Short Story #332: Dreamer

Vera memutar-mutar cincin yang masih melingkar di jari manisnya. Bimbang. Sementara Aldi menarik napas dengan tenang di kursi depannya.

“Aku ga sanggup begini lagi.” Vera memberitahu lirih. Suaranya parau. Ia menunduk tanpa melihat Aldi.

Jika di situasi biasanya, Aldi akan langsung merespon dan bertanya kenapa Vera berkata begitu. Tapi, kali ini Aldi diam saja. Menerima. Menunggu.

“Mungkin ini saatnya…” Vera berkata lagi.

Aldi masih tak menjawab. Tapi ia melihat Vera di depannya. Rambutnya yang sering ia elus-elus. Pundaknya yang sering ia tutupi dengan jaket saat berjalan malam. Jemarinya yang….

“Kamu dengerin ga?” Vera bertanya.

“Iya. Aku denger.” Aldi menjawab. “Aku cuma ga tau harus jawab apa.”

Vera mendengus. “Biasanya kamu punya banyak jawaban.”

Aldi kembali diam tak menjawab. Vera pun kembali diam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri, sambil sesekali menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh lawan bicaranya.

“Sebelom kamu pergi dari hidupku, bisa ga kamu kasitau aku apa yang bikin kamu ga nyaman sama aku?”

Vera diam. Berpikir. Semula ia hendak langsung menjawab, tapi hatinya menyuruhnya untuk bersabar. Untuk memikirkan apa jawaban terbaik.

“You are a dreamer.” Vera menjawab. “Kamu terlalu sibuk mencari dan melihat ke awang-awang, sementara aku ketinggalan di sini, di pijakan kakimu dan melihat pada kenyataan.”

Aldi mengganti posisi duduknya. Mencondongkan badannya sedikit ke arah Vera.

“I may a dreamer.. But I dream about you. About us.”

Gimana Caranya Dapat Tiket Pesawat Murah?

Jalan-jalan jauh, paling enak memang menggunakan pesawat. Waktu perjalanan yang cepat menjadi faktor utama kenapa pesawat dipilih. Bayangkan jika hendak bepergian ke lain kota yang berada di beda pulau menggunakan transportasi darat disambung laut, lalu darat lagi? Bisa berhari-hari menempuhnya dibandingkan beberapa jam saja dengan pesawat.

Bepergian dengan pesawat pun menjadi primadona belakangan ini, terlebih menjamurnya maskapai yang menyediakan tiket murah seperti AirAsia, Citilink, sampai dengan Lion Air. Belum lagi promo yang disediakan pada waktu-waktu tertentu. Jalan-jalan jauh pun tak lagi mimpi.

Berikut beberapa cara untuk dapatkan tiket pesawat murah untuk bepergian:

