Short Story #286: Susah Sembuh

“Ga masuk lagi si Merry?” Dania melihat bangku kosong di sebelahnya di dalam ruang ganti.

“Masih recovery mungkin.” Michelle menjawab santai sambil melanjutkan ganti baju.

“Recovery apanya?”

“Ya hatinya laaahh..” Michelle memberitahu. “Ga gampang kali buat dia diputusin sama cowoknya.”

“Emang hatinya luka gitu?”

“Sepertinya begitu.”

“Lah…” Dania berkomentar sambil kemudian menyelesaikan ganti bajunya dengan pakaian olahraga.

“Kamu sepertinya punya saran yang mujarab buat sembuhin luka. Coba ntar pulang sekolah ke rumahnya Merry, dan kasih dia wejangan.” Michelle menyarankan.

“Buat apa?”

“Ya biar dia cepet sembuh luka hatinya, dan masuk sekolah lagi.”

“Oh.. begitu.” Dania mengikat tali sepatunya, lalu sedikit pemanasan. “Cemen banget sih, kaya’ luka gara-gara perasaan paling susah sembuh dan paling susah bikin gerak aja.”

“Emang ada luka yang paling susah sembuh dan bisa bikin susah gerak banget?”

“Ada. Luka-luka di persendian, luar atau dalam. Juga luka di gusi atau syaraf mulut karena sakit gigi.” Dania memberitahu.

“Ebuset, itu beda bidang kali!” Michelle melempar Dania dengan perangkat olahraga yang akan mereka gunakan.

Short Story #285: Lari

“Lagi ngetren banget kaya’nya ya acara lari-lari itu.” Heru berkomentar sambil meletakkan surat kabar di meja yang bergambarkan iklan promosi acara lari.

“Iya. Ada beach run lah, night run lah, macem-macem run, lah.” Joanne merespon sambil masih memainkan ponselnya.

“Sponsornya lagi pada demen kali.” Farah menambahkan santai.

“Padahal acara begituan bayar, ‘kan. Kalo mau lari doang sih, bisa gratis.” Heru berkomentar lagi.

“‘Kan dapet memorabilia. Medali sama kaos gitu.” Joanne memberitahu, masih dengan menatap ponselnya.

“Yaelah, begituan doang bikin sendiri juga bisa kali.” Heru balik berkomentar.

“Tapi ‘kan beda rasanya tau..” Joanne bereaksi. Kali ini ponselnya sudah ia simpan di meja.

“Beda karena pesertanya lebih banyak? Karena barengan gitu?”

Farah melihat kedua teman kerjanya sesaat sebelum berkomentar. “Padahal ada acara lari yang gue tau berasa banget dan udah pasti banyak pesertanya, tanpa harus ada sponsor. Tapi, ga ada memorabilia gitu sih.”

“Apaan?” Joanne dan Heru serentak.

“Lari dari kenyataan.” Farah memberitahu dengan kalem.

Short Story #284: Mabuk

“Baru tau gue kalo lo minum juga.” Sharon mengomentari Nicky yang baru duduk dengan segelas bir di tangannya.

“Lah, semua orang pasti minum bukan? Kalo engga, abis makan seret dong.” Nicky menjawab dengan cepat lalu meneguk birnya.

“Maksud gue, gue kirain lo ga minum bir.” Sharon menjelaskan.

“Jangankan bir, waktu naik pesawat Singapore aja itu kapan tau, wine juga dia minum.” Felix memberitahu.

“Wew…” Sharon terkejut.

“Kenapa harus heran?” Nicky bertanya sambil melanjutkan makannya.

“Ya kan, lo imejnya alim, lurus-lurus aja, ga main ini-itu, trus ga taunya minum alkohol juga.” Sharon memberitahu, sambil sedikit mencondongkan badannya. Ia khawatir suaranya tak terdengar, karena resto tempat mereka makan malam ini mulai mengubah pilihan musiknya sejalan waktu yang semakin larut.

“Gue minum bir dan wine, bukan alkohol.”

“Ya sama aja.” Sharon membalas. “Gue kirain lo ga minum karena itu haram buat lo.”

“Kalo buat dia sih, yang memabukkan baru haram.” Felix menyambar yang langsung disetujui Nicky.

“Maksudnya?”

“Sepanjang gue ga mabok, ya masih gapapa.” Nicky menjelaskan.

Sharon diam, coba mencerna.

“Makanya sampe sekarang masih jomblo nih dia, soalnya kan cinta itu memabukkan. Dan jadinya itu haram.” celetuk Felix yang langsung mengundang tawa.

 

NB: Cerita pendek ini tidak bertujuan untuk mendiskreditkan atau menyerang agama, komunitas, atau ajaran keyakinan tertentu.

Short Story #283: Peraturan

“Peraturan dibuat untuk dilanggar.” Jamie mengomentari posisi parkir kendaraan di seberang mobil yang ia tumpangi.

“Kesian ya, ga bisa ngeliat garis petunjuk posisi parkir.” Daniel merespon sambil menutup pintu mobil lalu mengunci.

“Keburu-buru ‘kali.” Michelle menanggapi dari depan kap mobil.

