Short Story #311: Bukan Tuhan

Ferdi masih di dalam antrian untuk membayar makanan yang sedang ia beli, ketika sudut matanya melihat Puspa masuk ke dalam kedai yang sama dengannya.

Meski terlihat santai, dalam hatinya Ferdi berharap Puspa hanya kebetulan saja berada di kedai yang sama dengannya di waktu itu. Ia juga berharap bahwa Puspa tak melihatnya. Berbincang dengan Puspa adalah beberapa hal yang jika bisa tak ingin ia lakukan lagi. Setidaknya dalam waktu dekat.

“Hey…” Puspa menyapa pelan.

Ferdi yang tengah berpura-pura fokus melihat ke antrian, memberikan muka sedikit terkejut dan menoleh. “Hei, kebetulan banget ketemu di sini.”

“Iya.. aku tadi lagi lewat, trus kayanya tempat ini seperti yang pernah diceritain sama temenku katanya makanannya enak.”

“Oh ya? Siapa?” Ferdi coba berbasa-basi sambil berjalan selangkah dalam antrian yang maju ke arah kasir.

Paras Puspa yang sudah dasarnya putih agak merona, makin memerah di pipinya. Salah tingkah, Puspa menggigiti bibirnya.

“Well.. I lied. You got me.” Puspa memberitahu.

Ferdi mengangkat sebelah alisnya. “Okay.. trus?”

“Aku datang ke sini emang sengaja.” Puspa memberitahu sambil mendekati Ferdi, dan kini sejajar dengannya di dalam antrian. “Can we have a talk? A minute or two?”

“Talk now, I have plenty.” Ferdi menjawab santai sambil dalam hatinya menghitung berapa orang lagi sebelum kemudian ia sampai ke meja kasir. Lima orang, berarti bisa sekitar lima-sepuluh menit.

“Maafin aku, ya.” Puspa langsung ke tujuan kedatangannya tadi. “I did make mistakes. And I regret it. Aku berharap banget itu ga pernah terjadi, tapi ya… what’s done is done.”

Ferdi tak menjawab. Tatapannya hanya ke antrian dan kasir.

Merasa tak diperhatikan, Puspa memegang bahu Ferdi.

“Please forgive me.” Puspa meminta.

“Buat apa?”

“Buat semua kesalahan-kesalahanku.” Puspa memberitahu.

“Aku tahu itu. Maksudku, buat apa aku maafin kamu?” Ferdi menjawab santai. Tiga orang lagi ke kasir!

“Supaya hidupmu tenang, hidupku juga tenang. Supaya aku ga ada perasaan bersalah. Supaya kamu juga bisa move on.”

“Darimana kamu tau aku belum move on?”

Puspa diam tak menjawab.

“Seperti kamu bilang, what’s done is done. Dan buat aku sih, ga ada gunanya kita bahas ini lagi.” Ferdi memberitahu. “Tapi kalo kata maaf dariku penting untukmu, tolong jelasin buat apa aku maafin kamu?”

“Tadi kan udah kubilang, supaya…”

“Klise.” Ferdi memotong. Satu orang lagi ke meja kasir!

Puspa berdecak, lalu menarik napas sambil kemudian mengibas rambutnya.

“Kenapa sih Fer, kamu ga bisa maafin aku? Tuhan aja Maha Pemaaf. Nabi aja bisa maafin orang yang pernah memusuhinya. Kenapa kamu ga bisa maafin aku yang justru pernah jadi orang terdekat dan paling sayang sama kamu?” nada suara Puspa sedikit naik, meski begitu Ferdi tak langsung menjawab dan justru melakukan transaksi di kasir dan mengabaikan Puspa.

“Fer!” Puspa memanggil sambil menarik lengan Ferdi untuk menarik perhatiannya.

Ferdi dengan santainya menarik kembali tangannya, lalu memicingkan matanya kea rah Puspa, “Karena aku bukan nabi, apalagi Tuhan.”

Short Story #310: Romantis

BLAK! Samantha membanting pintu kamarnya keras-keras, lalu membenamkan dirinya di bantal dan kasur.

“Nangis lagi?” Jane, kakaknya yang sebentar lagi akan menikah, membuka pintu kamarnya.

“Udah deh, ga usah sok-sok perhatian.” Samantha menjawab dari balik bantalnya.

“Gara-gara Rio lagi?”

“Gara-gara perbuatannya, bukan orangnya.”

“Ya kan sepaket.” Jane berkomentar sambil kemudian duduk di kasur di samping adiknya yang masih membenamkan dirinya. “Kenapa lagi sekarang?”

“Rio tuh beneran deh ga romantis, kak!” Samantha membalik badannya lalu mulai curhat.

“Ga romantis gimana?”

“Tau kan kemarin ada Valentine’s Day?”

“Iya tau, terus?”

“Masa’ dia ga inget sama sekali buat ngasih aku cokelat atau bunga?”

“Lho, emang harus ngasih di saat Valentine’s Day itu?”

“Ya harus, dong! Itu kan hari kasih sayang. Hari di mana orang-orang ngungkapin perasaannya sama orang yang mereka sayang.”

“Bukannya Rio juga ngungkapin perasaan sayangnya di selain hari Valentine’s Day? Setauku, dia sering deh dateng ke sini bawa cokelat atau bunga buat kamu.”

“Tapi ini Valentine’s Day, kak! Kan biar romantis….”

Jane menarik napas sambil sedikit geli menghadapi adiknya yang masih remaja SMA ini.

“Kalo romantis itu seperti menurut kamu, berarti aku mau sama mas Heru justru karena dia ga romantis, dong ya.”

Samantha mendengarkan.

“Mas Heru itu jaraaaaaanngg banget ngasih bunga atau cokelat. Apalagi pas Valentine’s Day. Kakak tuh ga pernah ngarepin ada itu namanya candle light dinner atau makan malam bedua aja, orang dia inget tanggal jadian aja udah syukur banget.” Jane menjelaskan. “Tapi dari mas Heru, kakak belajar kalo romantis itu bukan bawa makan ke restoran mahal di tanggal-tanggal istimewa, atau jalan-jalan bedua ke tempat-tempat eksotis nan legendaris. Romantis itu memastikan pasanganmu gak kekurangan suatupun, ga ngerasa sedih karenamu, dan yang paling penting pasanganmu tahu kalo dialah nomer satu dalam kehidupanmu.”