  1. Pesanlah jauh-jauh hari dari tanggal keberangkatan.
    Beberapa maskapai atau online travel agent menyediakan tanggal keberangkatan hingga 1 tahun sejak tanggal booking. Tanggal keberangkatan pesawat yang jauh dari tanggal booking biasanya lebih murah karena belum begitu banyak dipesan dan belum dipengaruhi oleh animo pemesan dan hari libur.
  2. Membeli saat ada promo. Bisa dengan promo maskapai atau kartu kredit.
    Promo adalah cara paling efektif untuk mendapatkan tiket murah. Tak tanggung-tanggung, promo dapat membuat tiket pesawat lebih murah 50% dibandingkan publish price atau di luar periode promo. Membeli pada saat promo bisa dilakukan di saat periode yang dilakukan oleh maskapainya ataupun kartu kredit yang dimiliki dan digunakan untuk membayar.
  3. Membeli menggunakan online travel agent.
    Online travel agent seperti tiket.com, traveloka, sampai dengan nusatrip biasanya memiliki promo tersendiri di luar yang disediakan oleh maskapai atau kartu kredit. Promo yang disediakan berupa cash back tunai sampai dengan diskon atau potongan harga.
  4. Tanggal keberangkatan/pulang tidak di hari weekend (akhir pekan).
    Hari-hari akhir pekan menjadi pilihan utama bagi para pekerja kantoran untuk melakukan perjalanan. Hal itu disinyalir terkait dengan cuti bagi para pekerja kantoran tersebut. Sehingga tak jarang tanggal keberangkatan/pulang di akhir pekan harga tiket pesawat jauh lebih mahal ketimbang di hari biasa (weekdays).
  5. Berangkat/pulang tidak berdekatan dengan tanggal libur/hari raya nasional/lokal.
    Tanggal libur atau hari raya nasional/lokal juga biasanya mendukung harga tiket pesawat menjadi lebih mahal. Hal ini karena orang lain juga hendak bepergian di hari tersebut sehingga animo lebih tinggi ketimbang hari biasa.
  6. Memilih destinasi yang popularitasnya lebih kecil.
    Bepergian ke sebuah destinasi yang popularitasnya lebih tinggi juga menunjang harga tiket pesawat yang lebih tinggi. Tiket pesawat ke Tokyo dan Osaka Jepang misalnya, di hari dan tanggal yang sama akan lebih mahal ke Tokyo daripada ke Osaka meskipun berada di negara yang sama. Memilih destinasi yang tidak popular bukan berarti tidak akan ke destinasi yang popular, melainkan hanya trik agar lebih murah dan cepat sampai, baru kemudian mencari tranportasi lokal.
  7. Memilih destinasi bandara yang berdekatan dengan tujuan utama/bandara sekunder.
    Beberapa kota besar memiliki bandara lebih dari satu. Jakarta saja misalnya, memiliki bandara utama Soekarno-Hatta dan juga Halim Perdanakusuma sebagai sekunder. Pemilihan bandara sekunder dapat membuat tiket pesawat lebih rendah ketimbang bandara utama karena biaya maskapai untuk ke bandara tersebut juga lebih murah, yang tentunya turut dihitung menjadi harga tiket pesawat.
  8. Pilih perjalanan dengan transit daripada langsung.
    Meskipun lebih nyaman, direct flight atau penerbangan langsung memiliki harga yang lebih mahal ketimbang perjalanan dengan transit.

Meski begitu, ada beberapa hal yang jangan sampai dilupakan dalam rangka mencari tiket pesawat murah itu, antara lain sebagai berikut:

  1. Review mengenai maskapai yang akan digunakan.
    Beberapa maskapai terkenal dengan jargon tiket murahnya, beberapa lainnya dengan kualitasnya. Ketika sebuah maskapai dengan kualitas tinggi ternyata menyediakan tiket murah, harus dicari tahu ulasan (review) apakah kemudian dioper ke maskapai segrup atau tidak.
  2. Perhatikan lama perjalanan.
    Jangan hanya karena murah, lalu rela transit yang ternyata dilakukan beberapa kali sehingga tentunya akan melelahkan dan merepotkan.

Jadi, sudah siap untuk berburu tiket murah untuk perjalanan? Salah satu caranya bisa dilakukan dengan cek di sini.

Short Story #331: From Where We Stand

Alex tidak tenang. Sejak sejam yang lalu ia sudah lebih dari lima kali mengecek jam tangannya. Perilaku yang tak pernah ia lakukan. Kalaupun ia mengecek jam tangan, tak pernah lebih cepat dari dua-tiga jam sekali.

Desain yang seharusnya ia kerjakan sesuai jadwal, tak bisa juga ia kerjakan. Fokusnya hilang entah ke mana, dan bukannya mencoba untuk mendapatkan fokusnya lagi, ia justru terpikirkan hal lain.

Gadis.

“Kalo aku lagi ga bisa fokus gini, biasanya Gadis tau trus tiba-tiba aja bikinin minum kalo lagi di deket aku. Pun juga kalo lagi jauh, somehow dia mendadak telepon…” Alex menggumam.

Saat ia hendak mencoba fokus lagi dengan mengambil pensil untuk mendesain, mendadak ia seperti mendapatkan pencerahan. Tak lama, ia sudah berada di jalan raya dengan sepeda motornya dengan helm dan jaket menuju stasiun.

Semula, meski berkendara dengan kecepatan maksimum, ia masih mengikuti setiap aturan lalu lintas. Lampu merah. Antrian. Belokan. Dan lain-lain. Tapi, di sebuah persimpangan, ia mendapati jalanan di depannya macet.

STUCK! Masih ada 30 menitan sih. Nunggu aja apa kali ya?