“Jangan selalu mikir positif, lah.” Jamie menjawab sambil kemudian mengambil foto kendaraan yang parkirnya salah tersebut, kemudian siap untuk mengetwit.

“Mau ditwit?” Michelle bertanya.

“Iya? Biar seluruh dunia tau, kalo masih ada yang #parkirlubangsat.” Jamie memberitahu.

“Yaelah Jim, kaya’ lo ga pernah ngelanggar aturan aja.” Daniel menengahi.

“Nope. Ga pernah. Gue sebisa mungkin selalu ngikutin peraturan yang ada.” Jamie menjawab, menghentikan sementara untuk mengetwit.

“Bahkan ketika mungkin peraturan itu ngerugiin lo?” Daniel memburu.

“Iya.”

“Dan lo ga pernah sekalipun kepengen ngelakuin hal di luar peraturan?”

“Gue ga ngerti maksud pertanyaan lo, Niel.” Jamie menjawab sambil terus jalan menuju gedung kuliah.

“Seinget gue, Jamie selalu on time, ga bolos tanpa alasan ga jelas, dan masih banyak lagi, sih.” Michelle menambahkan.

“Tuh, ‘kan…” Jamie merasa didukung.

“Kenapa sih lo begitu? Ga ada tantangan banget kayanya hidup lo.” Daniel berkomentar.

Jamie lalu berhenti, dan membiarkan Daniel jalan terlebih dahulu sampai kemudian ia menyadari jika Jamie berhenti.

“Kenapa?”

“Bukan soal tantangan sih.. Tapi lebih ke apa yang bisa lo hadapi dengan peraturan itu?” Jamie memberitahu.

“Oh, jadi maksud lo, lo ga mau susah karena breaking the rules?” Daniel menyimpulkan.

Jamie diam sejenak sebelum menjawab. “Well… ngikutin peraturan aja udah susah, apalagi kalo ngelanggar peraturan?”

Short Story #282: Shared

“Curhat bener status lo.” Riko berkomentar sambil melihat layar ponselnya yang sedang membuka aplikasi pertemanan digital.

“Ehehehe… Boleh dong curhat dikit di sosmed. Kali-kali ada yang bisa bantuin dapet jodoh.” Meitha menjawab sambil mengambil potongan pizza lagi dari meja.

“Emang apa sih statusnya?” Violet penasaran sambil menoleh pada Riko. Ia malas mengeluarkan ponselnya untuk mengecek, terlebih saat sedang makan bersama di restoran umum.

“Kinda need someone to be shared.” Riko membacakan statusnya Meitha.

“Yaelah, curhatnya kok ya desperate amat.” Violet berkomentar.

“Ya abis, udah kelamaan jomblo nih gue.” Meitha menjawab.

“Baru juga 3 minggu kok ya udah lama.” respon Riko. “Kalo udah sampe bertahun-tahun kaya’ Chandra noh, baru kelamaan.”

Seketika Meitha dan Violet tertawa. Chandra, orang yang dimaksud hanya tersenyum kecil melihat ke arah tiga temannya sejak SMA. Meski candaan mereka kadang nyelekit, ia masih senang dan sayang terhadap mereka. Tapi…

“Mending lo ganti status lo, deh. Atau seenggaknya, lo hapus.” Chandra akhirnya angkat bicara.

“Lah, kenapa emang? Jangan bilang lo mau komentar ‘kalo curhat sama Tuhan aja.’?” Meitha merespon yang langsung diikuti Riko dan Violet terkikik.

“Nope.” Chandra langsung bereaksi. “Dasarnya kita orang Indonesia, ga pernah belajar detail gimana struktur kata dan kalimat di bahasa lain, Inggris misalnya. Kecuali mereka yang kuliah atau bikin penelitian mengenai bahasa tersebut.”

“Terus? Hubungannya sama status Meitha, apaan?” Violet penasaran.

Chandra menggeser piring makan pizza-nya sedikit, menatap ketiga temannya satu-persatu, lalu kemudian membenarkan posisi kacamatanya. Serius.

“Arti status lo bisa beda sama maksud yang lo pengen sampein.” Chandra memberitahu.

“Bukannya jelas artinya ‘semacam butuh seseorang untuk berbagi’?” Riko bertanya.

“Artinya bukan cuma itu, tapi juga ‘semacam butuh seseorang untuk DIBAGI.'” Chandra menjelaskan. “Kalo ntar mendadak ada pasangan yang udah menikah ngontak lo dan kemudian nawarin lo jadi istri poligami, gimana?”

Riko, Violet, dan Meitha diam. Mereka coba memahami maksud Chandra.

“Ada arti yang lebih nyeremin lagi, malah.” Chandra melanjutkan. “Kata ‘DIBAGI’ bisa juga diartikan ‘TERBAGI’ yang kalo artian sebenarnya adalah lo mau ada orang kebagi-bagi fisiknya. Kebayang ‘kan kalo ntar mendadak ada kiriman fisik orang yang ga lo kenal, hanya karena ada orang macam Hannibal Lecter yang baca status lo?”

Seketika Meitha menelan ludah sebelum kemudian membuka akun social media miliknya sambil diburu-buru oleh Violet dan Riko.