Month: January 2016

Short Story #304: Aku Tak Tahu

“Dari pertama kali juga kan harusnya kamu tahu kalo ini bakal terjadi kalo kamu begitu!” Dwi berteriak pada Indra. “But I’m not leaving you! I’m not going anywhere!” Indra balas berteriak. “Kalo kamu ga pergi, ngapain juga kamu ngerencanain semuanya sendirian? Moving out of town without noticing me?” “I’m looking for a better life-“ “EGOIS!”

Short Story #303: Leaving

“I’m leaving him.” Anna memberitahu Wahyu yang sedari pagi sudah berada di apartemennya. “Mulai kapan?” Wahyu bertanya datar.  Mukanya tak berpaling dari layar komputer di depannya. “Mungkin segera.” “Ga pasti, ah.” Wahyu berkomentar. Pedas. “Ntar sama kaya’ yang terakhir kali.” Anna sedikit tersentak karena Wahyu masih mengingatnya. Ia meregangkan badannya, menatap jendela besar di sampingnya.

Short Story #302: Hak Milik

“Kita harus bergerak. Dan saatnya adalah sekarang!” Emma menutup ceramahnya dengan disambut tepuk tangan yang menggemuruh dari hadirin. Tak lama dari itu, ia kemudian turun mimbar lalu ke belakang panggung dan posisinya untuk memberikan ceramah digantikan oleh pembicara berikutnya. “Ceramah yang bagus.” Jennifer mengomentari sambil mengikuti Emma ke ruang ganti. “Inspiratif.” “Sudah saatnya kita, perempuan

Short Story #301: Unsettled

“Jangan gitu, dong. Aku mau berangkat lho, ini.” Gary memohon dari balik pintu yang terkunci. “Suka-suka aku, dong!” Lily menjawab sambil merajuk di atas ranjangnya di dalam kamarnya. “Ayo buka dong, pintunya. Kita bicarain sampe tuntas.” Gary memohon lagi. “Ga mau!” “Ayo dong…” Gary memohon. “Aku ga bisa nih pergi ninggalin kamu kalo masih ada yang