Saat sepertinya sudah mengambil keputusan, Alex justru berubah pikiran. Ia meminggirkan sepeda motornya lalu berlari. Berlari. Melalui trotoar samping jalanan yang macet. Berlari seperti atlit parkour. Berlari seperti copet yang ketahuan mencuri dompet. Sampai akhirnya, tempat tujuannya berdiri tegak di depannya.

Tak menunggu lama, Alex memasuki stasiun kereta dengan cemas. Berdebar. Ia tahu setiap milidetik berharga, maka ia tak boleh mengambil keputusan yang salah. Saat ia baru saja berpikir hendak bertanya ke bagian informasi atau meminta tolong ke bagian pengumuman, ia kemudian justru berbelok menuju loket dengan antrian terpendek untuk membeli tiket.

Hanya beberapa menit saja ia membeli tiket, dan langsung berlari menuju peron. Tanpa halangan berarti, ia bisa menuju ke peron karena arus penumpang datang dan turun dari kereta sudah lewat. Tapi… saat tiba di peron dengan tiket terakhir yang bisa ia beli, tetap saja kereta yang ia kejar telah menutup pintu dan sudah mulai bergerak maju perlahan.

“GADIS!” Alex berteriak sambil mulai berlari mengejar gerbong. “GADIS! Kamu di mana?!”

Mata Alex awas mengamati setiap jendela gerbong yang bisa ia kejar dengan kecepatan larinya. Tapi laju kereta semakin cepat. Ketika Alex tiba di gerbong ketiga yang bisa ia kejar, ia tahu bahwa ia takkan bisa lebih jauh lagi.

Sambil memelankan larinya dan tetap awas mengamati jendela gerbong penumpang, Alex mengatur nafas. Rasa kecewa dan menyesal mulai muncul di hatinya. Kesal.

“GADIS! Jangan pergiiii..!!” Alex berteriak sekeras mungkin menyalurkan seluruh emosinya. Ia tak memedulikan segelintir orang tersisa di peron yang melihat aneh ke arahnya. Baginya, kehilangan Gadis sangat ia sesali.

Setelah gerbong terakhir lepas dari ujung peron, Alex seakan membeku. Pandangannya masih mengikuti ekor kereta yang mulai hilang di cakrawala. Kepalanya menggeleng.

Tapi.. di seberang peron…

“Alex!” Gadis memanggil.

Alex langsung menoleh ke arah panggilannya dan melihat Gadis tersenyum kecil sambil melihat ke arahnya. Tanpa berpikir lama, Alex pun langsung mencari jalan ke seberang peron, menghampiri Gadis lalu memeluknya.

“Aku nyesel. Aku berubah pikiran soal ga peduli kamu mau ngapain. Karena sebenernya, aku emang peduli.”

“Aku juga berubah pikiran. Ngubah dunia itu ga muluk-muluk harus pergi jauh-jauh.” Gadis merespon dalam pelukan. “We can change the world one thing at a time, right from where we stand.”

NB: Short story ini terinspirasi dari salah satu episode serial Madam Secretary

Hal-hal yang Baiknya Dilakukan Sebelum Melakukan Road Trip

Road trip atau perjalanan darat, adalah salah satu pilihan travelling yang memiliki penggemar dengan jumlah tidak sedikit. Melakukan road trip bisa umumnya dengan menggunakan kendaraan roda empat seperti bis dan mobil pribadi. Tapi tak jarang juga yang melakukan road trip dengan menggunakan sepeda motor, atau sambung-menyambung dengan menggunakan kereta atau alat transportasi darat lainnya.

A road trip is a long distance journey on the road. Typically, road trips are long distances traveled by automobile. – Wikipedia

Buat saya pribadi, road trip yang paling lama pernah saya lakukan dengan mengendarai kendaraan pribadi adalah ketika melakukan perjalanan pulang dari Yogyakarta-Jakarta melalui jalur Selatan Jawa. Kala itu, perjalanan yang dilakukan total kurang lebih 18 jam. Waktu selama itu terjadi bukan karena macet periode liburan, tapi lebih karena banyak melakukan berhenti untuk istirahat sesuai dengan medan jalan yang cukup menantang. Perihal kenapa banyak berhenti ketika melakukan road trip dengan kendaraan pribadi, akan saya bahas lebih lengkap di postingan lainnya, ya. 🙂

