Month: September 2016

Short Story #318: Batu dan Air

Sharon melihat secarik kertas di tangannya dengan nanar. Ia masih tak percaya dengan yang ia baca. Sebuah surat berisikan permohonan perpisahan yang ia terima pagi tadi dari seorang kurir. Sharon kemudian terkesiap ketika pintu apartemennya terbuka. Bambang telah pulang. “Kenapa, Bang?!” Sharon langsung menyerbu Bambang yang belum juga membuka jaketnya. Bambang tak langsung menjawab. Ia

Short Story #317: To Be Happy

“Hei… Let me guess… Kopi hitam pekat?” Sutan menyapa Ria di dapur kecil kantor mereka. “You know me so well.” Ria menjawab sambil tersenyum kecil. “Hahaha.. Lucky guess mungkin.” Sutan merendah. “Setelah beberapa kali aku salah menerka.” “That’s what I mean.” “Btw, Lala kok udah masuk aja, ya?” Sutan bertanya. “Tadi aku liat dia udah

Tokyo Tower yang Legendaris

Pengetahuan saya tentang Tokyo Tower berawal dari Doraemon. Iya, betul Doraemon yang tokoh kartun kucing robot itu. Yang temennya Nobita, Shizuka, Giant, & Suneo. Tahunya dari mana? Dari opening serial kartun itu. Kalo ga salah, opening versi tahun 1990an awal (yang tayang di RCTI), ada salah satu scene-nya yang memperlihatkan Tokyo Tower. Kalo ga salah,

Short Story #316: Stronger

“Don’t move any further.” Farida memberitahu sambil menahan daun jendela yang tertiup angin. “I’m not.” Santi menjawab. “Tapi aku ga tau kalo mendadak angin bertiup kencang.” “Konyol selagi hidup itu pintar. Tapi mati konyol? Itu bodoh.” Farida berkomentar sambil memperhatikan langkahnya mendekati Santi. “Dari mana kamu tau kalo aku bakal mati konyol?” “Kalo kamu beneran

Keuntungan Berangkat Malam untuk Travelling Jarak Jauh

This morning: sunrise at 41,000 feet. Somewhere above #Japan. #fromabove A photo posted by Billy Koesoemadinata (@billykoesoemadinata) on Feb 18, 2014 at 6:45pm PST Sejak kecil saya dibiasakan untuk melakukan perjalanan jauh. Kapanpun itu — pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari — dini hari. Saat kecil seringkali perjalanan jauh yang dilakukan adalah perjalanan

Short Story #315: Nothing

Sarah menutup teleponnya dengan kesal. Sudah kesekian kalinya ia coba menelepon Joyce tapi tak ada sambutan melainkan berujung dengan kotak pesan. “Masih belum diangkat juga?” Vero bertanya sambil menyesap teh hangatnya. “Belom.” Sarah menjawab dengan sedikit kesal. “Apa mau dicari keluar?” “Dicari ke mana? Ntar kita ke sana, dia pulang nemuin kita ga ada, dan