan dalam sunyi. Bukan yang diketahui banyak orang.” Jessica memberitahu. “Dan itu yang aku liat terjadi sama kamu. Sejak hari itu. Sejak kamu ga banyak ekspresi. Orang bisa bilang kamu tegar dan kuat, tapi aku tau.. di dalam dadamu ini, kamu rapuh.”

Short Story #335: Teman Adalah..

“Just in time.” Arum berkomentar setelah berjalan agak cepat dari pelataran bandara ke kursi duduk di luar meja check-in. Wita, teman kecilnya yang sudah sedari tadi di bandara, lalu berdiri dan memeluknya.

“Good to see you.”

“Aku lebih seneng lagi.” Arum memberitahu. Lalu ia celingak-celinguk melihat sekitar Wita yang hanya ada koper dan tas. Tentunya, selain calon penumpang lain. “Om dan tante ke mana? Ga ikut?”

“Mereka udah pulang.” Wita memberitahu. Sambil kemudian merogoh-rogoh tasnya, mencari sesuatu.

“Yah, kirain masih ada. Aku juga udah lama ga ketemu mereka.”

“Ini.” Wita memberikan sesuatu dengan bungkusan kado. Mengabaikan komentar Arum.

“Buka sekarang?”

“Iya, buka sekarang boleh.”

Dalam beberapa tarikan saja, bungkus sudah terbuka. Isinya sebuah figura logam dengan foto 2 orang perempuan muda. Arum dan Wita, belasan tahun yang lalu.

“Udah ada teknologi watsap dan fesbuk, masih aja cetak foto.”

“Biar lebih berkesan. Lagipula, biar langsung kamu pajang di mana gitu di kamarmu itu.”

Arum tertawa. Juga Wita.

“Udah check-in?”

“Udah.” Wita menjawab. “Keep contact, ya.”

“Hei, biasanya yang mau ditinggal keluar negeri yang bilang gitu.”

“Aku tau. Makanya aku bilang duluan, biar ga biasa.”

“Btw, kamu ga sengaja nyuruh om dan tante pulang duluan kan?” Arum penasaran.

“Ah, kamu tau sendiri bukan? Bagi mereka, waktu itu uang. Jadi, kalo secara seremonial udah kelar, ya udah. Yang penting esensinya dapet.” Wita menjelaskan.

“Iya sih.. tapi kan…”

“Udah lah. Aku yang jadi anaknya mereka biasa aja. Why do you have to be worried?”

“Ya aku penasaran aja.” Arum mengulang.

“Ah kamu, kaya’  kita baru kenal aja.”

“Anyway, makasih ya fotonya. Aku ga sempet mikir buat ngasih apapun buat kamu.”

“Gapapa.. Kamu dateng aja, aku udah seneng.” Wita memberitahu. “Mudah-mudahan aku ga kehilangan kamu banget pas udah sampe sana.”

“Hei.. lagi-lagi ya.. itu kan harusnya diucapin orang yang mau ditinggal pergi.” Arum menegur sambil kemudian tertawa.

“Aku tau..” Wita menjawab. “Tapi aku beneran lho..”

“Emang ga bakal kehilangan keluarga kamu?”

“Itu kan udah pasti, tapi biasanya kehilangan teman ya lebih nyesek.”

“Kenapa?”

“Karena teman adalah keluarga yang kita pilih. Dan, setauku pilihan itu sudah tepat sejak kita sekolah dulu.”

Short Story #334: Apa Masalahnya?

“Jadi maumu apa, sih?” Lena menjerit putus asa setelah terus-menerus adu argumen dengan Tristan. Bukan hari ini saja, tapi sudah sejak berhari-hari yang lalu. Tentu, dengan jeda yang tak bisa dijelaskan di antara keduanya.

“Kamu udah tau apa mauku.” Tristan menjawab singkat.

“Kalo aku bilang ga bisa?!”

“Kamu harus kasitau aku kenapa ga bisa?”

“UDAAAAHHH…” Lena berteriak. Frustasi. Ia menarik rambutnya sendiri sambil berjalan di koridor menuju ruang depan dari kamarnya. Ia lalu melemparkan dirinya ke sofa panjang.

Tristan menyusul tanpa suara. Lalu duduk di kursi di depan sofa. Menunggu.

“Could you please just go away?”

“Aku udah janji ga bakal ninggalin kamu, ga bakal biarin kamu sendiri, trus kamu aku ingkar sama janji aku sendiri?”

“UUURRRGGHH…” Lena sebal. Kesal. Ia lalu menarik bantal, lalu menutup mukanya. Perlahan, tanpa bisa ia tahan, air mata mengalir dari sudut matanya.

Sesenggukan, Lena merasa dadanya sesak. Ingin rasanya untuk melempar bantal lalu memeluk Tristan, seperti biasanya, tapi…

“Sini…” ucap Tristan yang tanpa diduga sudah terduduk di lantai dekat Lena.