Untuk postingan kali ini, adalah hal-hal yang baiknya dilakukan sebelum melakukan road trip. Khususnya ketika menggunakan kendaraan pribadi. Tentu, ini berdasar pengalaman saya pribadi, sbb:

  1. Pastikan kendaraan pribadi dalam kondisi fit.
    Bawa ke bengkel jika perlu, atau usahakan pengecekan terakhir ke bengkel tidak lebih dari 30 hari yang lalu. Hal ini bagi saya wajib dilakukan supaya kendaraan pribadi dalam kondisi yang mendukung untuk melakukan road trip. Yang harus dicek antara lain kondisi oli, rem, ban, sampai dengan radiator, tegangan aki (biasanya sekaligus cek umur aki), dan juga kemudi. Jika melakukan servis rutin — per 6 bulan atau 10.000 km (untuk mobil), pengecekan ini sudah pasti akan membuat kendaraan pribadi dalam kondisi fit. Di beberapa bengkel pun cukup dengan menyatakan akan melakukan road trip, maka teknisi/mekanik sudah punya bayangan apa saja yang akan dicek.
  2. Pastikan kondisi badan dalam kondisi fit.
    Kenapa badan harus dalam kondisi fit? Karena road trip biasanya akan memakan waktu berjam-jam lamanya, dan terkadang lalu lintas tidak bisa ditebak — kecuali kalo musim liburan atau lebaran yang udah hampir pasti macet sepanjang jalan. 😛 Memastikan badan dalam kondisi fit ga melulu harus ke dokter dengan cara medical check up kok, cukup kenali saja tanda-tandanya mulai dari yang ringan seperti apakah hidung mampet, mata perih, tenggorokan sakit, dan lain-lain. Jikalau masih bisa dihalau/dikurangi efek sakitnya, pastikan membawa obat-obatan pribadi karena belum tentu bertemu toko kelontong di perjalanan.
  3. Pastikan sudah cuti/libur.
    Iya, ini paling vital. Ga lucu banget kalo mau road trip yang lama, trus tau-tau harus masuk ke kantor untuk bekerja karena dianggap ga cuti. :mrgreen:
  4. Bikin rute perjalanan dan atau siapkan peta.
    Road trip yang menyenangkan adalah yang sesuai dengan rencana. Karena waktu di perjalanan cukup lama, maka nyasar ga boleh jadi pilihan. Untuk menghindari nyasar, maka baiknya siapkan rute perjalanan. Hal ini penting terutama jika mengendarai kendaraan pribadi, dan atau kalau tidak sering melakukan road trip.
  5. Siapkan makanan.
    Makanan ringan ataupun berat, penting adanya untuk disediakan di kendaraan sebagai konsumsi di jalan. Makanan ini bisa berfungsi untuk penghalau kantuk atau penahan lapar sampai bertemu dengan rumah makan/restoran. Untuk jenis makanan yang dibawa, amat sangat disarankan untuk makanan yang tidak berkuah dan sedikit sampahnya — atau habis sekali dimakan. Apabila perjalanan disertai anak kecil, upayakan membawa makanan yang menjadi kesukaannya.
  6. Punya kontak darurat.
    Kontak darurat ini bisa mencakup orang di tempat tujuan, orang di tempat asal, sampai dengan nomer telepon Polisi, bengkel, dan lain-lain. Kalo misal ternyata sinyal internet cukup kuat, bisa juga dengan memastikan paket internetnya nyala dan bisa akses internet untuk cari informasi terdekat.

Kurang lebih itu sih persiapan sebelum melakukan perjalanan darat dengan kendaraan sendiri. Nanti kalau ada update lagi, akan saya share di sini. Sementara itu, have a nice trip!

 

photo credit: HO|PE via photopin (license)

Short Story #330: Layak

Felicia menepikan kendaraannya. Keraguan masih menyelimuti hatinya akan tindakannya hari ini. Ia hendak berpegang teguh pada komitmennya sejak beberapa tahun yang lalu, tapi… rasa penasarannya lebih kuat untuk mengarahkannya kembali ke jalan yang telah lama ia tinggalkan.

