Short Story #323: Yang Terakhir

“Kamu yakin sama pilihan kamu?” Ira bertanya, memastikan.

Julie menggigit bibir bawahnya. Tangannya meremas saputangan yang sudah ia pegang sejak tadi. “Aku yakin.”

“There’s no turning back after you walked down the aisle.”

“Aku tahu.”

“Oke. Baiklah kalo gitu.” Ira berjalan mendekati ke pintu dan hendak membukanya, tapi…

“Tunggu.” Julie menahan.

“Masih ada yang harus kamu pertimbangkan?”

“Aku bingung apakah sudah semestinya aku bingung?”

Ira tersenyum. Ia mendekati pengantin wanita yang juga kebetulan adalah sahabatnya tersebut.

“Sudah seharusnya. Bahkan kalo ga bingung, aku justru heran.” Ira memberitahu.

“Dulu kamu begitu juga?”

“Iya.”

“Trus, setelah ternyata ga sesuai dengan keyakinan kamu saat itu, kamu nyesel?”

“Iya dan tidak.” Ira memberitahu. Ia lalu duduk di kursi kecil dekat Julie. “Iya karena semuanya ternyata tak bisa sesuai yang aku yakini, tidak karena aku tahu pasti ini yang terbaik untukku, untuk kami berdua.”

Julie menggigit bibir bawahnya lagi. Bimbang.

“You can call off all of this to make time for yourself.”

Julie tak menjawab.

“Kamu bingung karena apa? Karena sepertinya ini terlalu cepat? Karena Abdul belum bisa memberikanmu pengalaman pertama yang selama ini bisa kamu dapatkan dari orang lain? Karena Abdul sepertinya jawaban atas permintaanmu akan kesempurnaan dan kamu takut ternyata itu semua tidak nyata?”

Julie menarik napas. Lagi. Dan lagi.

“A-aku… aku ga tau.”

“Segala hal yang pertama kalinya sudah kamu lakukan dan dapatkan dari yang lain, bisa ga berarti kalo kamu udah dapet seseorang yang terakhir. Dan mungkin, Abdul adalah jawaban atas semua petualangan yang telah kamu lakukan.” Ira memberitahu.

“Tapi… apakah Abdul juga berpendapat yang sama?” Julie menjawab cepat dengan pertanyaan.

“It’s your own destiny to find it out.”

Nulis Traveling: Ikutan Trend Atau …?

Engga ikutan trend meski saya kepengen. 😆

Beberapa orang yang kenal dengan saya, dan atau minimal tahu “karir” menulis saya sejak dulu, mungkin bakal sedikit heran kenapa belakangan kok saya (ikutan) ngeblog soal traveling — walau belum banyak. Well, ga lain ga bukan, emang lagi kepengen dan lagi sempet aja.

Beneran. Ciyus.

Oiya, ada satu alasan lagi: karena emang kebetulan bahannya udah mayan banyak ketimbang beberapa waktu (atau tahun) yang lalu.

Dan menjawab judul postingan ini, sudah saya jawab di kalimat pertama postingan ini juga. Jujur, saya dari dulu emang kepengen banget nulis soal traveling. Tapi saya tahu diri: nulis itu harus konsisten. Begitupun kalo emang mau nulis traveling, ya berarti harus ngapdet soal traveling terus kan? Minimal dibuat berkala – frekuensi yang sama. Sayangnya, dulu saya ga bisa — atau tepatnya belum bisa, dan baru bisa sekarang ini — mudah-mudahan yaaa. Karena alasan yang sepele: lagi kepengen, lagi sempet, dan kebetulan bahannya udah mayan banyak. *mengulang* :evilgrin:

Bahannya udah mayan banyak karena emang sudah beberapa tempat yang pernah saya kunjungi dan terdokumentasi di beberapa tempat — flickr, instagram, facebook, dan bahkan check in foursquare/swarm dan path. Tapi belum sempet diceritain lebih lanjut aja. Belum lagi jenis travelingnya yang beda-beda, mulai dari business traveling, colongan, sampai dengan young family with kids. Dan tempatnya ga ke yang itu-itu aja — kecuali yang emang jarang/susah didatengin ya. *disclaimer* 😆

Anyway, kalo emang ada yang mau sponsorin/biayain buat travelingnya juga (otomatis bakal dapet juga nulisnya), ya saya juga ga nolak sih. Siapa yang ga kepengen bisa jalan-jalan dibayarin coba? 😛 Tapi eits, ini bukan berarti saya ga mau ngemodal ya. Karena clearly, modal sih ada. Cuman kapannya itu lho..

