Short Story #290: Mendengar

“Aku paling takut kalo suatu hari nanti penglihatanku mulai berkurang.” Arjuna berkomentar di sela-sela menunggu dosen masuk kelas.

“Kenapa?” Lestari, salah satu teman kuliahnya bertanya.

“Ya coba dipikir aja, mata sebagai penglihatan kita itu ngebantu banget semua aktivitas kita. Masih bisa ngeliat sekalipun, kalo udah ga ada cahaya pasti susah kan mau beraktivitas.” Arjuna memberi alasan.

“Iya sih, masuk akal.” Lestari mendukung.

“Kalo gitu kamu cocok jadi pemimpin.” Zul, teman kuliah Arjuna yang lain menimpali.

“Kenapa?” giliran Arjuna yang bertanya.

“Seorang pemimpin harus memiliki pandangan yang bagus, yang luas, maka dari itu penglihatan dia ga boleh terganggu.” Zul memberitahu.

“Oiya, bener juga.” Lestari menyetujui. “Arjuna cocok banget sama impiannya yang bakal maju di pemilihan ketua mahasiswa besok.”

“Tapi aku lebih takut kalo suatu hari nanti pendengaranku mulai berkurang, atau bahkan tuli sama sekali.” Zul melanjutkan. Mengabaikan komentar terakhir dari Lestari.

“Kenapa?” Lestari bertanya.

“Karena buatku, mendengarkan itu lebih sulit ketimbang hanya melihat. Mendengar itu membutuhkan hati, membutuhkan pemahaman, memerlukan pengertian.” Zul menjelaskan. “Mendengar itu memerlukan jarak yang terjangkau, yang lebih dekat untuk sekadar mendapatkan apa yang dimaksud oleh si pembicara atau pemberi informasi. Berbeda dengan melihat yang bisa dilakukan dari jarak yang jauh dan atau bahkan cukup melihat secara luas saja.

“Mendengar itu memerlukan waktu. Membutuhkan keahlian untuk memilah informasi satu-persatu. Mendengar itu melatih kesabaran. Mendengar itu mendekatkan, sementara melihat cenderung memberi jarak.”

Lestari manggut-manggut coba memahami, sementara Arjuna sedikit gelisah.

“Zul, besok pas pemilihan ketua mahasiswa lo jangan nyalon, ya. Awas lho. Bisa kalah gue nanti.” Arjuna berkomentar yang langsung disambut tawa oleh Lestari dan Zul.

Short Story #289: Hak

“Ada baiknya kita kelarin semua secepet mungkin.” Gita menganjurkan sambil menyodorkan selembar kertas di atas meja.

Hans melihat sekilas, lalu kembali membuang pandangan ke arah luar jendela. “Aku ga mau.”

“Udah terlalu banyak waktu terbuang, Hans.” Gita sedikit mendesak.

“Biar saja, itu kan waktumu. Aku sih, punya banyak waktu.”

Gita menarik napas. Hampir saja ia kehilangan kesabaran sehingga berteriak dan membentak-bentak lagi, tapi ia sadar kali ini ia sadar tengah berada di tengah-tengah kedai kopi besar. Sebuah tempat yang sengaja ia pilih sendiri.

“Biar resmi, Hans. Ga gantung mulu.”

“Buatku ga ada yang gantung.”

“Kalo gitu biar clear semuanya.” Gita membujuk.

Hans menoleh dengan pandangan tajam. Gita yang semula mencondongkan badannya ke arah Hans, kembali menegakkan badannya.

“Kurang clear apalagi? Udah jelas-jelas aku ga pengen ini terjadi.” Hans bersikeras. “Aku. Cuma. Mau. Kamu. Pulang. Sama. Aku.”

Gita berpikir sejenak. “Oke, nanti aku pulang sama kamu.”

Hans tak menyangka Gita akan secepat itu merespon. “Bagusla-“

“Tapi kita pulang ke tempat masing-masing. Selesai.”

Hans kembali cemberut, kemudian membuang muka ke luar jendela.

“Ayolah Hans, ini kan hakku juga untuk mengejar kebahagiaanku… Could you please understand?”

Hans menarik napas. Ia kembali memandang Gita, tapi kali ini dengan pandangan yang tenang, namun dalam.

