Short Story #281: Maaf

“Ketemu kamu adalah hal terakhir yang aku harapkan saat aku memutuskan untuk dateng ke sini.” Rusli memberitahu saat akhirnya Bella berhasil mendapatkan waktu untuk tatap muka langsung.

“Pelanin suaramu, dong.” Bella memberitahu.

“Buat apa?!” nada suara Rusli meninggi lagi.

Bella menarik Rusli dari tengah keramaian ke salah satu balkon aula yang terbuka di malam itu.

“WE need to talk.” Bella memaksa.

“Mungkin KAMU yang perlu, kalo aku udah selesai semua urusan sejak terakhir kali kamu memutuskan untuk memilih orang lain.”

“Can’t we just be friends anymore?”

“Kamu lupa sama ucapanmu sendiri di saat pertama kali kamu milih aku?” Rusli merespon cepat. “Kalo sebuah hubungan berlanjut ke tahapan yang lebih serius, ga ada lagi temen. Yang ada pasangan.”

“Iya, aku inget ucapan itu.”

“Trus kenapa kamu minta supaya kita bisa jadi temen lagi?”

Bella diam sejenak. Ia melihat air muka Rusli dipenuhi dengan amarah.

“Setiap orang punya alasan untuk memilih melakukan sesuatu-”

“Dan kamu punya alasan apa untuk pergi meninggalkan aku?” Rusli memotong.

“…Setiap orang juga pasti pernah melakukan kesalahan.”

“Trus aku jadi sesuatu yang salah buat hidup kamu yang sempurna sehingga akhirnya kamu lebih milih orang lain?” Rusli memotong kembali. Lalu memegang pinggiran balkon yang memperlihatkan cakrawala malam.

Bella menarik napas. Kesabarannya sudah hampir habis dan ia hendak meledak, tapi kemudian ia ingat bahwa bisa jadi Rusli selama ini lebih banyak menyimpan amarah sehingga akhirnya ia tetap tak bisa menerima keputusannya, meski sedang diajak untuk bercakap-cakap seperti yang sedang ia lakukan.

“Kenapa kamu ga bisa maafin aku?” Bella bertanya.

Kali ini Rusli tak langsung menjawab. Ia justru menarik napas terlebih dahulu seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu yang sangat berat. Sesuatu yang telah menjadi bebannya selama ini.

“Karena aku ga bisa ngelupain kamu.” Rusli memberitahu sambil menoleh dan melihat ke arah Bella.

Giliran Bella yang tak bisa menjawab. Ia hanya bisa membiarkan mulutnya ternganga karena terkejut kehabisan kata-kata.

“Permisi, aku belom ngucapin selamat sama kedua pengantin.” Rusli undur diri setelah menunggu beberapa detik dan meninggalkan Bella di balkon.

Short Story #280: Damage

“Ternyata, kamu dateng juga.” Haylee menyapa Thomas, salah satu teman lelakinya saat SMA di acara reuni kecil-kecilan sekaligus silaturahim lebaran yang diadakan angkatan mereka.

“Well, aku ga punya alesan buat ga dateng secara emang lagi pulang.” Thomas menjawab santai.

Beberapa teman yang lain juga sesekali menyapa Thomas dan Haylee secara bergantian, sampai kemudian tinggal mereka berdua.

“Dateng sendirian?” Haylee bertanya.

“As you can see.”

“Pada di mana?”

“Jalan-jalan. Katanya mau explore aja kampungku seperti apa.” Thomas memberitahu. “Kamu tahu sendiri, yang paling gede suka banget jalan-jalan apalagi kalo banyak spot bagus buat foto-foto alami gitu.”

“Iya, aku ngikutin kok di instagramnya dia.” Haylee merespon. “Bakat motonya pasti turunan dari bapaknya.”

“Haha.. Ga mungkin lah, kalo turunan dari bapaknya, pasti kerjanya ga bakal jadi analis. Bisa jadi dia malah pengen kaya’ tantenya yang udah motret sampe keluar negeri.”

“Moto karena kerjaan itu ga asik tau, lebih asik kalo karena hobi.” Haylee berkomentar dengan sopan.

“Kapan ke mana lagi?” Thomas penasaran.

Haylee meneguk minuman ringannya sebelum menjawab. “Entah, mungkin taun depan. Sampe akhir taun aku mau break dulu, kalopun motret lebih karena aku pengen dan bukan karena kerjaan.”

“Hoho.. beda ya sama awal-awal dulu, ke manapun selalu disamber.” Thomas bereaksi. “Kalo udah punya nama, beda sih.”

“Semangatnya kan juga udah beda, dulu aku nyari pengalaman dan eksistensi, makanya nyamber apapun, no matter what.”

“Iya, bahkan aku aja ditinggalin.”

CLING! Suara bel kecil bergema di dalam kepala Haylee. Ia menduga-duga apa maksud ucapan Thomas.

“Dulu kenapa sih kamu ngebiarin aku pergi?” Haylee memancing.

