Month: November 2015

Short Story #299: Alasan Bangun Pagi

“Bangun, udah pagi.” Roman membangunkan Jenny, istrinya yang masih terlelap. Sambil masih malas membuka mata, Jenny menarik selimutnya lagi berusaha untuk kembali terlelap. “Ayo, bangun.” Roman mengingatkan. “Masih jam lima lho ini.” Jenny mengintip ke jam dinding kamarnya. “Dan sejam lagi Lilly harus udah berangkat sekolah.” Roman menjawab sambil mengenakan kausnya. “Kamu ini yang nganterin,

Short Story #298: Ga Ada Apa-Apa

“Kamu terlalu baik buat aku. Masih ada orang lain yang lebih baik daripada aku, yang cocok untuk kamu.” Sinta mengulang kembali ucapannya sejak setengah jam yang lalu, yang sulit untuk direspon oleh Kevin. “Aku juga tahu, kamu pasti akan baik-baik aja. Sementara aku mungkin perlu waktu.” “Dusta.” Kevin akhirnya menjawab lalu tertawa sinis. “Kenapa kamu

Short Story #297: I LOVE YOU

“Demikian untuk malam ini. Terima kasih. Selamat malam.” Diva mengucapkan salam sambil undur diri ke belakang panggung. Riuh rendah hadirin bertepuk tangan sambil sebagian mengucap dan memanggil namanya. “Mereka masih menginginkanmu.” Jeremy, manajernya memberitahu ketika Diva masih di anak tangga terakhir belakang panggung. Sambil tersenyum kecil, Diva kembali menuju panggung dan menampakkan dirinya lagi. Tepuk

Short Story #296: Kebahagiaan

“Kebutuhan dan keinginan, pilih mana?” Lyla melempar pertanyaan pada Harun. “Jelas kebutuhan.” Harun menjawab santai. “Kepuasan hati atau pikiran?” Lyla melempar pertanyaan lagi. “Aku cenderung kepuasan pikiran.” “Ego atau rendah hati?” “Pertanyaan sulit, aku masih setengah-setengah terhadap keduanya.” “Okay.” Lyla merespon sambil kembali membaca tabloid yang tengah dibacanya di sela-sela pekerjaan kantor. “Kenapa kamu nanya

Short Story #295: Mas

“Stop ikutin aku, dan berhenti manggil aku, ‘Mas’, ya.” Teguh meminta baik-baik sambil memegang pundak Adinda, yang sudah beberapa hari terakhir selalu menjumpainya ketika ia tiba di kampus, lalu berdekat-dekatan dengannya di sela-sela jam kuliah. “Itu ‘kan sebutan hormat.” Adinda memberitahu sambil masih mengikuti Teguh yang sedang mengecek jadwal kuliah di depan kantor administrasi. “Tapi kan