Short Story #322: Beda Jaman

“Jadi?” Sam bertanya pada Maya yang sudah menunggunya di kursi tunggu komplek bioskop.

“Jadi, nih udah beli tiketnya.” Maya menunjukkan 2 tiket pertunjukkan yang sudah ia beli.

“Jam berapa?”

“Bentar lagi. Kamu dateng di waktu yang tepat.”

“Masih sempet beli makanan dulu ga, kira-kira?” Sam bertanya sambil duduk di sebelah Maya.

“Masih. Tapi kalo mau selow, entar aja pas di dalem teater. Biasanya suka ada yang jualan ke dalem, bukan?”

“Oiya, bener juga. Lebih murah pula.” Sam berkomentar.

Maya kemudian asyik dengan ponselnya, melihat-lihat review film lainnya. “Besok kalo udah rilis, kita nonton ini, ya.”

“Film horor lagi?” Sam bertanya heran.

“Iya.” Maya menjawab tenang.

“Kamu kok suka banget sih sama film horor?”

Maya tak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum manis.

“Nonton film kok ya buat ditakut-takutin. Bayar pula.” Sam berkomentar.

“Jadi kamu takut?”

“Ya… takut ga takut, sih.” Sam menjawab cepat. Takut image-nya jatuh. Bisa gagal pedekate yang sudah ia lakukan sejak beberapa bulan yang lalu.

“Hmm…” Maya menggoda.

“Ah kamu..” Sam menjawab sebal. “Tapi beneran deh, jarang-jarang tau ada cewek suka nonton horor trus ga takut pula. Malah waktu film yang kapan tuh, kamu justru ketawa ngakak.”

“Ya… abis….”

“Abis apa?”

“… Kayanya beda sama jaman aku dulu.” Maya menjawab santai yang langsung membuat muka Sam terlihat khawatir.

Short Story #321: Prioritas

“Udah dipanggil boarding, tuh.” Mae memberitahu sambil memainkan gelas kertas kopinya.

“Iya, aku juga denger.” Sarah menjawab dengan kalem. Ia melihat lagi ke arah arlojinya.

“Masih mau nungguin juga?” Mae mengulang pertanyaannya beberapa menit yang lalu.

“Kenapa engga?”

“Belum tentu dia dateng.” Mae berkomentar.

“Belum tentu juga dia ga dateng.” Sarah menjawab lagi, kali ini nada suaranya cukup naik.

“Ga ada kabar gini, kamu yakin dia mau dateng?” Mae sinis. Dengan santai ia membuang gelas kertas kopinya yang sudah kosong ke tempat sampah.

“Mungkin kejebak macet. Mungkin hapenya lowbat. Mung-”

“Mungkin dia ga sesayang itu sama kamu.” Mae memotong. Sarah terdiam. “Yasudlah, kalopun kamu ga boarding ya kamu yang rugi.”

Sarah tetap diam. Matanya mengarah ke arah pintu masuk gerbang. Masih berharap.

Beberapa langkah menjauh, Mae berhenti. Ia melihat ke arah Sarah, lalu berjalan kembali.

“Seharusnya kamu ga bikin seseorang jadi prioritasmu, sementara dia hanya menganggap kamu sebagai pilihan.”

“Aku tahu.” Sarah menjawab tenang sambil menatap Mae yang berdiri di depannya.

“Lalu, kenapa kamu masih berharap?”

“Karena… aku tahu aku lebih baik.”

“Tapi dia tahu yang kamu tahu, ga?” Mae berkomentar lagi sambil kemudian berbalik dan meninggalkan Sarah yang masih duduk di kursinya.

Liburan Nekat ke Singapura

Musim liburan biasanya adalah musim yang selalu dinanti setelah selesai berpenat ria dengan tugas-tugas yang menumpuk. Masa-masa liburan sering digunakan sebagian orang berjalan-jalan jauh untuk me-refresh otak. Sama halnya dengan salah satu kenalan saya yang baru lulus UN tahun ini. Sebelum berjibaku dengan dunia kuliah nanti, di liburan panjang kali ini dia berencana pergi ke Bali. Uang sudah disiapkan dan sudah check beberapa harga tiket sebagai referensi sebelumnya.