Thomas diam sejenak. Ia berpikir apa saja yang sudah ia ucapkan. Lalu….

“Kamu ibarat layang-layang yang mulai terbang tinggi karena ada hembusan angin kencang, dan aku ibarat yang megangin layang-layang dengan tali tambang kasar dari daratan.” Thomas menjawab dengan majas.

“Aku ga pernah ngerti ucapanmu kalo udah pake kiasan begitu…” Haylee menjawab dengan suara datar, tapi jelas-jelas raut mukanya menampakkan kekecewaan.

“Aku cuma menghindari kerugian yang lebih besar.” Thomas langsung menjawab. Berusaha mendapatkan perhatian Haylee lagi. “Sometimes letting go avoids more damages that can¬†happened.”

Short Story #279: Reasons

“What are you doing here?” Jamie baru sampai dan langsung bertanya pada Kayla yang tengah menunggu di kursi teras rumahnya.

“Nungguin lo.” Kayla menjawab singkat.

Jamie melihat Kayla dengan lengkap. Jaket, tas punggung, dan koper.

“Diusir?”

“Gue sukarela pergi.”

“Kenapa?”

Kayla tak langsung menjawab. Ia memutar bola matanya sambil mengangkat bahunya.

“Bisa masuk dulu ke rumah lo ga?”

“Ga bisa.” Jamie menjawab tegas. “Gue ga mau ada masalah di sini.”

“Don’t worry. All on me.”

“Jaminannya?”

Kayla diam.

“You’d be better go home.” Jamie menyarankan.

“Home is where my heart belong. And it is here, with you.”

“Lo cuma lari dari masalah.” Jamie memberitahu. “Sama seperti beberapa bulan yang lalu, dan setahun yang lalu.”

“Tapi-”

“Gue ga mau jadi pelarian lagi.” Jamie memotong.

Kayla diam. Ia terpukul sekaligus kesal. Tak ia sangka Jamie menolaknya, padahal ia sudah susah payah langsung ke situ setelah menyadari bahwa ia tak diinginkan lagi di rumahnya.

“Lo jadi tempat pertama yang aku tuju, setelah¬†gue terakhir kali nginjekin kaki di rumah.”

“Dan sebaiknya jadi tempat terakhir yang lo tuju, sebelom lo balik lagi ke rumah.” Jamie memberitahu.

“I had no more reasons to stay there. My relationship just end!” Kayla mulai histeris.

“When you are having a relationship then you had no more reasons to stay, that is exactly your main reason to do it.”

Short Story #278: Rekanan

“Kamu yakin mau lepas status ini?” Aldi bertanya pada Sarah, rekanan bisnis sekaligus juga teman lama sejak kuliah.

“Iya. Share aku diduitin aja, lah.” Sarah menjawab yakin sambil melihat ke arah Aldi yang kembali melihat ke draft perjanjian jual-beli saham bisnis.

“Mau coba bisnis baru, ya?” Aldi bertanya penasaran.

“Well, sort of that.” Sarah menjawab singkat sambil memainkan anting-antingnya.

“Bisnis apa?” Aldi bertanya lagi, ia tak juga menandatangani perjanjian itu.

“Sign dulu, baru nanti aku kasitau.” Sarah memberi syarat.

“Kalo aku ga mau sign sebelum kamu kasitau, gimana?”

“Well, berarti kamu akan melewatkan bagian terbaik dalam hidupmu.” Sarah menjawab sambil tersenyum, lalu melihat ke arah horizon malam.

“Wah.. aku malah jadi makin penasaran.” Aldi berkomentar. “Apaan sih bisnismu yang baru nanti? Ayo, kasitau dong. Kasih petunjuk deh.. Keyword… keyword…”

“Keyword? Emangnya search engine?” Sarah kemudian tertawa lepas.

Ditertawakan oleh Sarah, Aldi sebal sekaligus kagum. Perempuan ini yang dulu berhasil meyakinkannya untuk memulai sebuah bisnis resto kecil yang di sekarang cukup laris.

“Aku mau berbisnis kepercayaan.” Sarah akhirnya memberitahu. Matanya menyorotkan sebuah isyarat misterius.

“Hmm…” Aldi berpikir. Ia hendak bertanya lagi, tapi yang ia lakukan kemudian justru membubuhkan tanda tangannya ke perjanjian. “Done.”

“Bagus. Duitnya jangan lupa ditransfer sesegera mungkin ya.”

“Ya, nanti aku kabarin Warda, finance kita.”

“Sip.”

“Nah, sekarang giliranmu ngasitau mau bisnis apaan sama aku. Siapa tau aku bisa jadi rekanan juga…”

Sarah diam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Bisa aja kamu jadi rekanan. Bahkan sebenernya aku emang ngarepin kamu jadi rekanan aku. Berhubung kamu udah nawarin duluan….”

Aldi menunggu dengan antusias sementara Sarah memberi jeda pada kalimatnya. Sengaja.

“Aku butuh rekanan untuk membentuk sebuah keluarga.” Sarah memberitahu.