Sekeluar dari mobil, ia memakai kacamata hitamnya. Menoleh sekilas ke kanan dan kiri memastikan tiada kendaraan lewat untuk menyeberang sambil mengecek lingkungan. Tidak banyak yang berubah, simpulnya dalam hati. Begitupun juga dengan rumah yang kini berdiri teguh di depannya.

Felicia melihat-lihat sejenak dari trotoar ke arah rumah tersebut. Eksteriornya telah berubah warna sejak yang bisa ia ingat, beberapa elemen juga berubah, tapi sebagian besar masih sama seperti ingatannya. Ia bimbang, hendak melangkah maju tapi hatinya ragu. Ia sudah hendak berbalik ke mobil ketika pintu depan terbuka.

“Aku tahu suatu hari kamu pasti balik lagi.” sesosok pria bersandar ke ambang pintu.

“Hai…” Felicia hanya bisa menjawab singkat. Lidahnya kelu. Padahal tadinya banyak yang hendak ia ucapkan.

“You are always welcome here.” pria tersebut keluar ke teras, lalu duduk di kursi ayun gantung.

Kaki Felicia perlahan mendekat ke arah tangga teras meski benaknya coba untuk memerintahkan sebaliknya.

“Apa kabarmu, Sam?”

“Seperti yang bisa kamu liat.” Sam menjawab tenang. “Kamu? Ke sini dibawa angin atau nyasar?”

“Candaanmu masih sama aja ya, Sam.”

Meski awalnya berusaha untuk sinis, Sam pun tertawa dijawab seperti itu oleh Felicia. Melihatnya, Felicia seakan mendapat angin segar. Ia menambah langkah lagi hingga naik ke atas teras, tapi belum dekat dengan Sam.

“Seingatku, dulu kursi ayun itu ga ada.”

“Aku pasang sekitar setahun setelah kamu pergi.” Sam menjawab sambil menarik-narik rantai yang menggantung. “Kokoh sejak dipasang. Bertahan sampai sekarang.”

Dalam hatinya, Felicia tertohok oleh kalimat terakhir Sam. Ia tahu benar ketika Sam mengatakan sesuatu dengan pesan implisit. Perlahan, ia mundur.

“Pergi lagi?”

“Aku ga ke sini buat cari gara-gara, ya Sam. Ngeliat kamu dalam keadaan baik-baik saja, begitu juga dengan rumah ini, sudah cukup buatku.” Felicia kembali mundur.

“Begitu?”

“Don’t make me feel guilty again, please.” Felicia memohon dan hendak berbalik, ketika…

“Ayah, siapa tante itu?” tanya anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun yang muncul dari ambang pintu.

Tatapan Felicia nanar ke arah anak kecil itu. Tenggorokannya tercekat padahal benaknya memerintahkan untuk mengeluarkan segenap suara dan kata-kata. Kakinya terasa goyah.

“Tantenya tertarik sama rumah kita, tapi dia udah mau pergi lagi. Kamu main lagi gih, di dalem.” Sam memberitahu yang langsung dituruti oleh anak kecil itu.

Felicia tak bisa lagi bertahan. Ia terduduk di tangga teras sambil menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca.

“Di-dia… dia sembuh?” Felicia tergagap.

“Sempurna. Setelah 2 bulan penuh.”

“Ta-tapi… tapi..”

“Like I said, I’m not giving up on anything until God shows me otherwise.”

“Tapi dulu keliatannya ga semudah ucapanmu, Sam..”

“Dulu, padahal kamu tinggal percaya aja. Sama aku. Sama Tuhan.” Sam memberitahu. “Dan jangan kehilangan harapan.”

Felicia kehabisan kata-kata.

“Leaving is easy. Kamu bisa memulai sesuatu yang baru. Ditambah lagi, belajar dari pengalaman, atau kegagalan. But staying is not. It’s tough. Tapi aku bertahan untuk sesuatu yang memang layak aku perjuangkan.”

 

Persiapan Tas Untuk Travelling

Travelling, atau jalan-jalan yang rada jauh, pasti perlu persiapan yang ga sebentar dan ga sedikit. Minimal bawa satu tas atau koper untuk dibawa berisikan perlengkapan sepanjang perjalanan. Utamanya tentu berisikan pakaian dan perlengkapan mandi, tapi ga jarang juga alat tulis seperti buku dan pulpen, kamera, sampai dengan perlengkapan elektronik seperti charger dan powerbank.

