Short Story #300: Tujuan

“Hentikanlah sebelum kau menyesal.” Francine memberitahu.

“Ga bakalan.” Lukas menjawab, sambil masih tetap menggandeng Francine berjalan.

“Tapi aku… aku ga pantas ada di sini.” Francine kembali berkomentar. “Bagaimana kalau ada yang tahu siapa aku sebenarnya?”

“Sudah pasti mereka akan terkagum-kagum karena melihatmu bagaikan Cinderella.” Lukas tak mengindahkan komentar Francine sambil masih terus menggandengnya dan menikmati lirikan mata orang-orang sepanjang jalan masuk.

“Tapi…”

“Kita udah deal, ‘kan?”

“Kalo bisa dibatalin aja, deh.”

Lukas berhenti. Ia memegang kedua pundak Francine dan menatap matanya lekat-lekat.

“I’d be better go home.” Francine memberitahu.

“No. You are going with me.” Lukas menolak. “Jangan takut ada yang mengenalimu. Kamu di sini, saat ini, bukanlah kamu yang tadi, atau kemarin, di tempat lain. Kamu berbeda.”

“Tapi aku tetap orang yang berasal dari tempat yang sama…” Francine bereaksi. “…dari jalanan.”

Lukas diam sejenak.

“Lagipula, apa sih tujuanmu mengajakku ke sini? Ke undangan gala dinner ini?”

“Karena aku melihat sesuatu yang berbeda pada dirimu…”

“Berbeda denganmu, ‘kan? Kamu dari high class sementara aku dari jalanan?”

“…yang terlihat memiliki nilai lebih daripada sekadar penghuni jalanan. Memiliki kehormatan yang patut untuk dihormati.” Lukas melengkapi kalimatnya.

Francine kehabisan kata-kata sementara Lukas mengusap-usap pundaknya yang tak tertutupi apapun karena ia mengenakan gaun malam tanpa pundak.

“We cannot change where we come from, but we definitely can choose¬†where are we going to.” Lukas memberitahu. “Which.. I hope better one, together.