Month: October 2016

Short Story #323: Yang Terakhir

“Kamu yakin sama pilihan kamu?” Ira bertanya, memastikan. Julie menggigit bibir bawahnya. Tangannya meremas saputangan yang sudah ia pegang sejak tadi. “Aku yakin.” “There’s no turning back after you walked down the aisle.” “Aku tahu.” “Oke. Baiklah kalo gitu.” Ira berjalan mendekati ke pintu dan hendak membukanya, tapi… “Tunggu.” Julie menahan. “Masih ada yang harus kamu

Nulis Traveling: Ikutan Trend Atau …?

Engga ikutan trend meski saya kepengen. 😆 Beberapa orang yang kenal dengan saya, dan atau minimal tahu “karir” menulis saya sejak dulu, mungkin bakal sedikit heran kenapa belakangan kok saya (ikutan) ngeblog soal traveling — walau belum banyak. Well, ga lain ga bukan, emang lagi kepengen dan lagi sempet aja. Beneran. Ciyus. Oiya, ada satu

Short Story #322: Beda Jaman

“Jadi?” Sam bertanya pada Maya yang sudah menunggunya di kursi tunggu komplek bioskop. “Jadi, nih udah beli tiketnya.” Maya menunjukkan 2 tiket pertunjukkan yang sudah ia beli. “Jam berapa?” “Bentar lagi. Kamu dateng di waktu yang tepat.” “Masih sempet beli makanan dulu ga, kira-kira?” Sam bertanya sambil duduk di sebelah Maya. “Masih. Tapi kalo mau

Short Story #321: Prioritas

“Udah dipanggil boarding, tuh.” Mae memberitahu sambil memainkan gelas kertas kopinya. “Iya, aku juga denger.” Sarah menjawab dengan kalem. Ia melihat lagi ke arah arlojinya. “Masih mau nungguin juga?” Mae mengulang pertanyaannya beberapa menit yang lalu. “Kenapa engga?” “Belum tentu dia dateng.” Mae berkomentar. “Belum tentu juga dia ga dateng.” Sarah menjawab lagi, kali ini

Liburan Nekat ke Singapura

Musim liburan biasanya adalah musim yang selalu dinanti setelah selesai berpenat ria dengan tugas-tugas yang menumpuk. Masa-masa liburan sering digunakan sebagian orang berjalan-jalan jauh untuk me-refresh otak. Sama halnya dengan salah satu kenalan saya yang baru lulus UN tahun ini. Sebelum berjibaku dengan dunia kuliah nanti, di liburan panjang kali ini dia berencana pergi ke

Short Story #320: Kedua

“We’re done.” Rena memberi kalimat singkat yang menyimpulkan percakapan panjangnya dengan Vincent sedari tadi. “Tidak menurutku.” “Aku ga peduli.” Rena menghela napas, memalingkan mukanya dari arah Vincent, lalu diam. Vincent gantian menghela napas. “Okay, then.” Vincent akhirnya berkata sambil siap membereskan tasnya yang sedari tadi sudah jatuh di kakinya, lalu berdiri. “Kamu mau ke mana?”

Short Story #319: Go

Olivia melihat arlojinya. Sudah jam tujuh malam lewat, pikirnya. Mau berapa lama lagi, masih di dalam pikirnya. Kopinya yang tadi hangat, kini sudah mendingin di meja kedai. “Sori telat.” suara yang dikenalnya muncul dari arah belakangnya. “Beberapa menit lagi aku tinggal.” Olivia menjawab dingin sambil menatap Jose yang menarik kursi di depannya. “Jangan gitu, dong.”