Tanpa perencanaan yang baik, tas atau koper yang dipake untuk travelling bisa jadi semacam kapal pecah yang segala macam ada dan bakal sulit untuk dicari saat perlu. Saya ga langsung menuduh bahwa orangnya berantakan ya, bisa jadi rapi tapi malas atau teledor. Nah, berdasarkan pengalaman sendiri, berikut kiat-kiat saya untuk mempersiapkan tas saat akan travelling. Please note, kiat berikut ini dalam konteks pria yang akan solo-travelling, ya.

  1. Walaupun travelling akan berjalan sebentar — maksimal seminggu, saya minimal akan membawa 2 tas. Bisa dibedakan dari ukurannya, kecil dan besar. Kecil ukurannya maksimal sebesar backpack, dan besar minimal seukuran koper yang bisa masuk kabin pesawat.
  2. Kedua tas yang akan saya gunakan tadi saya fungsikan dengan beda kegunaan. Yang tas besar akan digunakan sebagai penyimpanan seluruh pakaian dan perlengkapan mandi yang akan saya gunakan sepanjang perjalanan. Sementara tas yang kecil akan diisi dengan minimal satu pakaian (dan pakaian dalam) ganti, buku tulis dan pulpen, parfum, serta alat-alat elektronik. Ditambah plaster luka, minyak kayu putih, dan panadol jika perlu.
  3. Tas kecil akan berfungsi sebagai semacam jaring pengaman saya, sebagai tas yang dapat memberikan “pertolongan” pertama dan mudah diraih. Sementara tas besar akan berfungsi sebagai tas terlengkap.
  4. Tas kecil juga akan berfungsi sebagai teman travelling setiap harinya. Tempat untuk menyimpan paspor, dompet, dan ponsel jika diperlukan. Dan juga peta perjalanan, serta kamera. Sementara tas utama akan disimpan di penginapan.

Jikalau saya bepergian dengan keluarga kecil saya, tentunya keperluan tas tersebut akan berbeda dan cenderung bertambah. Tetapi, minimal saya sendiri akan membawa 2 tas dengan susunan seperti di atas.

photo credit: Go-tea 郭天 Complicity via photopin (license)

Short Story #329: Membeli Waktu

Jenny melihat arlojinya. Ia menopang dagunya sambil menggoyang-goyang salah satu kakinya yang terjuntai dari atas satu kakinya lagi. Menunggu. Lagi. Tapi ia tak merasa berat atau lelah.

Lalu lalang manusia di depan posisi duduknya tak berkurang meski makin malam. Wajar saja, hari itu adalah hari terakhir sebelum akhir pekan yang panjang. Seperti dia, mereka pasti juga hendak bepergian keluar kota dengan pesawat sebelum akhir pekan panjang itu. Bedanya, mereka hendak liburan, sementara dia tidak untuk liburan.

Angin dingin menyapa wajahnya. Lembap. Basah. Lalu, hujan.

Jenny menarik troli kopernya dari pinggiran mencari jalan menuju salah satu kedai kopi. Di sana ia memutuskan untuk melanjutkan menunggu, sambil ditemani secangkir kopi hangat.

Baru saja ia merasa beruntung mendapatkan kursi untuk duduk ketika ponselnya berdering.

“Hai, kamu di sebelah mana?” suara Bambang terdengar.

“Coffeeshop terminal, ya.” Jenny memberitahu.

“Yang ada kursi di luar?”

“Aku di dalam.”

“Umm… kamu abisin aja dulu minumanmu. Aku tunggu di luar, ya.” Bambang memberitahu.

Klik. Sambungan telepon terputus sebelum Jenny merespon. Ia memutuskan untuk mengikuti kalimat terakhir Bambang, menghabiskan minumannya dalam ketenangan sambil sesekali mengecek akun media sosialnya.

Sekitar 30 menit kemudian, Jenny kemudian keluar coffee shop. Hujan masih turun namun tidak sederas sebelumnya. Dan, di salah satu pintu masuk terminal ia mendapati Bambang.

