Short Story #294: Judge

“Paling benci deh gue kalo di-judge tapi ga tau detailnya.” Rosa mengeluh sambil melempar tasnya ke meja kantin.

Dania dan Juwita, kedua teman sekelasnya di mata kuliah tertentu, melihat ke arah Rosa dan langsung memberikan duduk.

“Siapa sih yang tega, gitu?” Dania merespon.

“Ada lah, salah satu kenalan kita.” Rosa memberitahu. “Ngakunya temen, tapi kok ya ngejudge. Padahal gue sendiri ga pernah ngejudge dia.”

“Kayanya gue kenal, nih.” Dania menjawab lagi. “Sandra, ya?”

“Ya siapa lagi?”

“Ya kan kali aja ada orang lain..” Dania menebak.

“Benci deh gue. Sok-sokan kenal segala lagi.” Rosa bertambah kesal. “Kalo temen tuh ya jangan suka ngejudge gitu lho.”

“Tapi biar gimanapun, pasti ada sih keinginan untuk ngejudge.”

“But you better keep it for yourself. Kalo sampe diungkapin kan, bikin kesel.”

Juwita hanya diam saja sambil memperhatikan.

“Lo kok diem aja dari tadi, Ju?” Rosa akhirnya menyadari.

“Ya gue lagi mikir aja sih.”

“Mikir apa?”

“Pernah apa engga gue ngejudge lo, baik itu dalam hati atau langsung. Dan ternyata ga pernah tuh.” Juwita santai memberitahu.

“Nah, ini baru temen.” suasana hati Rosa membaik.

“Eh, jangan salah. Gue ga pernah ngejudge, karena gue kan bukan temen lo.”

Mendengar kalimat terakhir Juwita, suasana hati Rosa kembali kecut sementara Juwita berlalu sambil tertawa geli.

Short Story #293: Dendam

“Jadi, begini akhirnya?” Marriella bertanya sambil memperhatikan lelaki di depannya siap membuka pintu dan pergi.

“Aku sebenarnya mendambakan akhir yang lain.” Aldo menjawab tenang tanpa berbalik. Tangannya sudah di pegangan pintu.

“Trus, kenapa ga bisa seperti itu?” Marriella bertanya lagi. Kali ini sambil berganti posisi duduknya di sofa.

“Karena sudah kelewat masanya.” Aldo menjawab lagi.

Lalu hening. Marriella seperti sedang berpikir. Aldo menunggu, menantikan kalimat lainnya, tapi tak ada. Ia lalu memutar kenop pintu dengan menggenapkan keyakinan di hatinya bahwa itu yang terbaik. Tapi…

“You’re the best thing happened in my life.”

“Trus kenapa kamu sia-siakan?” Aldo berbalik dan menatap Marriella. Ia setengah terkejut, karena mendapati Marriella sudah berlinang air mata di pipinya. Hatinya menyuruhnya untuk bergerak, mendekati, tapi…

“Aku khilaf.”

“Trus?”

Aldo menunggu. Menantikan sebuah kata singkat yang pernah ia utarakan tak perlu diucapkan di antara hubungannya dengan Marriella. Menantikan sebuah penyesalan. Menantikan sebuah permohonan.

“I gave you my trust.” Aldo memberitahu.

“Kalo gitu, bisakah kamu mempercayaiku lagi?” Marriella memohon. “Could you please trust me again, believing that I’m changing? That I have changed ever since?”

Giliran Aldo yang diam. Genggaman tangannya pada kenop pintu semakin erat. Geram. Sedih. Bercampur.

“Supaya kamu tau, aku mempercayaimu sepenuhnya. Seluruh diri kukerahkan untuk mempercayaimu.” Aldo memberitahu. “Tapi itu salah.”

“Kenapa?” suara Marriella serak.

“Karena ketika kepercayaan itu disalahgunakan, maka tak ada lagi yang tersisa selain dendam.”