Menurut ceritanya, ketika ia beritahukan akan rencananya kepada orang tua dan kakaknya, mereka awalnya kaget, apakah berani pergi sendiri ? Karena tekadnya sudah kuat untuk berlibur, kali ini dia yakin dapat mandiri dan bisa mengatasinya sendiri. Dia pun coba search kembali harga beberapa tiket serta akomodasi ke beberapa tempat liburan dan hasilnya kebingungan karena harga-harga sudah berubah dan tidak seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Akhirnya dia bertanya dan konsultasi pada kakaknya yang notabanenya sudah mahasiswa. Mereka coba kembali mencari beberapa tiket dan penginapan di Bali yang murah. Ketika sedang mencari beberapa harga tiket, kakaknya kemudian punya ide cemerlang. “Ini harga ke Bali ga beda jauh dengan harga ke Singapura, kita ke Singapura aja yuk. Kebetulan kakak juga ada beberapa tabungan” Jawab kakaknya dengan mantap.

“Beneran kak ? kita kan sama-sama belum pernah ke luar negeri ?” dia bertanya seperti tidak yakin apa yang dikatakan kakaknya. “Udah tenang aja, besok kita buat passport bareng ya.” Jawabnya dengan mantap.

Dia bilang pada saya, walau ingin sekali pergi ke Bali tapi ke Singapura adalah liburan yang lebih mengasyikkan, ditambah dia tidak akan sendiri — ada kakak yang menemani.

Pembuatan passport mereka pun berjalan lancar, pembelian tiket pesawat dan booking hotel sudah diurus oleh kakaknya dengan pemesanan lewat salah satu OTA (Online Travel Agent) yang ada. Liburan mereka ke luar negeri yang kelihatannya sangat mahal, jadi terasa sangat hemat karena sudah dipersiapkan segalanya.

Kemajuan teknologi memang sangat menguntungkan, liburan mereka yang nekat jadi penuh dengan persiapan. Mereka yang belum pernah sama sekali ke sana, dapat menyusun agenda liburan dengan matang. Sebelum berangkat mereka sudah booking hotel sehingga tidak perlu takut tidak dapat penginapan. Mereka pun merasakan sekali kemudahan dalam mencari tiket serta penginapan dengan OTA.

Berdasar ceritanya, berikut beberapa keuntungan memesan menggunakan OTA.

  1. Pilihan banyak dan variatif
    Mereka memilih beberapa hotel yang mudah transportasi dan dekat dengan beberapa tempat yang ingin didatangi saat di Singapura. Pastinya mereka mencari juga hotel yang pas dengan kantong mereka berdua.
  1. Hemat waktu dan tenaga
    Mereka tidak perlu mengantri lama dan menelepon satu-persatu hotel untuk booking, hanya dengan mengunjungi website sebuah OTA, mereka sudah dapat memesan dengan mudah.
  1. Informasi lengkap mengenai hotel termasuk pendapat pengunjung sebelumnya
    Ini juga merupakan hal yang penting, dengan melihat ulasan pengunjung lain saat menginap di hotel tersebut dapat menjadi referensi mereka untuk memilih hotel yang baik.
  1. Metode pembayaran yang komplit dan aman
    Pemesanan hotel sebelumnya bisa ke kantor cabang travel, langsung bayar di hotel dan via transfer, jadi tidak harus punya kartu kredit. Saat ini ada beberapa metode pembayaran seperti transfer via mobile, ATM atau bayar di indomaret, dan lain-lain. Sehingga jika tidak punya kartu kredit juga tetap dapat memesan.
  1. Penawaran spesial
    OTA sering memberikan diskon terkait pemesanan kamar dan diskonnya bisa sampai 70%

Sekarang dia jadi tidak perlu khawatir jika ingin berlibur jauh, yang utama punya schedule yang baik. Liburannya kali ini bersama kakaknya adalah hal yang tidak bisa dilupakan, katanya sih mereka jadi seperti bocah petualang yang tentunya sangat mengasyikkan. Ternyata ke luar negeri tidak sesulit yang dibayangkan, kan? Berkat OTA dia berterimakasih banget dan untuk liburan depan bakal giat menabung karena tujuan selanjutnya adalah Eropa. Semoga mimpinya dapat tercapai, ya.

Short Story #320: Kedua

“We’re done.” Rena memberi kalimat singkat yang menyimpulkan percakapan panjangnya dengan Vincent sedari tadi.

“Tidak menurutku.”

“Aku ga peduli.” Rena menghela napas, memalingkan mukanya dari arah Vincent, lalu diam.

Vincent gantian menghela napas.

“Okay, then.” Vincent akhirnya berkata sambil siap membereskan tasnya yang sedari tadi sudah jatuh di kakinya, lalu berdiri.

“Kamu mau ke mana?”

“I’m leaving. Buat apa lagi aku di sini?” Vincent memberi alasan.

“Udah? Gitu aja? Ga berusaha supaya kita baikan lagi?” nada suara Rena mulai meninggi, duduknya mulai tegak di sofanya.