“Bang, kamu kok basah-basahan gini?” tanya Jenny saat menghampiri.

“Iya, tadi keujanan di jalan.”

“Lho, emang kamu naik apa?”

“Ojek.”

“Mobilmu?”

“Aku tinggal di kantor. Tadinya naik taksi, tapi kemudian stuck. Aku turun di jalan, trus panggil ojek.” Bambang memberitahu sambil sesekali mengelap wajahnya yang basah dengan beberapa lembar tissue.

“Ojeknya ga ada jas ujan?” Jenny bertanya lagi sambil sibuk membuka tas kecil di tangannya. Mencari handuk kecil yang kemudian ia berikan kepada Bambang.

“Jas ujannya dipake tukang ojeknya. Ga ada buat penumpangnya.” Bambang memberitahu sambil mengelap mukanya dan rambutnya dengan handuk kecil dari Jenny. “Makasih ya handuknya.”

“No problem.” Jenny memberitahu.

“Aku lupa banget kalo besok long wiken. Kalo gitu kan mendingan aku berangkat duluan tadi, atau cuti sekalian.”

“Demi ketemu aku?”

“Iya.”

Jenny diam. Ia merasa canggung. Bambang hanya ia anggap sebagai teman baik meskipun pernah menyatakan perasaan sayang kepadanya. Tapi…

“You don’t need to do that. We always have another time to meet.” Jenny memberitahu.

“But every time is different with another.” Bambang memberitahu.

“Maksudmu?”

“Satu-satunya hal yang takkan pernah terulang di dunia adalah waktu. Sekali dia berlalu, maka sudah berganti meskipun kita pikir kita tetap sama.” Bambang menjelaskan. “Bahkan kalo bisa, satu-satunya hal yang akan kubeli dengan semua hartaku adalah waktu. Supaya aku bisa lebih lama bersama denganmu.”

Kapan Libur(an)?

Baru masuk tahun yang baru trus udah nanya liburan? Ga salah?

Ga. Ga salah.

Buat yang mengenal dekat saya — minimal pernah bekerja/kuliah setim, pasti tahu pasti saya tipe orang yang rewel banget soal jadwal. Buat saya, jadwal itu penting karena menentukan sesuatu bisa berjalan sesuai rencana atau engga.

Yes, you read that right. Jadwal menentukan sesuai rencana atau engga. Termasuk jadwal untuk libur(an).

Buat yang tinggal dan bekerja di Indonesia, jadwal untuk libur(an) paling lazim adalah hari libur nasional dan lebaran. Hari libur nasional biasanya 1 tanggal setiap peringatannya. Sementara libur lebaran biasanya lebih dari seminggu, karena ditotal antara 2 hari Idul Fitri, dan 3-4 hari cuti bersama. Belum lagi kalo ternyata ada hari Minggu, ditotal bisa dapet minimal 10 hari kalender atau sekitar 7 hari kerja.

Tapi kalo liburan di tanggal-tanggal tersebut, biasanya (lagi) tempat wisata udah hampir pasti penuh, pun dengan jalanannya. Trus musti gimana? Beginilah alasannya perlu perencanaan/penjadwalan.

Buat yang suka travelling, pasti udah kenal istilah peak season, dan low season. Biasanya muncul di periode penginapan dan penerbangan. Peak season di Indonesia selain libur lebaran dan hari libur nasional yang berdekatan dengan akhir pekan (jadi long week end), antara lain juga pada saat pergantian tahun (Desember akhir) dan hari libur anak sekolah (Desember-Januari, & Juni-Juli). Sementara, low season adalah di luar periode tersebut.

Nah, berdasarkan pengalaman saya, liburan paling menyenangkan adalah di saat low season tersebut. Kenapa? Karena tempat wisata tidak terlalu ramai, penginapan bisa dapat harga terbaik, dan transportasi juga tidak berebut. Kalo lewat darat dengan kendaraan roda empat ga bakal kena macet sepanjang jalan, kalo kereta/pesawat/kapal laut ga perlu berebut tiket.

Low season di Indonesia sendiri berdasarkan pengalaman saya adalah di bulan April dan Oktober. Yes, kedua bulan tersebut hampir jarang banget ada hari libur nasional dan belakangan ini belum/bukan bulan Ramadan/Lebaran.