Isakan tangis pelan terdengar dari balik pintu yang tertutup ketika Aldo melangkahkan kakinya pergi.

Short Story #292: Dianggap Mati

“Dunia itu luas.” Haikal memberitahu.

“Iya. Aku tahu.” Alvin menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari tas ransel yang sedari tadi ia siapkan. “Itu sebabnya aku pergi.”

“Maksudku bilang dunia itu luas, artinya masih banyak orang yang bisa kamu temui meski ga harus pergi.”

“Iya. Aku tau.” Alvin menjawab. “Tapi sepertinya aku lebih perlu ketemu orang dengan pergi dari tempatku sekarang.”

“Aku ga ngerti sama cara pikirmu.” Haikal hendak beranjak dari posisinya yang bersandar di kusen pintu.

“Ga usah ngerti, ‘Kal.” Alvin memberitahu sambil menyelesaikan persiapan tas ranselnya. “Kamu cukup ngerti aja kalo aku pergi sekarang, suatu saat mungkin aku balik. Itu aja cukup.”

“Sakitnya dalem banget, ya?”

“Cuma dua pilihan utama orang yang ditinggal merit sama pasangannya: mati, atau dianggap mati.” Alvin menjelaskan. “Dan buatku, lebih baik aku dianggap mati, toh? Baik itu olehnya maupun juga diriku sendiri.”

“Kusut pikiranmu.” Haikal berkomentar.

“Intinya, aku ga mau ke mana aku pergi masih ngeliat hal-hal yang ngaitin sama dia. Dan aku juga tentunya ga mau ke mana dia pergi justru ngeliat hal-hal yang masih ngaitin sama aku.”

“Kalo kelak… ke manapun kamu pergi nanti.. kapanpun itu… mendadak ketemu dia lagi di sana, gimana?”

“Aku ga mau berpikir ke sana.” Alvin menjawab. “Yang jadi fokusku saat ini adalah, gimana caranya aku bisa ngerasa lebih baik.”

Short Story #291: Justru Itu

“Kenapa kamu milih dia? Liat deh baik-baik.” Cholil penasaran.

“Ga perlu aku jawab.” Juwita menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari antrian di depannya.

“Ya dipikir-pikir, emang ga enak diliat juga, sih.” Cholil melanjutkan dengan nada sinis.

Juwita justru langsung menoleh ke arah Cholil dengan tatapan tajam.

“Apa salahku?”

“Lidahmu itu pait, ‘Lil. Banget.” Juwita memberitahu. “Rasanya pengen aku silet-silet.”

“Owalah, maaf-maaf.” Cholil langsung menyadari kesalahannya.

Juwita kembali fokus ke antrian di depannya. Sesekali, ia memastikan lelaki yang dimaksud oleh Cholil masih duduk di kursinya yang sama sejak datang tadi melalui ekor matanya.

“Kamu tau kalo kamu punya banyak pilihan, kan?” Cholil bertanya.

Juwita kembali menatap Cholil dengan tatapan tajam.

“Oke..oke.. aku cuma mastiin aja.” Cholil memberitahu. “Soalnya, aku ga ngeliat apapun yang spesial dari dia. Ga ada satupun.”

Juwita mencoba tetap tenang. Ia menahan keinginannya untuk mencerca Cholil.

“Masih banyak orang lain yang spesial, punya kelebihan dan sesuatu yang bisa dibanggakan ketimbang dia. Aku heran sendiri kenapa kamu dulu bisa ketemu dia dan langsung jatuh hati begitu.” Cholil melanjutkan. “He’s not special. Dia bahkan ga bisa ngurus dirinya sendiri untuk dapet perhatian orang lain, selain kamu tentunya.”

“JUSTRU ITU!” Juwita mendadak berteriak sambil berbalik kea rah Cholil yang terkejut. “Dia memang ga spesial, dia ga bisa ngurus dirinya sendiri, karena dia terlalu sibuk untuk ngurusin orang lain dan ngebuat orang lain jadi spesial. Orang seperti aku!”