Tangannya menarik pena yang berada di saku depan kemejanya, lalu ia membubuhkan tanda tangannya ke atas kertas yang sedari tadi disodorkan.

Tepat sesaat sebelum Gita mengambil kertasnya kembali, Hans memegang dan menahan tangannya. “Kamu lupa kalo aku juga berhak bahagia, dan menurutku aku bahagia dengan ada kamu di sisiku. Tapi aku sadar, berhak bukan berarti harus ngeklaim hak itu.”

Short Story #288: Nama

“Susah bener punya nama gue, ya.” Steffi mengeluh.

“Lah, kenapa emang?” tanya Ari menemani siang itu di kantin sekolah.

“Nyadar ga sih lo, nama gue tuh potensial banget buat salah arti dan salah tulis.” Steffi menjelaskan.

“Eng… iya sih.” Ari mengingat-ingat momen saat guru seringkali salah tulis nama Steffi dan salah memanggil juga.

“Apa gue perlu ganti nama kali ya? Trus syukuran pake bubur merah putih?” Steffi mengandai-andai. “Sekalian ganti nama buat di ijazah SMA nanti gitu.”

“Yakin lo? Nama lo kan doa dari orangtua lo.”

“Iya sih.”

“Sebenernya mungkin nama lo terinspirasi dari orang terkenal juga kali, ada petenis terkenal gitu deh yang namanya Steffi juga.” Ari memberitahu.

“Masa’?”

“Iya. Coba google aja.”

Steffi langsung mengambil ponselnya dan googling nama Steffi, lalu berteriak. “Wah, iya bener!”

“Nah, ‘kan.”

“Tapi gue tetep pengen ganti nama deh, biar lebih populer gitu.”

“Lah kenapa lagi?” Ari heran.

“Biar bisa koleksi kaleng soda itu, yang lagi promo ada namanya itu lho. Abis nyarinya susah bener nama gue, masa’ iya gue musti keluar negeri dulu?”

“Gapapa kali ga ada nama lo di kaleng soda itu, yang penting nama lo selalu ada di hati gue.”

Short Story #287: Kebanyakan

“Terlalu memang…” Ben menendang-nendang pelan kerikil di dekat kakinya.

“Ikhlasin, Ben.” Aura berkomentar. Pipinya masih basah oleh air mata.

“Tapi ini keterlaluan, sih..” Ben melanjutkan sambil berjongkok. Ia terlihat geram.

“Yang penting dia udah di tempat yang lebih baik.”

“Mudah-mudahan.” Ben berharap.

“Mudah-mudahan juga Polisi bisa nemuin siapa yang jadi penyebabnya.” Ferdi yang sedari tadi diam, akhirnya berbicara. Ia membetulkan posisi kacamata hitamnya sambil tetap berdiri dan menjaga jarak.

“..Dan harus dihukum paling berat.” Ben kembali berkomentar.

“Biar hukum yang nentuin, Ben.” Aura coba menengahi.

“Heran banget.. Padahal setau aku dia ga pernah punya masalah sama orang banyak. Sekalipun ada, cepet-cepetan dikelarin.” Ben berkata. “Tipikal orang yang cocok buat jadi temen… dari semua orang.”

“Cocok buat jadi temen, bukan berarti ga ada yang ga suka, sih.” Ferdi memberitahu.

“Yeah.. sejuta temen ga pernah cukup, seorang musuh udah kebanyakan.” Aura bereaksi.

Ben berdiri. Diikuti Aura, ia meninggalkan gundukan tanah yang masih memerah.

Smooth Experience with Korean Air

Udah lama ga nulis terkait jalan-jalan alias ngetrip, mau coba mulai lagi ah sekarang. 🙂

Sekitar medio Desember 2013 lalu, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Korea Selatan – tepatnya Seoul dan sekitarnya, terkait dengan pekerjaan. Karena saya udah cukup lama ga ke wilayah bumi dengan 4 musim dan waktu persiapan yang cukup mepet sementara masih banyak yang harus diurus, akhirnya urusan visa dan juga tiket perjalanan diserahkan ke salah satu agen perjalanan. Ya, mengurangi satu pikiran lah.