Trus gimana kalo mau liburan ke luar negeri? Kapan low season/peak season-nya? Jawabannya, tergantung negara yang bersangkutan.

Jepang contohnya, peak season untuk liburan biasanya di bulan Maret-Mei. Karena di periode tersebut adalah musimnya bunga Sakura mekar. Sementara untuk Tiongkok (China), peak season-nya antara lain Januari-Februari, karena di periode tersebut biasanya adalah peringatan Tahun Baru Imlek – Lunar New Year.

Kalo belum tau persis peak season di sebuah negara, ga ada salahnya kok konsultasi via agen perjalanan/tur.

Tapi ya kalo mau liburan, pastiin saldo cuti masih cukup dan juga keuangan mendukung. Jangan sampe keabisan ongkos di jalan atau lagi santai-santai liburan tau-tau diteleponin kantor karena ternyata cuti sudah habis. 😆

Jadi, kapan libur(an)?

photo credit: yourbestdigs Three 2017 planners on a desk with a red pen via photopin (license)

Short Story #328: Buat Kita

“Ada cara yang lain lagi ga ya, supaya ini bisa berhasil?” Mara bertanya lirih. Suaranya hampir habis.

“I’m afraid, we’re running out.” Diego menjawab. “Kecuali kamu mau ke konselor.”

“Kamu tau sendiri gimana ga sukanya aku harus pergi ke orang yang cuma ngeliat dari luar dan ngasitau hal-hal yang udah aku tau.”

“Yaudah. Dead end, then.”

Lalu hening. Mara dan Diego larut dalam pikiran masing-masing. Seperti beberapa menit yang lalu. Seperti beberapa malam dan minggu yang lalu, sebelum Diego memintanya untuk melepaskannya, beberapa saat yang lalu.

“Kamu ga mau pikir-pikir lagi sama permintaan kamu tadi?” Mara bertanya lagi. Memastikan. Masih tak percaya.

“Udah aku pikirin baik-baik.” Diego memberitahu. “Dan supaya lebih gampang, semuanya udah aku urus.”

“Maksudnya?”

Diego menghembuskan nafasnya. Lalu menyandarkan ke sofa di depan Mara.

“Kita pisah baik-baik. Aku ga bakal nuntut apapun kecuali pergantian status. Semua yang pernah aku kasih, pernah aku beli, jadi punya kamu seutuhnya. Juga ga perlu takut soal tunjangan bulanan, karena bakal otomatis ditransfer dari bunga deposito atas nama aku.” Diego menjelaskan. “Deposito yang bisa kamu cairkan juga karena udah aku siapin nama kamu sebagai salah satu pemilik, suatu saat nanti kalo kamu udah ketemu orang lain.”

“Trus kamu?” Mara langsung bereaksi. Dia berharap dengan pertanyaan itu, Diego tahu bahwa Mara peduli, karena… Mara memang peduli.

“Yah..” Diego berhenti sejenak. “Aku masih punya beberapa simpanan atas nama aku yang pernah kubilang itu.”

“Tapi itu kan kamu bilang buat ngewujudin mimpi-mimpi kamu.”

“Well.. as you always said, things changed.”

“Tapi…”

Hening. Untuk kesekian kalinya.

“Udah clear, ya.”

“Kalo aku ga ngasih kamu pergi, emang kamu bakal tetep stay?” Mara langsung merespon.

“Kamu tau kan kalo ini juga berat buat aku.” Diego memberitahu.

“Tapi kasitau aku dong apa alasannya? Emang aku kurang seperti apa buat kamu? Supaya kamu stay, aku harus gimana? Aku mau ngelakuinnya..”

“It’s not about you. It’s about me.”

Mara diam. Menunggu.

“I feel like I’m not able to be a better person anymore. At some points of our lives together, I just stop and stuck there. I can’t move further.” Diego memberitahu.

“Tapi aku ga perlu kamu jadi lebih baik lagi, karena kamu sudah cukup baik buat aku.”

“Tapi cukup baik ga buat kita ke depannya?”

Mara tak bisa menjawab. Bahkan, ia tak bisa lagi mendengarkan kata-kata yang Diego ucapkan berikutnya. Termasuk ucapan perpisahan.