Karunia

Tuhan memberikan setiap hamba-Nya hal-hal yang diperlukan oleh masing-masing. Hal-hal tersebut adalah pelengkap sekaligus juga amanah dan ujian yang wajib diemban oleh hamba-Nya tersebut. Dan yang sudah pasti, ketika Tuhan memberikan hal-hal tersebut kepada hamba-Nya, Ia sudah pasti Maha Tahu bahwa hamba-Nya tersebut mampu untuk menjalaninya dan layak untuk mendapatkannya.

Sama halnya ketika Tuhan memberikanmu, Nak. Anak kedua Papi dan Mami. Adik dari kakakmu.

Ketika pertama kali Papi dan Mami mengetahui bahwa sedang mengandung kamu, rasa bahagia menjalar ke sekujur tubuh. Kabar gembira ini pun disebarkan ke keluarga dan kerabat dekat. Papi dan Mami pun mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk kelahiranmu, termasuk merencanakan hal-hal terbaik yang bisa kami lakukan untukmu.

Minggu demi minggu. Bulan demi bulan. Semua dilewati dengan tak sebentar. Ada beberapa momen ketika kamu masih di kandungan, Papi dan Mami begitu penasaran dengan seperti apakah kamu nanti. Apakah lelaki atau perempuan? Apakah lebih mirip Papi? Apakah lebih mirip Mami? Apakah akan mirip dengan kakakmu? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain. Tapi semua hal yang membuat penasaran tersebut sirna sudah karena Papi dan Mami sadari hal yang menjadi prioritas, yakni kesehatan dan juga keselamatan. Baik kamu dan Mami.

Menjelang minggu-minggu terakhir periode kandunganmu, Papi dan Mami semakin memastikan semua yang dibutuhkan untuk proses kelahiranmu dan juga awal-awal setelah lahir sudah siap. Tentu ini kami pelajari juga dari proses kelahiran kakakmu.  Satu hal yang sudah pasti kami siapkan ketika sudah mengetahui jenis kelaminmu adalah nama. Sebuah nama yang kami harapkan menjadi doa untukmu maupun untuk Papi dan Mami.

Dan kemudian, engkau lahir. 3 Oktober 2015, jam 20:35 WIB.

Padamu, Nak, Papi dan Mami siap memberikan yang terbaik yang bisa kami lakukan sebagai orangtua. Tak lain karena Papi dan Mami inginkan kamu tumbuh kembang menjadi seseorang yang taat pada agama, seseorang yang cerdas, mampu membedakan hal baik dan buruk, seseorang yang bersemangat, yang dapat mewujudkan mimpi-mimpinya.

Papi dan Mami siap untuk hadir untukmu. Menjadi yang menarik tanganmu ketika kau terjatuh atau tertinggal, menjadi yang mendorongmu untuk maju ketika semangatmu menurun, menjadi pendengar yang baik ketika kau hendak bercerita, menjadi bantalan yang menenangkan sekaligus melentingkan jika kau terpeleset, dan, menjadi supporter nomer 1 untukmu.

Sebuah janji yang paling utama Papi ucapkan adalah, Papi akan berusaha untuk adil padamu. Berusaha untuk memberikan perhatian dan kasih sayang yang adil dengan kakakmu. Berusaha untuk memberikan semangat, dorongan, dan waktu yang adil dengan kakakmu. Berusaha untuk memberikan daya dan upaya yang adil dengan kakakmu.

Semua akan Papi dan Mami lakukan, karena engkau adalah karunia dari Tuhan. Sebuah amanah, sebuah titipan yang Papi dan Mami terima dengan suka hati, dan menyadari bahwa kamu harus mendapatkan yang terbaik yang bisa Papi dan Mami lakukan.