Singkat cerita, setelah urun rembuk dengan rekan-rekan satu kelompok perjalanan-pekerjaan, akhirnya dipilihlah Korean Air sebagai maskapai yang akan digunakan untuk perjalanan pergi-pulang. Pertimbangannya banyak, mulai dari waktu keberangkatan yang sesuai, rekomendasi dari agen perjalanannya, sampai dengan harga. Tapi kali ini yang bakal saya omongin lebih ke pengalaman di perjalanannya ya, bukan detail lainnya.

Hari H keberangkatan, setelah mengantisipasi akan terjadi banjir bandang lagi – pada waktu itu beberapa hari sebelumnya Jakarta banjir di sana-sini, tiba di bandara Soekarno-Hatta dengan jarak 6 jam dari jam buka check-in. Setelah menunggu rekan sekelompok dan menghabiskan waktu, akhirnya sekitar 2 jam sebelum take off, mulai masuk untuk mengantri check in. Di sini pengalaman smooth dimulai.

Group check-in. Pilihan ini sangat membantu untuk saya dan rekan-rekan, karena barang bawaan kami yang cukup banyak serta agak repot kalo harus mengantri satu-persatu. Serta, rencananya memang di pesawat hendak meminta kursi yang berdekatan – rencana awalnya ya supaya mudah mengobrol. Semuanya berjalan lancar dan cepat.

Masuk ruang tunggu sampai dengan boarding, ga ada cerita berarti. Lebih berarti lagi saat mulai boarding, karena menjumpai air crew-nya tak semuanya warga Korea, tapi ada juga dari Melayu dan Indonesia. Ketauan dari mana? Jelas karena nanya, dong. :mrgreen: Kan buat mastiin, kalo butuh sesuatu di flight nanti terkait makan-minum atau entertainment services, ada yang mudah diajak ngobrol. 🙂

Smooth take-off. Hampir ga berasa bump sama sekali. Setelahnya perjalanan di udara juga nyaman dengan pilihan makanan yang ramah dengan perut – saya lupa persis saya order makanan apa, yang pasti bukan Korean. Juga penawaran alkohol dengan cara sopan – menanyakan apakah memang minum atau tidak.

Air crew yang cakap. Minimal dalam berbahasa Inggris, serta berbahasa Melayu dan Indonesia – untuk yang crew dari Melayu-Indonesia. Mungkin memang karena saya udah lama juga ga naik pesawat yang lebih dari 6 jam ke negeri dengan bahasa aslinya bukan bahasa Inggris, jadinya kalo nemu air crew yang cakap bahasa Inggris, semacam takjub gituh. 😛

Perjalanan malam yang memang sengaja dikondisikan agar bisa kill time di perjalanan, terasa nyaman juga dengan Korean Air. Pilihan in-flight entertainment yang up-to-date – pada waktu itu, mendukung buat saya yang cenderung susah untuk tidur lebih dari 1 jam jika sedang dalam perjalanan. Kecuali ya, kalo emang sebelum naik pesawatnya udah capek bingits. *eh*

Jelang landing di Seoul, Korea, baru ketauan kalo ternyata air crew yang bisa berbahasa Indonesia tersebut adalah pramugari dari Garuda Indonesia yang sedang “pertukaran karyawan” ke Korean Air. Saya sempat heran, karena meskipun sama-sama maskapai besar dan punya trayek (halah) Jakarta-Seoul, kok pramugarinya tuker-tukeran gitu. Di kemudian hari, baru saya tau kalo “pertukaran” itu mungkin adanya, karena kedua maskapai tersebut berada di grup SkyTeam.

Smooth landing. Satu-satunya hal yang saya ingat sebelum landing adalah pengumuman dari pilot untuk penumpang serta aba-aba “prepare for landing” untuk air crew. Setelahnya? Suara lepas seat-belt dan pemandangan Incheon Airport yang mulai bersalju dengan langit yang masih gelap. Iya, bump pada saat landing ga berasa banget. Hal ini tak hanya diakui oleh saya, melainkan juga oleh rekan-rekan seperjalanan.

Perjalanan pulang beberapa minggu kemudian dengan Korean Air pun mendapati pengalaman yang kurang lebih sama. Baik itu saat masih di ground sebelum berangkat, take off, in flight, sampai dengan landing. Benar-benar sebuah strategi yang apik – dan sudah seharusnya dilakukan, oleh Korean Air.

So, Korean Air? Smooth experience for me.