Vincent ingin sekali untuk langsung menjawab dengan meninggikan suaranya juga. Tapi…

“Iya. Gitu aja.” Vincent memberitahu. “Udah dulu, ya.”

“Tunggu…” Rena menahan tangan Vincent yang sudah hendak beranjak ke pintu. Nada suaranya mendadak melemah.

Vincent diam. Menunggu.

“Kali ini serius?”

“Why not?” Vincent menjawab tanpa menoleh.

“Tapi…”

“Aku lelah harus jadi yang memohon sama kamu untuk ngasih kesempatan lagi, lagi, dan lagi.”

“Tapi aku senang kamu berjuang seperti itu. Untuk aku. Untuk kita.”

“Tapi kali ini aku sudah lelah.” Vincent memberitahu. “Terutama karena, kamu berubah sejak terakhir kalinya kita ribut panjang begini.”

“Aku ga ngerti.”

“Aku juga ga ngerti. Tapi ya itu yang aku rasain. Kamu juga pasti ngerasain kalo aku jadi beda.”

Hening. Kedua manusia yang sudah berhubungan dekat beberapa tahun dan juga kenal sejak remaja tersebut tak saling berucap. Hanya tangan yang saling bertemu.

“Bisa kasih aku kesempatan kedua?” suara Rena bergetar.

Vincent menghela napas lagi. Ia ingin sekali menjawab iya, tapi…

“Setiap kali aku memohon sama kamu untuk baikan lagi, di setiap saat itu juga aku ngasih kamu kesempatan kedua.”

“Tapi kali ini aku yang memohon.”

“Aku tahu. Tapi aku ga bisa.” Vincent memberitahu. Pegangan tangan Rena ia rasakan mulai melemah. Perlahan ia mulai bergerak menuju pintu.

“Vincent…”

Vincent berhenti sejenak di balik pintu yang terbuka, melihat ke arah perempuan yang pernah menjadi tujuan hidupnya. Tujuan kebahagiaannya.

“Aku ga bisa lagi ngasih kamu kesempatan yang sama karena aku takut kamu bakal ngelakuin hal yang sama lagi, dan lagi. Kamu bisa ngasih jaminan kalo ga bakal ngelakuin yang sama lagi? Mastiin kalo kali ini bakal beda? Bakal lebih baik?”

“Aku…”

Vincent menunggu. Berharap. Tapi tak ada kalimat lain yang terucap oleh Rena.

Short Story #319: Go

Olivia melihat arlojinya. Sudah jam tujuh malam lewat, pikirnya. Mau berapa lama lagi, masih di dalam pikirnya. Kopinya yang tadi hangat, kini sudah mendingin di meja kedai.

“Sori telat.” suara yang dikenalnya muncul dari arah belakangnya.

“Beberapa menit lagi aku tinggal.” Olivia menjawab dingin sambil menatap Jose yang menarik kursi di depannya.

“Jangan gitu, dong.” Jose menjawab sambil menyimpan tas punggungnya ke lantai di dekat kakinya.

“Kamu cuma bawa segitu doang?” Olivia menatap tak percaya.

“Iya. Kenapa?” Jose menjawab santai.

“Kita bakal pergi ke sebuah tempat yang mungkin cuma bisa kita kunjungin sekali seumur hidup, dan kamu cuma bawa pakaian setas punggung itu aja?” Olivia mengulang pertanyaannya.

“Iya. Kenapa emangnya?” Jose mengulang juga.

Olivia menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.

“Aku aja bawa satu koper gede pas limit bagasi, satu koper ukuran kabin, dan tas tenteng.” Olivia memberitahu. “Padahal, aku bukan tipikal cewek-cewek yang begitu.”

“Lah makanya, biasanya juga kamu cuma bawa maks dua tas aja kan? Tas punggung yang muat di kabin kaya’ aku, dan juga tas tenteng?”

“Stop it. We’re not talking about me.”

“Oke.. oke..”

“Trus, kamu beneran cuma bawa segitu aja?” Olivia kembali bertanya.

“Aku nyadar nanti kita bakal banyak jalan. Bakal banyak liat sana-sini. So, I’m travelling lite and fast.” Jose menjelaskan.

“We’re not travelling fast, you know. We’re travelling far.”

“Iya, aku tahu.”

“Dan kamu tahu apa kata pepatah soal itu? If you want to go fast, you go alone. But if you want to go far, you go together.” Olivia berkata sambil kemudian berdiri lalu beranjak ke gate keberangkatan meninggalkan Jose yang kebingungan.