Lena hanya menjawab dengan dengungan sambil menghadap sandaran sofa. Memunggungi Tristan.

Tristan menghela napas. “Harus gimana lagi supaya kamu ngerti kalo cuma kamu yang paling baik buat aku?”

“Kamu ngomong gitu karena kamu belum ketemu yang lebih baik aja, ‘kan…” Lena menjawab dari balik bantal. “Coba kalo udah…”

Tristan tak menjawab. Ia ingin sekali untuk memeluk Lena, tapi…

“Aku capek begini terus, ribut terus, marah-marah terus..” Lena akhirnya membalik badan sambil memeluk bantal. “Lebih baik kita ga sama-sama lagi.”

“Aku ga tau kenapa dan gimana bisa kok kamu mikir gitu.” Tristan langsung merespon cepat. Meski kesal, ia tetap coba mengatur nafas dan nada suaranya. “Kecuali emang.. kamu udah ngerasa kalo kita ga sama lagi, atau nemu yang lebih baik dari aku.”

“Aku ga ada orang lain selain kamu.”

“Trus, apa yang jadi masalahnya?”

Lena tak menjawab. Air mata masih mengalir perlahan di pipinya. Meski sesak, tapi ia tahu bahwa yang dikatakan oleh Tristan benar adanya.

Short Story #333: Gone

“Hei.. udah lama?” Sarah bertanya sambil meletakkan tasnya di kaki-kaki kursi.

“Engga, baru juga lima belas menitan.” Intan menjawab sambil menyesap kopinya. “Kamu mau pesen dulu?”

“Gampang lah. Ntar aja.” Sarah menjawab lalu mengeluarkan ponsel dan dompetnya dari tas dan disimpan di atas meja.

“So.. ada kabar apa, nih? Kok kesannya misterius, dadakan, dan buru-buru?” Intan penasaran. “Kamu mau ngasih undangan merit?”

Sarah memutar bola matanya sejenak lalu menatap ke arah ponselnya. “Ya.. mendekati lah.”

“Wah! Harus kita rayakan!” Intan setengah memekik.

“Sssttt…” Sarah meminta agar tidak berisik tapi sedikit terlambat karena beberapa tamu di meja terdekat sudah langsung menoleh ke pekikan Intan.

“Hihihi.. sori. Sori..” Intan merasa bersalah. “Jadi, siapa pria beruntung itu?”

Sarah menggigiti bibir bawahnya sejenak, lalu kedua tangannya saling mengusap.

“You can tell me later if my curiosity bugs you.” Intan memberitahu.

Sarah tersenyum. Namun Intan menyadari jika itu dipaksakan.

“It’s Elang.” Sarah memberitahu. Pendek. Mimiknya ragu namun menebak-nebak apa reaksi Intan selanjutnya. Karena meski sekejap saja, Intan terlihat terkejut.

“..Hey.. Yaaaa… gapapa. Mungkin dia emang pria yang tepat buat kamu.”

“Kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu itu?” Sarah bertanya. Memastikan.

“Of course.” Intan menjawab cepat. “Apa yang terjadi di antara kita, sudah lewat. Sudah berakhir. Sudah selesai. We’re done.”

“Aku tau kok sejarah kalian cukup panjang. Aku ga bermaksud untuk ngegantiin posisi kamu, ‘Tan.”

“Hey… ga usah dipikirin. Gantiin posisi atau justru kalian jadi pasangan yang benar-benar baru, it’s not my business.”

“Well…”

“Udah. Ga usah dipikirin. Aku aja mantannya Elang biasa aja kok. Kenapa kamu jadi yang ngerasa ga enak?”

“Soalnya kan, kita temenan. Dan temen ga saling rebutan.”

“-Kecuali kalo udah bukan haknya. So it’s free to do.” Intan menambahkan segera.

“Umm…”

Intan menangkap ragu dan khawatir yang berada di diri Sarah. Maka, meski sebagian hatinya sedikit terluka, ia menggenggam tangan sahabatnya sejak lama itu. Dingin. Sementara yang Sarah rasakan, hangat.

“I don’t know if you’re needing this or not, but I’ll give you an advise.”

Intan diam sejenak sementara Sarah mulai menampakkan mengharap. Sambil menyusun kata-kata, ia mendadak terkenang kembali hal-hal yang telah ia lewati dan lakukan dengan Elang di masa lalu.

“Buat dia, saling percaya adalah paling utama. Seperti elang yang sering mengangkasa, ia tak suka dikekang namun juga terlalu berharga untuk dilepaskan. Respect him, and you’ll earn his respect. Dan kalo dia udah respect sama kamu, maka kamu wajib untuk respect sama dia. Because, you don’t know what you’ve got ‘til it’s gone.”